15 October 2026

Get In Touch

Indonesia Tekankan Penguatan Status Guru di Sidang UNESCO

Suasana hari ketiga Sidang ke-225 Dewan Eksekutif UNESCO di Paris, Prancis, Rabu (14/10/2026) -Ant
Suasana hari ketiga Sidang ke-225 Dewan Eksekutif UNESCO di Paris, Prancis, Rabu (14/10/2026) -Ant

JAKARTA (Lentera) -Indonesia menegaskan pentingnya pendidikan sebagai fondasi pembangunan perdamaian sekaligus perlunya penguatan profesi dan status tenaga pendidik pada hari ketiga Sidang ke-225 Dewan Eksekutif UNESCO di Paris, Prancis, Rabu.

Diplomat Kementerian Luar Negeri, Suryanita Fadhliyah, saat menyampaikan intervensi Indonesia, menegaskan bahwa pendidikan untuk perdamaian bukan konsep yang abstrak karena penduduk Indonesia hidup dalam keberagaman.

“Di negara dengan lebih dari 280 juta penduduk serta keragaman budaya, bahasa dan agama yang sangat besar, kemampuan untuk hidup bersama, menghargai perbedaan dan menyelesaikan persoalan melalui dialog merupakan bagian penting dari proses pendidikan,” kata Suryanita seperti dikutip dalam pernyataan yang dikonfirmasi di Jakarta, Kamis.

Diplomat itu menyampaikan bahwa Indonesia mengakui keterbatasan keuangan yang dihadapi UNESCO dan mendukung penggunaan struktur program yang tersedia serta kontribusi sukarela dalam pelaksanaan rekomendasi.

Namun, Indonesia menekankan bahwa kondisi tersebut tidak boleh mengurangi dukungan substantif kepada negara anggota, terutama dalam bentuk bantuan teknis, pengembangan kapasitas dan pertukaran pengetahuan.

Suryanita turut menyampaikan pendapat bahwa tantangan pendidikan perdamaian saat ini juga semakin kompleks karena ruang interaksi generasi muda tidak lagi terbatas pada sekolah dan lingkungan fisik.

“Pendidikan perdamaian hari ini juga harus berbicara tentang kewargaan digital, kemampuan menghadapi ujaran kebencian, disinformasi dan polarisasi. Karena itu, guru perlu mendapat dukungan agar mampu membangun kemampuan berpikir kritis sekaligus empati dan penghormatan terhadap perbedaan,” ucapnya.

Indonesia menyampaikan bahwa prinsip-prinsip tersebut telah tercermin dalam berbagai kebijakan nasional. Kerangka pendidikan nasional menempatkan nilai-nilai Pancasila, penghormatan terhadap keberagaman, gotong royong, tanggung jawab sosial dan kemampuan berpikir kritis sebagai bagian penting dari pembentukan peserta didik.

Selain itu, melalui program pendidikan karakter Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, anak-anak Indonesia juga diarahkan untuk membangun perilaku bertanggung jawab, kesadaran sosial dan nilai-nilai positif sejak usia dini.

Adapun pembahasan pendidikan pada Sidang Dewan Eksekutif kali ini juga berlangsung bersamaan dengan proses penting lain di UNESCO, yaitu persiapan revisi dua instrumen utama mengenai status tenaga pendidik.

Mengutip Antara, UNESCO mempersiapkan konferensi antarpemerintah khusus untuk revisi ILO/UNESCO Recommendation concerning the Status of Teachers tahun 1966. Konferensi tersebut dijadwalkan sementara berlangsung di Markas Besar UNESCO pada 12–13 Juli 2027.

Negara anggota akan membahas dan merundingkan rancangan teks revisi sebelum diajukan kepada Sidang ke-44 Konferensi Umum UNESCO pada November 2027 (*)

Editor: Arifin BH

Share:
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.