05 October 2026

Get In Touch

Dua Gempa Besar dalam 42 Menit Guncang Aceh dan NTT Minggu Pagi, Pakar: Tak Saling Terkait

Ilustrasi gempa bumi. Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 5,2 menggetarkan wilayah selatan Kabupaten Malang, Jawa Timur, dan sekitarnya pada Senin (14/9/2026) pukul 08.42 WIB (ShutterStock)
Ilustrasi gempa bumi. Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 5,2 menggetarkan wilayah selatan Kabupaten Malang, Jawa Timur, dan sekitarnya pada Senin (14/9/2026) pukul 08.42 WIB (ShutterStock)

BANDA ACEH (Lentera) -Pagi Minggu, 4 Oktober 2026, Indonesia diguncang dua gempa bumi dengan kekuatan cukup signifikan dalam rentang waktu yang sangat berdekatan. Gempa pertama terjadi di wilayah Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan magnitudo M5,9 pada pukul 05.55.52 WIB.

Tidak berselang lama, gempa kedua mengguncang wilayah Aceh Jaya, Aceh dengan magnitudo M5,7 pada pukul 06.37.33 WIB, atau terpaut sekitar 41 menit 41 detik.

Rentetan dua gempa ini sempat menimbulkan perhatian publik karena terjadi dalam waktu yang hampir berurutan di dua wilayah berbeda Indonesia, yang sama-sama berada di zona seismik aktif.

Apakah dua gempa ini saling berkaitan?

Pakar gempa sekaligus anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menegaskan bahwa kedua gempa tersebut tidak memiliki hubungan sebab-akibat. 

Meskipun terjadi dalam waktu berdekatan, sumber gempa berada di lokasi yang terpisah ribuan kilometer dengan mekanisme tektonik yang berbeda.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa aktivitas seismik di Indonesia dapat terjadi secara independen di berbagai zona aktif tanpa saling memengaruhi secara langsung.

Apa perbedaan karakter kedua gempa tersebut?

Daryono menjelaskan bahwa gempa Sumba Barat Daya terjadi pada kedalaman sekitar 30 kilometer dan memiliki mekanisme sesar turun (normal fault).

Mekanisme ini menunjukkan adanya proses peregangan kerak bumi yang menyebabkan blok batuan bergerak turun akibat gaya tarik.

Sementara itu, gempa Aceh Jaya terjadi pada kedalaman sekitar 55 kilometer dengan mekanisme sesar naik (thrust fault).

Jenis ini berkaitan dengan proses kompresi pada zona subduksi megathrust Sumatra, di mana lempeng Indo-Australia menunjam ke bawah lempeng Eurasia.

Perbedaan mekanisme ini menegaskan bahwa kedua gempa berasal dari sistem tektonik yang berbeda, meskipun sama-sama berada dalam kawasan Cincin Api Pasifik.

Mengapa dampak guncangan berbeda meski magnitudo mirip?

Salah satu hal menarik dari dua gempa ini adalah perbedaan tingkat guncangan di permukaan. Gempa Sumba yang lebih dangkal dilaporkan menghasilkan intensitas hingga VI MMI, yang berpotensi menimbulkan kerusakan ringan dan membuat sebagian besar masyarakat merasakan guncangan kuat hingga keluar rumah.

Sementara gempa Aceh Jaya, meskipun memiliki magnitudo yang hampir setara, tercatat hanya mencapai sekitar IV MMI di beberapa wilayah, yang berarti guncangan kuat namun tidak menimbulkan dampak signifikan.

Daryono menegaskan bahwa perbedaan ini menunjukkan bahwa kekuatan guncangan di permukaan tidak hanya ditentukan oleh magnitudo semata.

"Menariknya, gempa Sumba yang lebih dangkal menghasilkan guncangan hingga VI MMI (berpotensi merusak), lebih kuat daripada Aceh yang mencapai IV MMI (hanya guncangan kuat). Ini mengingatkan bahwa kuatnya guncangan di permukaan tidak hanya ditentukan magnitude saja, tetapi juga kedalaman sumber, jarak, karakter batuan yang dilalui gelombang, dan kondisi tanah setempat," kata Daryono, dalam keterangan tertulisnya, Minggu (4/10/2026) yang dikutip Kompas.

Apa makna dua gempa berdekatan ini bagi Indonesia?

Daryono yang juga pengajar pada program Magister Manajemen Bencana Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan (SPPB) Universitas Indonesia (UI) menilai bahwa kemunculan dua gempa dalam waktu kurang dari satu jam bukanlah fenomena yang saling terkait, melainkan bagian dari dinamika tektonik Indonesia yang sangat kompleks.

Ia menambahkan bahwa Indonesia memang berada di pertemuan beberapa lempeng besar dunia, sehingga aktivitas gempa dapat terjadi di berbagai lokasi secara bersamaan atau hampir bersamaan tanpa keterkaitan langsung.

"Dua gempa dalam waktu kurang dari 42 menit ini justru menggambarkan betapa aktif dan kompleksnya tektonik Indonesia: banyak sumber gempa dapat mengakumulasi dan melepaskan energi secara independen pada waktu yang kebetulan berdekatan," jelasnya.

Fenomena dua gempa berdekatan ini menjadi pengingat bahwa Indonesia merupakan wilayah dengan tingkat aktivitas seismik yang tinggi.

Namun, masyarakat tidak perlu menganggap bahwa setiap gempa besar yang terjadi dalam waktu dekat pasti saling berkaitan (*)

Editor: Arifin BH

Share:
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.