14 September 2026

Get In Touch

Empat Bahan Kimia pada Pakaian yang Perlu Diwaspadai

Empat Bahan Kimia pada Pakaian yang Perlu Diwaspadai

SURABAYA ( LENTERA ) - Pakaian biasanya dipilih berdasarkan ukuran, bahan, warna, harga, atau apakah modelnya sedang tren. Namun ada satu hal yang jarang masuk pertimbangan: bahan kimia yang digunakan selama proses produksi tekstil.

Sejumlah bahan kimia memang sengaja digunakan agar pakaian memiliki karakter tertentu. Kain bisa dibuat lebih tahan air dan noda, tidak mudah kusut, elastis, awet, atau memiliki warna yang lebih kuat.
Persoalannya, sebagian bahan kimia yang digunakan dalam industri tekstil memiliki profil toksikologi yang membuat penggunaannya terus diawasi.

Isu ini kembali menjadi perhatian setelah Jaksa Agung Texas Ken Paxton pada April 2026 membuka penyelidikan terhadap Lululemon terkait dugaan keberadaan PFAS, kelompok bahan kimia yang dikenal sebagai forever chemicals, dalam produk activewear-nya. Penyelidikan tersebut bertujuan memeriksa apakah produk Lululemon mengandung PFAS dan apakah konsumen telah mendapat informasi yang memadai mengenai keamanan produknya.

Namun, penting dicatat: penyelidikan tersebut bukan bukti bahwa produk Lululemon terbukti mengandung PFAS atau menyebabkan kanker.
Lululemon sendiri mengatakan kepada Reuters bahwa mereka tidak menggunakan PFAS dalam produknya saat ini dan telah menghentikan penggunaannya sejak tahun fiskal 2023 setelah sebelumnya digunakan secara terbatas pada produk dengan lapisan tahan air.

Kasus tersebut justru membuka pertanyaan yang lebih luas: bahan kimia apa saja yang dapat ditemukan dalam pakaian dan kapan konsumen perlu mulai memperhatikannya?
Berikut empat kelompok bahan yang patut diketahui.

PFAS: Tahan Air dan Noda

PFAS atau per- and polyfluoroalkyl substances merupakan kelompok besar bahan kimia sintetis. Senyawa ini digunakan dalam berbagai produk karena memiliki sifat tahan terhadap air, minyak, dan noda.

Dalam industri tekstil, PFAS dapat digunakan pada material yang membutuhkan sifat water-resistant atau tahan noda.
Masalahnya, banyak PFAS sangat sulit terurai. Karena sifat persistensinya, kelompok bahan kimia ini populer disebut forever chemicals.

Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA) mencatat bahwa PFAS dapat ditemukan pada berbagai produk konsumen, termasuk pakaian dan tekstil yang diberi perlakuan agar tahan noda atau air. Paparan terhadap PFAS juga dapat terjadi melalui berbagai sumber, sehingga pakaian hanyalah salah satu kemungkinan jalur paparan.
Risikonya juga tidak dapat disamaratakan karena PFAS terdiri atas ribuan senyawa dengan karakteristik berbeda.

EPA menyebut penelitian pada sejumlah PFAS menemukan kaitan dengan berbagai dampak kesehatan, antara lain gangguan sistem imun, perubahan kadar kolesterol, efek perkembangan dan reproduksi, gangguan hormon, serta peningkatan risiko beberapa jenis kanker pada tingkat paparan tertentu. Namun, tingkat risiko bergantung pada jenis PFAS, dosis, lama dan jalur paparan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2026 juga masih melakukan penilaian terhadap bukti ilmiah mengenai PFAS dan dampaknya terhadap kesehatan. Kajian WHO mengidentifikasi sejumlah PFAS dan kategori dampak kesehatan yang perlu mendapat perhatian lebih lanjut.

Sementara itu, Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC) telah mengklasifikasikan PFOA sebagai karsinogen bagi manusia dan PFOS sebagai kemungkinan karsinogen bagi manusia. Klasifikasi ini berlaku untuk bahannya berdasarkan bukti yang tersedia, bukan berarti setiap produk tekstil yang pernah menggunakan PFAS otomatis menyebabkan kanker.

Formaldehida: Tak Mudah Kusut

Pernah membeli pakaian yang tampak sangat rapi meski baru dikeluarkan dari kemasan?
Salah satu teknologi yang digunakan industri tekstil adalah easy-care atau wrinkle-resistant. Dalam proses tertentu, formaldehida atau senyawa yang melepaskannya dapat digunakan untuk memberikan karakter tersebut pada kain.

Formaldehida bukan bahan yang hanya berkaitan dengan industri tekstil. Zat ini digunakan dalam berbagai produk dan proses industri, termasuk tekstil, perekat, resin, pelapis, dan sejumlah material rumah tangga.
EPA pada 2025 menyimpulkan formaldehida dapat menimbulkan risiko yang tidak wajar terhadap kesehatan manusia dalam kondisi penggunaan tertentu, termasuk pada konsumen dan pekerja.

Paparan formaldehida juga dikenal dapat mengiritasi kulit dan saluran pernapasan. Pada sebagian orang, kontak dengan bahan yang mengandung atau melepaskan formaldehida dapat memicu dermatitis kontak.

Tetapi sekali lagi, keberadaan bahan kimia dalam proses produksi tidak berarti setiap pakaian otomatis membahayakan pemakainya.
Risiko dipengaruhi konsentrasi, tingkat pelepasan bahan, lama kontak, kondisi penggunaan, serta karakteristik individu.
Karena itu, konsumen tidak perlu panik hanya karena membaca kata "formaldehida". Yang lebih penting adalah memahami bahwa standar produksi dan pembatasan kadar bahan kimia berfungsi mengendalikan paparan konsumen.

