05 September 2026

Get In Touch

Kegiatan Agustusan Dongkrak Sampah di Trenggalek, 12,75 Ton Terkumpul dari Event Alun-Alun

Sekretaris DLH Kabupaten Trenggalek, Ariyoga Widyasetyo Wahono, saat memberikan keterangan terkait peningkatan volume sampah selama rangkaian event Agustus 2026.
Sekretaris DLH Kabupaten Trenggalek, Ariyoga Widyasetyo Wahono, saat memberikan keterangan terkait peningkatan volume sampah selama rangkaian event Agustus 2026.

TRENGGALEK (Lentera) – Maraknya kegiatan masyarakat sepanjang Agustus 2026 membuat timbulan sampah di Kabupaten Trenggalek meningkat. Di kawasan Alun-Alun Trenggalek saja, berbagai event menghasilkan 12,75 ton sampah, sementara volume sampah dari Kecamatan Trenggalek yang masuk ke TPA Srabah naik 78,465 ton dibandingkan bulan sebelumnya.

Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Trenggalek, Ariyoga Widyasetyo Wahono, menyebut peningkatan tersebut tidak terlepas dari padatnya aktivitas masyarakat selama Agustus. Berbagai agenda peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia dan Hari Jadi ke-832 Trenggalek turut berkontribusi terhadap bertambahnya sampah.

"Ketika aktivitas masyarakat meningkat karena banyaknya event, timbulan sampah juga ikut bertambah. Kondisi seperti ini memang terlihat dari volume sampah yang masuk ke TPA selama Agustus," ujar Ariyoga.

Data DLH menunjukkan, sampah dari Kecamatan Trenggalek yang diterima TPA Srabah pada Juni tercatat 798,925 ton. Pada Juli, volumenya turun tipis menjadi 796,665 ton. Namun, pada Agustus angkanya melonjak hingga 875,130 ton.

Kenaikan tersebut mencapai 78,465 ton jika dibandingkan dengan volume sampah pada Juli. Peningkatan ini berlangsung bersamaan dengan banyaknya kegiatan yang digelar di berbagai lokasi selama bulan kemerdekaan sekaligus rangkaian Hari Jadi Trenggalek.

Untuk kegiatan di kawasan Alun-Alun Trenggalek, kontribusi terbesar berasal dari dua agenda. Karnaval dan parade drumband menghasilkan sekitar 5,44 ton sampah, sedangkan Pasar Rakyat yang berlangsung selama 12 hari menghasilkan 7,31 ton.

"Kalau khusus event yang berada di kawasan alun-alun dan sekitarnya, akumulasinya selama Agustus mencapai 12,75 ton sampah," kata Ariyoga.

Dari jumlah tersebut, DLH masih menemukan material yang dapat dimanfaatkan kembali. Setelah dilakukan pemilahan, sekitar 2,21 ton sampah berhasil dipisahkan sebagai Material Daur Ulang (MDU). Sedangkan sekitar 9,24 ton lainnya menjadi sampah residu yang harus dibawa ke landfill TPA.

Menurut Ariyoga, pemilahan material daur ulang tersebut saat ini belum dilakukan langsung di lokasi kegiatan. Sampah masih dikumpulkan terlebih dahulu dan diangkut ke TPA Srabah untuk kemudian dipilah.

"Material yang masih memiliki potensi untuk didaur ulang dari total sampah tersebut sekitar 2,21 ton. Saat ini proses pemisahannya masih dilakukan setelah sampah tiba di TPA Srabah," jelasnya.

DLH menilai pola tersebut perlu diperbaiki karena pemilahan akan lebih efektif apabila dilakukan sejak sampah dihasilkan. Dengan pemisahan di sumber, material yang memiliki nilai ekonomi tidak bercampur dengan sampah residu sehingga lebih mudah dimanfaatkan.

Dalam pelaksanaan karnaval dan parade drumband, Ariyoga mengapresiasi kebijakan penyelenggara yang meminta setiap peserta bertanggung jawab terhadap sampah masing-masing. Namun, penerapan tersebut belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan karena sampah dari penonton masih banyak ditemukan setelah kegiatan selesai.

"Peserta sudah diarahkan untuk menangani sampah yang mereka hasilkan sendiri. Yang masih menjadi pekerjaan rumah adalah sampah yang ditinggalkan oleh penonton selama kegiatan berlangsung," ungkapnya.

Petugas DLH kemudian melakukan pembersihan di lokasi dengan mengumpulkan sampah yang tercecer. Setelah seluruh sampah terkumpul, material tersebut diangkut ke TPA Srabah untuk dipilah.

"Untuk mempercepat penanganan di lapangan, sampah kami kumpulkan terlebih dahulu, kemudian dibawa ke TPA agar proses pemilahannya dapat dilakukan di sana," imbuh Ariyoga.

Ke depan, DLH Kabupaten Trenggalek ingin mendorong sistem pemilahan yang dilakukan langsung di lokasi event. Langkah ini diharapkan mampu mengurangi jumlah sampah residu sekaligus meningkatkan material yang dapat didaur ulang atau memiliki nilai ekonomi.

Upaya tersebut juga akan diarahkan melalui keterlibatan penyelenggara acara, event organizer (EO), pelaku UMKM, hingga konsumen. DLH menilai pengelolaan sampah dalam sebuah kegiatan tidak seharusnya hanya menjadi tanggung jawab petugas kebersihan.

Ariyoga mengatakan, EO perlu mulai memasukkan pengelolaan sampah sebagai bagian dari penyelenggaraan acara. Pelaku UMKM juga diharapkan dapat memilah sampah dari aktivitas usahanya, sementara konsumen didorong ikut bertanggung jawab atas sampah dari produk yang dibeli.

"Ke depan, kami ingin pengelolaan sampah sudah menjadi bagian dari konsep acara. EO dapat mengarahkan UMKM untuk melakukan pemilahan dan mengajak konsumen ikut bertanggung jawab terhadap sampah yang muncul dari produk yang mereka beli," pungkasnya. (*)

 

 

Reporter: Herlambang
Editor : Lutfiyu Handi

Share:
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.