SURABAYA (Lentera) - Cuaca ekstrem yang melanda Jawa Timur ternyata membawa dampak buruk pada pertanian. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jawa Timur mencatat setidaknya ada 3.000 hektare lahan pertanian yang mengalami gagal panen atau puso di berbagai wilayah seperti di Pasuruan dan Bojonegoro pada Oktober 2025.
Meski demikian, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jawa Timur, Heru Suseno, mengatakan kondisi tersebut tidak berdampak pada hasil produksi padi tahun 2025. Sebab, puso terjadi saat tanaman padi telah melewati masa panen sehingga tidak mengganggu produksi. Selain itu para petani yang lahannya terdampak puso langsung diberi bantuan oleh Dinas Pertanian.
“Puso kemarin itu 3.000 hektare tapi kan tersebar, itu total di Jawa Timur. Itu kemudian sudah dipenuhi bantuan,” ujar Heru, melansir suara surabaya Selasa (13/1/2026).
Sementara, kondisi hujan yang cukup tinggi belakangan ini ternyata tidak sepenuhnya berdampak pada lahan padi. Meski terkadang banjir, namun genangan banjir itu cepat surut sehingga tidak berdampak pada tanaman secara signifikan.
“Kalau banjir, tidak semuanya melanda sawah. Ada hujan deras, besoknya sudah surut, sehingga tidak banyak mengganggu tanaman,” tuturnya..
Sementara untuk mengantisipasi masa panen yang diperkirakna terjadi pada bulan Maret dan masih berdekatan dengan prakiraan cuaca ekstrem menurut BMKG yang akan melanda Jatim hingga awal Februari 2026, maka Dinas Pertanian dan Kehatanan Pangan melakukan pendataan apabila ada puso baru akibat cuaca ekstrem.
Heru menandaskan, jika memang ditemukan adanya fuso baru, maka akan diberi bantuan berupa penggantian benih dan fasilitasi tanam ulang dengan berkoordinasi bersama Kementerian Pertanian untuk mencegah penurunan hasil produksi
“Kalau ada puso, pasti ada penggantian benih. Kami komunikasi dengan Kementerian Pertanian. Petani jangan khawatir, bisa tanam kembali,” tegasnya.
Meski begitu, Heru memprediksi hasil produksi padi pada 2026 akan meningkat berdasarkan luas tanam selama Oktober–Desember 2025 yang tercatat lebih luas dibandingkan tahun kemarin pada periode yang sama.
“Kalau kita melihat, maka tahun 2026 nanti produksinya kira-kira akan meningkat karena kita melihat bulan Oktober, November, Desember (luas tanam 2025) lebih besar dibanding tahun 2024,” ujarnya. (*)
Editor : Lutfiyu Handi





.jpg)