Pewarna Tekstil: Warna Cerah 

Pakaian berwarna-warni tentu lebih menarik. Tetapi untuk mendapatkan warna tertentu, produsen membutuhkan berbagai jenis zat pewarna.

Salah satu kelompok yang banyak mendapat perhatian adalah pewarna azo.
EPA mencatat pewarna azo merupakan kelompok senyawa organik yang banyak digunakan pada tekstil dan pakaian. Sebagian jenisnya memiliki bukti potensi mutagenik dan karsinogenik, sehingga karakter masing-masing senyawa perlu dibedakan dan tidak bisa digeneralisasi.

Dalam konteks konsumen, perhatian juga tertuju pada kemungkinan munculnya reaksi kulit akibat zat tertentu yang tersisa pada tekstil.

Artinya, masalahnya bukan pada warna merah, biru, kuning, atau hitam itu sendiri.
Yang menjadi persoalan adalah jenis zat pewarna dan bahan kimia yang digunakan untuk menghasilkan warna tersebut.

Untuk orang yang memiliki kulit sensitif, pakaian yang menimbulkan rasa gatal, kemerahan, perih, atau iritasi setelah dipakai patut diperhatikan. Reaksi tersebut tidak otomatis berarti pakaian mengandung zat karsinogenik; penyebabnya perlu dilihat secara lebih spesifik.

Phthalates: Material Plastik

Kelompok berikutnya adalah phthalates atau ftalat.

Ftalat merupakan kelompok bahan kimia yang banyak digunakan sebagai plasticizer, yakni zat yang membuat material plastik menjadi lebih lentur dan tahan lama.

Dalam dunia tekstil dan pakaian, ftalat dapat berkaitan dengan komponen berbasis plastik, lapisan, cetakan, atau material sintetis tertentu.
Sebuah tinjauan ilmiah yang terbit pada 2024 menelaah lebih dari 120 publikasi mengenai ftalat pada pakaian dan tekstil. Kajian tersebut menyoroti kekhawatiran terkait potensi gangguan sistem endokrin, toksisitas reproduksi, dan kemungkinan risiko karsinogenik dari sejumlah ftalat. 

Penelitian tersebut juga menekankan masih adanya keterbatasan dalam menentukan kadar paparan dan risiko aktual bagi konsumen.
Perkembangan terbaru juga menunjukkan bahwa isu ftalat bukan sekadar perhatian industri tekstil. 

Pada Juli 2026, IARC mengklasifikasikan tiga ftalat (BBzP, DBP, dan DINP) sebagai kemungkinan karsinogen bagi manusia atau Grup 2B. Namun, IARC juga menyatakan bukti kanker pada manusia untuk ketiganya masih belum memadai.

Ini penting untuk dipahami agar informasi tentang bahan kimia tidak berubah menjadi ketakutan yang berlebihan.

Banyak pakaian modern menggunakan serat sintetis karena memiliki fungsi yang sulit diperoleh dari serat alami. Pakaian olahraga, misalnya, membutuhkan bahan yang elastis, ringan, cepat kering, dan tahan lama.
Persoalannya bukan sekadar apakah sebuah pakaian terbuat dari polyester, nylon, atau bahan sintetis lainnya.

Yang perlu diperhatikan adalah bahan kimia tambahan, proses finishing, pewarna, pelapis, serta kadar residunya.

Sebuah kajian mengenai paparan bahan kimia melalui pakaian menunjukkan bahwa sejumlah bahan seperti formaldehida, ftalat, pewarna tertentu, dan berbagai senyawa lain memang dapat ditemukan pada tekstil. Namun, risiko kesehatan sangat bergantung pada jenis bahan, konsentrasi, cara penggunaan, dan tingkat paparannya.

Dengan kata lain, label "bahan kimia" tidak otomatis sama dengan "beracun".
Hampir semua produk modern melibatkan bahan kimia dalam proses pembuatannya. Pertanyaan yang lebih relevan adalah bahan kimia apa yang digunakan, dalam kadar berapa, seberapa banyak yang dapat berpindah dari produk ke tubuh, dan bagaimana regulasi mengendalikannya.

Cara Bijak Memilih Pakaian

Konsumen sebenarnya tidak perlu menjadi ahli toksikologi untuk lebih berhati-hati.
Pertama, untuk pakaian yang bersentuhan langsung dengan kulit, terutama pakaian dalam dan pakaian olahraga, pilih produk dari produsen yang transparan mengenai bahan dan standar pengujiannya.

Kedua, jangan tergoda klaim seperti "tahan noda", "tahan air", atau "antibakteri" tanpa mencari tahu teknologi yang digunakan. Fitur tambahan tersebut sering membutuhkan perlakuan kimia tertentu.

Ketiga, pakaian baru sebaiknya dicuci sebelum digunakan. Langkah sederhana ini tidak menjamin seluruh bahan kimia hilang, tetapi dapat membantu mengurangi residu proses produksi yang mudah terlepas dari permukaan kain.

Keempat, jika pakaian menyebabkan iritasi berulang, hentikan pemakaian dan perhatikan apakah gejala membaik. Jika keluhan menetap atau berat, pemeriksaan medis lebih tepat daripada menebak-nebak bahan kimia penyebabnya.

Dan yang paling penting, jangan langsung percaya pada klaim bahwa sebuah merek atau jenis pakaian "menyebabkan kanker" hanya karena ditemukan istilah seperti PFAS, formaldehida, atau ftalat.(far,ist/dya)
 

Share:
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.