02 November 2026

Get In Touch

Kenalkan Pengelolaan Beauty Waste, Alumni UK Petra Ubah Limbah Kosmetik Jadi Media Seni

Vanessa, alumni DKV UK Petra, menginisiasi Kampanye Sosial Pengelolaan Make Up Kedaluwarsa Secara Berkelanjutan untuk mengedukasi masyarakat mengenai penanganan limbah kecantikan secara aman.
Vanessa, alumni DKV UK Petra, menginisiasi Kampanye Sosial Pengelolaan Make Up Kedaluwarsa Secara Berkelanjutan untuk mengedukasi masyarakat mengenai penanganan limbah kecantikan secara aman.

SURABAYA (Lentera) – Produk kosmetik yang kedaluwarsa tidak seharusnya langsung berakhir di tempat sampah tanpa pemilahan. Kandungan bahan kimia dalam sejumlah produk kecantikan berpotensi menambah beban pencemaran lingkungan apabila dibuang sembarangan. 

Persoalan limbah kecantikan atau beauty waste inilah yang diangkat Vanessa, alumni Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Kristen (UK) Petra, melalui kampanye pengelolaan make up kedaluwarsa secara berkelanjutan.

Kampanye tersebut merupakan bagian dari tugas akhir Vanessa yang kemudian diwujudkan dalam kegiatan workshop edukatif. Melalui pendekatan seni visual, ia ingin mengenalkan cara pandang baru terhadap limbah kosmetik sekaligus mendorong masyarakat lebih bijak dalam mengelola produk kecantikan yang sudah tidak terpakai.

“Karya ini hadir untuk mengedukasi masyarakat tentang bahaya limbah kecantikan (beauty waste) dan memberi solusi nyata dalam memilah serta mengolah sisa produk kosmetik secara ramah lingkungan,” ujar Vanessa, Senin (2/11/2026).

Dalam kegiatan tersebut, Vanessa mengajak masyarakat memanfaatkan sisa kosmetik sebagai media melukis buket bunga dari kertas. Kegiatan ini dirancang secara aplikatif agar peserta tidak hanya memperoleh informasi, tetapi juga mengalami langsung proses pemanfaatan limbah kosmetik menjadi karya kreatif.

“Workshop-nya mengutamakan metode yang aplikatif agar para peserta dapat merasakan dampak langsung dan memiliki keterikatan terhadap permasalahan limbah kosmetik,” imbuhnya.

Selain workshop, Vanessa juga menggunakan sejumlah media komunikasi pendukung, seperti pouch make up, gantungan kunci akrilik, brosur, dan poster. Media tersebut dimanfaatkan untuk memperluas penyampaian pesan mengenai pentingnya pengelolaan limbah kecantikan.

Ketertarikan Vanessa terhadap persoalan kosmetik yang tidak terpakai sebenarnya berawal dari pengalaman pribadinya. Saat pandemi Covid-19, ia pernah mendonasikan sejumlah produk make up yang sudah tidak digunakan kepada perias jenazah. Langkah tersebut dilakukan agar produk yang masih dapat dimanfaatkan tidak sekadar menumpuk dan terbuang.

“Lebih karena dibuang sayang, jadi daripada menumpuk dan nggak terpakai, akhirnya aku donasikan ke perias jenazah yang lebih membutuhkan,” ungkapnya.

Namun, ketika mengembangkan tugas akhir, Vanessa melihat persoalan tersebut dari perspektif yang berbeda. Dengan bekal ilmu DKV Advertising, ia menggunakan pendekatan Design Thinking untuk merancang kampanye yang menggabungkan edukasi lingkungan dengan seni visual.

Menurut Vanessa, kosmetik memiliki potensi menjadi medium berkarya karena warna dan teksturnya dapat dimanfaatkan dalam proses kreatif. Pendekatan ini dipilih agar isu limbah kecantikan lebih mudah dipahami masyarakat melalui pengalaman langsung.

“Selain relevan dengan bidang ilmu yang aku tekuni, gagasan ini terasa makin menarik karena kosmetik dapat langsung dimanfaatkan sebagai medium berkarya tanpa perlu diolah atau diubah bentuknya secara khusus,” jelasnya.

Melalui kampanye tersebut, Vanessa ingin mengajak masyarakat lebih bertanggung jawab terhadap produk kecantikan yang digunakan. Menurutnya, kesadaran lingkungan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, termasuk memperhatikan masa pakai kosmetik, mengurangi pembelian berlebihan, serta memilah produk yang sudah tidak layak digunakan.

“Aku ingin memberi solusi praktis yang mudah diterapkan, sehingga setiap orang bisa mulai mengambil langkah kecil untuk bumi dari meja rias mereka sendiri,” pungkasnya. (*)

 

Reporter: Amanah
Editor: Lutfiyu Handi

Share:
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.