05 October 2026

Get In Touch

Bapanas Siapkan Subsidi Angkut Daging Ayam ke Daerah yang Harganya Bergejolak

Komoditas daging ayam dijajakan pedagang di pasar (Ant)
Komoditas daging ayam dijajakan pedagang di pasar (Ant)

JAKARTA (Lentera) -Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyiapkan subsidi biaya angkut daging ayam ke daerah bergejolak harga guna menjaga kewajaran harga, memperkuat distribusi, sekaligus menjamin pasokan bagi masyarakat dan peternak. 

"(Untuk) angkutan distribusi, kita bisa subsidi dari Bapanas, supaya penyerapan produksi dari tempat produsen yang lebih, bisa menyebar ke seluruh daerah," kata Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas Hermawan dikonfirmasi di Jakarta, Minggu (4/10/2026.

Komoditas daging ayam ras sepanjang September dilaporkan Badan Pusat Statistik (BPS) kembali menyumbang andil terhadap inflasi nasional. Hal itu dipengaruhi adanya peningkatan permintaan daging ayam ras didorong oleh kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di beberapa daerah dan juga faktor harga pakan ternak.

Sebagai antisipasi fluktuasi harga yang berlebihan, Bapanas menguatkan perannya untuk dapat membantu pemerintah daerah yang bukan produsen daging ayam ras dan tengah mengalami fluktuasi harga. Subsidi biaya angkut dari daerah produsen menjadi solusi yang disiapkan.

"Jadi begini, ini ada kebutuhan semakin banyak, mungkin dalam bulan-bulan terakhir terjadi kenaikan, tapi masih harga yang wajar, masih di batasnya, tidak secara keseluruhan. Di daerah pun masih banyak yang murah. Hanya tempat-tempat tertentu saja yang mungkin produsen ayamnya kurang," ujar dia.

Menurut Hermawan, salah satu kendala yang kerap dihadapi pemerintah daerah dalam upaya stabilisasi harga pangan pokok strategis adalah adanya biaya angkut distribusi dari luar daerahnya. Apalagi jika daerah tersebut bukan daerah sentra produsen.

"Bapanas memastikan mana daerah yang kurang (pasokan) akan disuplai dari daerah-daerah yang produsen. Kita anggaran masih ada," kata Hermawan, dikutip laman Antara

Mengenai perkembangan harga daging ayam sampai saat ini, dalam pemantauan harga Bapanas, per 2 Oktober 2026 rata-rata harga secara nasional berada di Rp40.961 per kilogram (kg).

"Ini sebenarnya telah terjadi penurunan 0,62 persen terhadap seminggu sebelumnya yang (mencapai) Rp41.218 per kg dan menurun 0,82 persen terhadap sebulan sebelumnya yang Rp41.300 per kg," katanya menjelaskan. 

Dilihat dari segi ketersediaannya, lanjut Hermawan, proyeksi stok daging ayam ras sampai akhir tahun 2026 masih dapat mencapai 1 juta ton.

Hal itu berdasarkan stok awal tahun 2026 yang berada di 200 ribu ton ditambahkan estimasi produksi dalam negeri setahun yang diperkirakan 4,7 juta ton. Sementara kebutuhan konsumsi nasional 3,9 juta ton.

Surplus pada daging ayam ras ini tentunya harus dijaga pemerintah secara proporsional. Keseimbangan harga mulai dari hulu sampai hilir patut dijaga kewajarannya. Intervensi di hilir seperti subsidi biaya angkut juga diiringi melalui intervensi di hulu yang menyasar ke peternak unggas.

Salah satunya melalui pelaksanaan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung pakan. Langkah itu merupakan tindak lanjut atas arahan Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman agar jajarannya dapat terus terus mengawal ketersediaan jagung pakan bagi peternak.

Sebelumnya Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menginstruksikan Perum Bulog untuk terus melayani peternak unggas yang membutuhkan jagung pakan dengan harga lebih ekonomis.

Alokasi program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung pakan bahkan ditambah sebanyak 150 ribu ton.

Program SPHP jagung pakan tahun 2026 tahap pertama telah dimulai sejak awal Mei lalu. Total kuota salur ditetapkan sebanyak 213,2 ribu ton yang terdiri dari kebutuhan jagung pakan bagi kelompok peternak skala usaha mikro, kecil, dan menengah.

Adapun realisasi salur SPHP jagung pakan per 2 Oktober telah mencapai 71,36 persen dari total target tahap pertama dan kedua yang 241,2 ribu ton.

Secara kuantitas sebanyak 172,1 ribu ton telah diakses peternak yang tersebar di 29 provinsi. Daerah dengan jumlah peternak tertinggi adalah Jawa Timur dengan 3.690 peternak dan Jawa Tengah 2.017 peternak.

Keberpihakan pemerintah terhadap ekosistem peternak unggas nasional diwujudkan melalui penambahan alokasi untuk program SPHP jagung pakan. Sebanyak 150 ribu ton resmi diproses pemerintah yang nantinya akan menambah alokasi penugasan untuk Perum Bulog (*)

Editor: Arifin BH

Share:
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.