16 September 2026

Get In Touch

5 Aksesori Gemas Gen Z, dari Bag Charm hingga Skirtlace

5 Aksesori Gemas Gen Z, dari Bag Charm hingga Skirtlace

SURABAYA ( LENTERA ) - Tren fashion Gen Z semakin jauh dari gaya serba minimalis. Alih-alih hanya mengandalkan pakaian, generasi yang tumbuh bersama media sosial ini menjadikan aksesori sebagai ruang berekspresi. Mulai dari boneka yang bergelantungan di tas, renda di atas celana, bandana, jepit bunga, hingga perhiasan kecil pada gigi.

Fenomena tersebut memperlihatkan bagaimana aksesori kini tidak lagi sekadar pelengkap outfit. Benda-benda kecil justru bisa menjadi penanda selera, identitas, bahkan bagian dari gaya personal pemakainya.
Dalam industri mode global, kecenderungan tersebut dikenal sebagai chaotic customization. 

Vogue Business mengutip WGSN yang mendefinisikannya sebagai personalisasi secara ekstrem atau "accessorising accessories", ketika aksesori pun kembali dihias dengan berbagai ornamen.

Tren itu antara lain terlihat dari popularitas bag charm. Vogue mencatat, aksesori berupa boneka, manik-manik, gantungan kunci, dan benda-benda unik menjadi salah satu tren tas yang menonjol sejak 2024 hingga 2025. 

Bahkan, personalisasi tas berkembang dari sekadar memasang satu gantungan menjadi menumpuk berbagai benda sekaligus.
Pada 2026, tren tersebut juga mulai merambah bagian lain dari busana. Vogue melaporkan aksesori gantung seperti keychain, tassel, dan charm mulai dikenakan di bagian pinggang atau disematkan pada belt loop. Artinya, semangat personalisasi tidak lagi berhenti pada tas.

Berikut aksesori yang bisa membuat tampilan Gen Z semakin playful dan estetik.

Bag Charm

Tas polos kini tidak harus dibiarkan polos. Gen Z bisa mengubah tampilannya dengan menambahkan bag charm berukuran besar, mulai dari boneka, photocard K-Pop, untaian manik-manik hingga miniatur benda unik.

Aksesori tersebut berfungsi sebagai statement piece sekaligus bahasa visual untuk menunjukkan identitas pemiliknya. Tas ransel, canvas tote bag, sling bag hingga tas mewah dapat diberi sentuhan yang sama.

Popularitas bag charm bahkan ikut terdorong oleh tren yang disebut "Jane Birkin-ification", merujuk pada kebiasaan menghias tas secara berlebihan seperti tas milik ikon mode Jane Birkin.

Vogue mencatat tren tersebut berkembang melalui media sosial dan kemudian masuk ke panggung mode. Miu Miu, Coach hingga Balenciaga termasuk sejumlah label yang mengeksplorasi estetika aksesori yang lebih maksimalis. Sejumlah figur publik seperti Dua Lipa juga terlihat menghias tas mewahnya dengan berbagai gantungan.

Di Australia Fashion Week 2025, bag charm juga masih menjadi aksesori yang menonjol. Salah satu yang paling banyak terlihat adalah boneka Labubu yang digantung pada tas.
Dengan kata lain, tas tidak lagi hanya dipilih berdasarkan bentuk dan mereknya. Cara menghias tas juga menjadi bagian dari gaya.

Skirtlace

Kain renda yang dulu kerap diasosiasikan dengan gaya klasik atau "jadul" kembali mendapat tempat di kalangan anak muda melalui tren skirtlace.

Caranya sederhana. Rok renda transparan bermotif mesh floral dikenakan di luar celana untuk memberikan lapisan tambahan pada outfit.

Bagi yang ingin mencobanya tanpa terlihat terlalu berlebihan, rok renda berwarna netral dapat dipadukan dengan baggy jeans atau denim. Kombinasi tersebut menghasilkan tampilan feminin tetapi tetap kasual.

Tren ini juga sejalan dengan kecenderungan mode beberapa tahun terakhir yang kembali mengeksplorasi material transparan, renda dan detail feminin. Dalam prediksi mode Fall/Winter 2026, Vogue juga melihat material sheer dan elemen yang terinspirasi lingerie masih menjadi bagian dari eksplorasi desainer besar.

Karena itu, renda tidak lagi harus identik dengan pakaian formal. Dengan styling yang tepat, material tersebut justru dapat menjadi aksen dalam pakaian sehari-hari.

Bandana

Bandana menjadi pilihan lain bagi mereka yang ingin mengubah penampilan tanpa harus mengganti keseluruhan outfit.

