JOMBANG (Lentera) - Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), Ketua PC NU Jombang, KH Fahmi Amrullah Hadziq (Gus Fahmi) menyampaikan harapan yang tergolong tidak biasa, agar calon terpilih nanti justru dari kalangan pengusaha.
Situasi seperti itu, menurut cucu pendiri NU KH Hasyim Asyari tersebut, sebenarnya pernah terjadi ketika NU berdiri tahun 1926.
Ketika itu yang menjabat Ketua Umum PBNU seorang saudagar bernama Haji Hasan Basri Sagipodin, yang lebh dikenal sebagai Hassan Gipo. Hassan Gipo mendampingi KH Hasyim Asyari yang menjabat Rais Akbar.
"Dulu pengurus pertama PBNU itu ketua umumnya Haji Hasan Gipo, seorang saudagar, pengusaha. Beliau rela menjual asetnya untuk menghidupi NU," kata pengasuh Pondok Putri Pesantren Tebuireng Jombang tersebut, Senin (13/4/2026).
Dengan ketua umum yang dari kalangan pengusaha, menurut Gus Fahmi, NU diharapkan bisa lebih mandiri dalam menjalankan roda organisasi.
"Sopo ngerti ono konglomerat sing gelem nguripi NU (siapa tahu ada pengusaha konglomerat yang mau menghidupi NU). Walaupun mungkin tidak begitu alim, tidak begitu bisa mengaji, tetapi yang penting bisa menghidupi NU. Ini bagi saya menarik, punya modal agar NU mandiri. Jadi tidak hanya bermodal proposal nantinya," tegas Gus Fahmi.
Di sisi lain, hal yang lebih penting dari semuanya, bagi Gus Fahmi, adalah agar muktamar yang akan datang ini benar-benar bisa memilih pengurus yang bersih.
"Menurut saya, miqat (titik tolaknya)-nya itu tanpa uang. Artinya, proses berangkatnya tanpa menggunakan uang dalam arti suap-menyuap dan sebagainya," tandas Gus Fahmi.
Muktamar ke-35 NU sendiri diperkirakan digelar awal Agustus 2026 mendatang. Lokasi muktamar kemungkinan di Pesantren Walisongo, Situbondo,
Reporter: Sutono Abdillah/Editor: Ais





.jpg)
