18 September 2026

Get In Touch

Bumi Makin 'Sakit', Ilmuwan Catat Rekor Baru Gas Rumah Kaca dan Suhu

Bumi Makin 'Sakit', Ilmuwan Catat Rekor Baru Gas Rumah Kaca dan Suhu

SURABAYA ( LENTERA ) - Bayangkan Bumi sedang menjalani pemeriksaan kesehatan tahunan. Dokter memeriksa kadar gas dalam darah, suhu tubuh, kondisi organ, hingga tekanan darah. Hasilnya bukan sekadar menunjukkan satu masalah, melainkan sejumlah indikator yang sama-sama mengarah pada kondisi yang perlu diwaspadai.

Gambaran itu muncul dalam laporan State of the Climate in 2025, laporan tahunan ke-36 yang diterbitkan Bulletin of the American Meteorological Society (BAMS). Laporan tersebut menghimpun pengamatan dari daratan, lautan, wilayah es, dan satelit, dengan kontribusi 625 ilmuwan dari 60 negara. 

American Meteorological Society (AMS) menyebut laporan ini sebagai semacam pemeriksaan kesehatan tahunan terhadap sistem iklim Bumi.

Presiden AMS Alan Sealls mengatakan laporan tersebut membantu menghubungkan kondisi berbagai ekosistem melalui pengukuran dan tren penting yang dapat menjadi acuan lembaga, komunitas, dunia usaha, hingga individu dalam membuat perencanaan jangka panjang.

“State of the Climate menghubungkan kesehatan seluruh ekosistem. Laporan ini menyajikan pengukuran dan tren penting yang menjadi acuan lembaga, komunitas, bisnis, dan individu untuk perencanaan jangka panjang,” kata Sealls, dikutip dari Earth.com.

Gas rumah kaca kembali cetak rekor

Salah satu indikator yang diperiksa adalah atmosfer. Pada 2025, tiga gas rumah kaca utama, karbon dioksida (CO2), metana (CH4), dan dinitrogen oksida (N2O), kembali mencapai konsentrasi tertinggi dalam catatan pengamatan.

Konsentrasi rata-rata global CO2 mencapai 425,6 ppm, sekitar 53 persen lebih tinggi dibandingkan tingkat sebelum era industrialisasi. Data penelitian global terbaru juga mencatat konsentrasi metana mencapai 1.936,3 ppb dan N2O sebesar 339,4 ppb pada 2025.

Emisi karbon dari penggunaan bahan bakar fosil pun mencapai rekor, diperkirakan 10,3 petagram karbon per tahun. Jumlah tersebut lebih dari tiga kali lipat dibandingkan sekitar 3 petagram karbon per tahun pada 1960-an.

Sederhananya, semakin banyak gas rumah kaca terkumpul di atmosfer, semakin besar energi panas yang tertahan dalam sistem Bumi.

Panas ekstrem 

Yang membuat kondisi 2025 semakin penting adalah tingginya suhu terjadi ketika Bumi tidak berada dalam kondisi El Nino kuat.

Laporan AMS menyebut 2025 termasuk tiga tahun terpanas sepanjang catatan instrumental lebih dari 175 tahun. Bahkan, 11 tahun terpanas dalam sejarah pencatatan semuanya terjadi pada periode 2015-2025. Kondisi tersebut berlangsung ketika sebagian besar 2025 didominasi kondisi ENSO netral yang sejuk dan La Nina lemah.

Data Copernicus juga menempatkan 2025 sebagai tahun terpanas ketiga yang pernah tercatat, hanya 0,01 derajat Celsius lebih rendah dibandingkan 2023 dan 0,13 derajat lebih rendah dari 2024, yang masih menjadi tahun terpanas.

Artinya, panas ekstrem tidak dapat semata-mata dijelaskan sebagai efek sementara fenomena El Nino. Penumpukan gas rumah kaca akibat aktivitas manusia tetap menjadi faktor penting dalam tren pemanasan jangka panjang.

Laut menyimpan panas

Jika atmosfer dianalogikan sebagai salah satu organ Bumi, lautan juga menunjukkan tanda tekanan yang semakin kuat.
Laporan State of the Climate menyebut kandungan panas laut global mencapai rekor tertinggi pada 2025. Selama sekitar setengah abad terakhir, lautan telah menyerap hampir 90 persen energi berlebih yang terperangkap dalam sistem Bumi akibat gas rumah kaca dan faktor lainnya.

Suhu permukaan laut global juga berada pada tingkat sangat tinggi. Rata-rata suhu permukaan laut pada wilayah di luar kutub mencapai sekitar 20,73 derajat Celsius, atau 0,38 derajat lebih tinggi dibandingkan rata-rata 1991-2020. Angka tersebut menjadi yang tertinggi ketiga dalam catatan.

Sekitar 87 persen permukaan laut mengalami sedikitnya satu kejadian marine heatwave atau gelombang panas laut sepanjang 2025.
Dampaknya tidak berhenti di laut. Pemanasan laut berhubungan dengan ekosistem pesisir, perikanan, terumbu karang, hingga cuaca ekstrem.

Indikator lain yang tidak kalah penting adalah permukaan laut global.

Pada 2025, rata-rata permukaan laut global mencapai 111,2 milimeter di atas rata-rata 1993, ketika pengukuran satelit dimulai. Ini merupakan rekor tertinggi sekaligus tahun ke-14 berturut-turut dengan rekor permukaan laut global.

Dalam jangka panjang, pemanasan laut berkontribusi terhadap kenaikan permukaan laut. Pelelehan lapisan es dan gletser juga memperbesar volume air di lautan.

Konsekuensinya dapat dirasakan masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir, terutama ketika kenaikan muka laut bertemu dengan pasang tinggi, gelombang ekstrem, penurunan muka tanah, dan badai.

Es kutub dan gletser kehilangan massa

Kondisi wilayah es juga memberikan sinyal yang kuat.Arktik mengalami tahun terpanas kedua dalam catatan 126 tahun. Luas maksimum es laut Arktik pada 2025 menjadi yang terendah sepanjang catatan 47 tahun, sedangkan luas minimum berada di posisi terendah ke-11. Es yang berusia lebih dari empat tahun bahkan nyaris menghilang: hanya sekitar 95.000 kilometer persegi yang tersisa pada September 2025, dibandingkan sekitar 1,5 juta kilometer persegi pada dekade 1980-an.

Antarktika juga mengalami tahun terpanas sejak pencatatan dimulai pada 1979. Pelelehan permukaan terjadi di sebagian besar lapisan es, sementara es laut di sekitar benua itu tetap berada di bawah rata-rata.

Gletser daratan di berbagai belahan dunia juga terus kehilangan es untuk tahun ke-38 berturut-turut. Rata-rata kehilangan setara lebih dari satu meter air terjadi selama empat tahun berturut-turut. Sekitar 41 persen kehilangan es gletser sejak 1976 terjadi hanya dalam satu dekade terakhir.

Rekor-rekor tersebut mungkin terdengar seperti angka yang hanya penting bagi ilmuwan. Padahal, perubahan sistem iklim dapat berujung pada persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan manusia: gelombang panas, perubahan pola hujan, kekeringan, banjir, gangguan produksi pangan, tekanan terhadap sumber air, hingga risiko kesehatan.

Perkembangan pada 2026 juga memperlihatkan bahwa tren pemanasan belum berhenti. Copernicus mencatat periode 2023-2025 memiliki rata-rata suhu global lebih dari 1,5 derajat Celsius di atas tingkat praindustri untuk pertama kalinya dalam catatan tiga tahun.(far,ist/dya)

Share:
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.