Kain bermotif paisley, bahan rajut hingga renda dapat digunakan di atas kepala maupun dipadukan dengan hijab. Selain praktis, bandana memberikan aksen visual yang kuat ketika digunakan untuk foto atau konten media sosial.

Gaya tersebut juga terlihat dalam penampilan sejumlah idol K-Pop. Nayeon TWICE, misalnya, pernah tampil dengan bandana yang dipadukan dengan outfit bernuansa pink, menciptakan kesan sporty sekaligus playful.
Bagi Gen Z, aksesori seperti bandana memiliki keunggulan karena mudah dilepas dan diganti. 

Satu outfit dasar dapat menghasilkan beberapa tampilan berbeda hanya dengan mengubah aksesori.

Jepit bunga

Jepit bunga mungkin dulu lebih identik dengan liburan di daerah tropis atau oleh-oleh khas Bali. Namun, media sosial mengubah persepsinya.

Aksesori berbentuk bunga kamboja maupun anggrek kini digunakan untuk membangun tampilan soft girl. Jepit tersebut dapat digunakan pada rambut untuk memberikan kesan manis dan feminin.

Kreativitas pemakainya bahkan tidak berhenti di rambut. Jepit bunga juga dapat disematkan pada tali shoulder bag atau bagian tepi hijab polos.

Tren semacam ini menunjukkan karakter utama fashion Gen Z: satu benda tidak harus digunakan sesuai fungsi awalnya. Aksesori bisa dipindahkan, dikombinasikan dan dimodifikasi untuk menciptakan gaya yang lebih personal.

Tooth gems

Jika empat aksesori sebelumnya dikenakan pada pakaian, tas atau rambut, tooth gems membawa tren personalisasi hingga ke area gigi.

Perhiasan kecil berupa kristal, bintang, kupu-kupu atau bentuk lainnya ditempelkan pada permukaan gigi sehingga terlihat ketika pemakainya tersenyum atau berbicara.

Tren ini ikut mendapat perhatian melalui budaya pop dan gaya sejumlah figur publik, termasuk penyanyi dan rapper Korea Selatan Lee Young Ji. Tooth gems memberikan kesan eksentrik sekaligus playful dan menjadi bagian dari eksplorasi penampilan yang semakin berani.

Namun, berbeda dari bag charm, bandana atau jepit bunga, tooth gems membutuhkan pertimbangan kesehatan.

American Dental Association (ADA) memperingatkan bahwa tooth gems, dental grills dan perhiasan oral dapat menjadi tempat menumpuknya plak serta sisa makanan. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko karies dan masalah gusi, selain kemungkinan kerusakan enamel atau gigi terkelupas.

ADA juga menyatakan pihaknya tidak menganjurkan praktik tooth gems atau perhiasan intraoral karena potensi dampak negatif terhadap kesehatan mulut. Jika seseorang tetap mempertimbangkannya, aspek kebersihan, prosedur yang aman dan kondisi kesehatan gigi perlu menjadi perhatian.

Lima tren tersebut memperlihatkan perubahan cara anak muda memandang fashion. Outfit tidak lagi berhenti pada pakaian yang dikenakan, tetapi juga bagaimana seseorang menambahkan detail yang dianggap merepresentasikan dirinya.

Vogue Business sebelumnya mencatat Gen Z cenderung mencari perhiasan dan aksesori yang unik, dapat dikustomisasi, memiliki nilai sentimental dan memungkinkan mereka menampilkan gaya personal.

Menariknya, tren personalisasi tersebut juga muncul di tengah kejenuhan terhadap gaya yang terlalu seragam. Agus Panzoni, komentator tren yang dikutip Vogue Business, menyebut chaotic customization sebagai salah satu bentuk respons terhadap siklus tren yang bergerak cepat dan semakin impersonal.

Di sisi lain, tren ini memiliki paradoks. Semangatnya memang tentang keunikan, tetapi ketika aksesori tertentu menjadi viral, barang yang awalnya dianggap personal dapat berubah menjadi produk massal yang digunakan banyak orang.

Karena itu, kunci mengikuti tren bukan sekadar memiliki aksesori yang sedang viral. Yang lebih penting adalah bagaimana benda tersebut dipadukan dengan pakaian dan gaya personal.

Bag charm bisa diisi dengan benda yang punya kenangan. Bandana dapat dipilih sesuai karakter. Jepit bunga bisa menjadi aksen kecil. Skirtlace dapat digunakan sebagai lapisan sederhana. Sementara untuk tooth gems, pertimbangan kesehatan seharusnya tetap menjadi prioritas.(far,ist/dya)

Share:
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.