SURABAYA ( LENTERA ) Bayangkan menemukan pohon di tengah hutan hujan yang tampak berdiri dengan puluhan “kaki”. Konon, pohon tersebut bahkan bisa berjalan perlahan mencari tempat yang lebih terang.
Cerita semacam itu bukan sekadar kisah dalam film fantasi. Di hutan hujan tropis Amerika Tengah dan Selatan, terdapat palem yang memang dijuluki walking palm atau “pohon berjalan”. Namanya Socratea exorrhiza.
Julukan tersebut muncul karena bentuk akarnya yang tidak biasa. Alih-alih seluruh sistem akar berada di bawah tanah, pohon ini memiliki akar tunjang atau stilt roots yang tumbuh dari bagian bawah batang dan mencuat ke atas permukaan tanah. Dari kejauhan, akar-akar tersebut terlihat seperti kaki yang menopang batang.
Namun, apakah pohon ini benar-benar bisa berpindah tempat?
Salah satu mitos yang beredar menyebut Socratea exorrhiza dapat berpindah hingga 20 meter dalam setahun. Cerita tersebut menggambarkan pohon seolah-olah mampu menumbuhkan akar baru ke arah sumber cahaya, sementara akar lama di belakangnya mati. Dengan cara itu, batangnya disebut perlahan berpindah menuju lokasi yang lebih menguntungkan.
Cerita tersebut bahkan pernah disampaikan kepada wisatawan oleh pemandu lokal. Ada pula kesaksian yang dikutip lembaga nirlaba Nature and Culture International dari paleobiolog Peter Vrsansky yang mengaku pernah melihat fenomena pohon tersebut “bergerak” di Cagar Biosfer Sumaco, Ekuador.
Dalam versi cerita itu, ketika tanah di sekitar pohon terkikis, Socratea exorrhiza disebut mampu menumbuhkan akar baru pada bagian tanah yang lebih kokoh. Batangnya kemudian perlahan berubah posisi, sementara akar lama terangkat dan akhirnya mati.
Tetapi, penelitian ilmiah memberikan gambaran berbeda.
Istilah “walking palm” telah lama muncul dalam literatur mengenai palem tropis. Penjelasan awalnya berkaitan dengan kemampuan tanaman muda menghadapi gangguan fisik di lingkungan hutan.
Dalam tulisan John H. Bodley dan Foley C. Benson pada 1980, misalnya, dijelaskan bahwa bibit Socratea exorrhiza yang tertimpa batang atau dahan pohon dapat mengembangkan akar baru di sisi lain sehingga tanaman mampu kembali menegakkan dirinya.
Kemampuan tersebut kemudian mudah ditafsirkan sebagai gerakan “berjalan”.
Bentuk akar yang menyerupai kaki semakin memperkuat kesan tersebut. Ditambah suasana hutan hujan yang gelap, lembap dan penuh vegetasi, cerita mengenai pohon yang perlahan berpindah tempat menjadi terdengar masuk akal.
Padahal, menumbuhkan akar baru tidak sama dengan memindahkan batang.
Penelitian Gerardo Avalos dan koleganya yang diterbitkan di jurnal Biotropica pada 2005 meneliti struktur akar tunjang pada Socratea exorrhiza dan palem neotropis lainnya. Studi tersebut menunjukkan bahwa sistem akar tunjang memiliki fungsi struktural dan biologis, bukan mekanisme untuk membuat batang berjalan.
Penelitian lanjutan pada 2007 oleh Gregory R. Goldsmith dan Rakan A. Zahawi memperkuat pemahaman tersebut. Mereka meneliti 80 pohon Socratea exorrhiza di dua lokasi hutan neotropis dan menemukan hubungan antara arsitektur akar tunjang dengan pertumbuhan vertikal tanaman.
Dengan kata lain, pohon tersebut memang memiliki sistem akar yang sangat dinamis, tetapi bukan berarti batangnya berjalan meninggalkan titik tumbuh awalnya.
Apa Fungsi “Kaki” Pohon Ini?
Justru di sinilah keunikan Socratea exorrhiza sebenarnya.Akar tunjang memungkinkan palem tersebut tumbuh tinggi tanpa harus memperbesar diameter batang dan mengembangkan sistem akar bawah tanah dalam proporsi yang sama.
Penelitian Goldsmith dan Zahawi menunjukkan bahwa jumlah akar, ukuran struktur akar, dan arsitektur akar tunjang berkaitan dengan kemampuan pohon melakukan pertumbuhan vertikal. Sistem tersebut membantu tanaman mempertahankan stabilitas mekanis ketika tumbuh semakin tinggi.
Strategi ini sangat berguna di hutan hujan tropis.
Di bawah kanopi hutan, cahaya menjadi sumber daya yang terbatas. Pohon-pohon harus berkompetisi untuk mendapatkan celah cahaya. Socratea exorrhiza dapat tumbuh cepat secara vertikal dan memanfaatkan celah cahaya tanpa harus terlebih dahulu membangun batang yang sangat tebal.
Peneliti menyimpulkan bahwa struktur akar tunjang tersebut kemungkinan membantu spesies ini mengeksploitasi light gaps atau celah cahaya dengan cepat.
Jadi, jika terlihat seperti memiliki “kaki”, fungsi utamanya bukan untuk membawa pohon berjalan, melainkan membantu menopang tubuh, mempertahankan stabilitas, dan mendukung strategi pertumbuhan di lingkungan hutan tropis.
Mitos mengenai kemampuan Socratea exorrhiza berpindah 20 meter per tahun memang terdengar lebih menarik daripada penjelasan tentang arsitektur akar.
Namun, fakta biologisnya tidak kalah mengagumkan.
Tanaman ini mengembangkan sistem akar yang memungkinkan batangnya tumbuh tinggi sekaligus tetap stabil. Akar tunjangnya juga berkaitan dengan strategi untuk memanfaatkan ruang dan cahaya di hutan yang sangat kompetitif.
Penelitian 2007 bahkan menunjukkan bahwa struktur akar tersebut memungkinkan pertumbuhan vertikal tanpa harus meningkatkan diameter batang dan struktur akar bawah tanah secara bersamaan. Strategi itu dapat membantu Socratea exorrhiza bertahan ketika tumbuh semakin tinggi dan memanfaatkan celah cahaya di hutan.
Karena itu, menyebutnya “pohon berjalan” boleh saja sebagai julukan populer. Tetapi secara ilmiah, tidak ada bukti kuat bahwa pohon ini benar-benar berpindah tempat sejauh 20 meter setiap tahun.
Yang terjadi jauh lebih menarik, pohon tersebut memiliki cara tersendiri untuk beradaptasi terhadap lingkungan yang terus berubah.
Jadi, jika suatu hari melihat foto Socratea exorrhiza dengan akar seperti kaki, jangan langsung membayangkan pohon sedang melangkah mencari matahari.
Ia memang tidak berjalan.Tetapi sistem akarnya menunjukkan betapa kreatifnya evolusi dalam membuat tumbuhan bertahan hidup di tengah persaingan ketat hutan hujan tropis.(far,ist/dya)





.jpg)
