SURABAYA ( LENTERA ) - Wacana penggunaan tepung atau bubuk berbahan ubi untuk membantu menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi perhatian. Gagasan tersebut muncul di tengah upaya pemerintah mencari alternatif penanganan karhutla yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia.
Namun, apakah tepung ubi benar-benar dapat memadamkan api? Sejumlah penelitian akademik ternyata telah menguji pemanfaatan limbah kulit singkong sebagai bahan pemadam maupun penghambat api. Hasilnya menunjukkan potensi yang menjanjikan, meski masih memiliki batasan.
Salah satu penelitian dilakukan Vereline Abigael Widayat dan tim dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Malang. Dalam riset berjudul "Inovasi Pemadam Api dari Kulit Singkong untuk Menunjang Keamanan Proses Produksi di UMKM Lumpia Jeng Nenny", peneliti mengembangkan alat bernama SIPAR atau Singkong APAR.
Uji coba dilakukan pada 21 September 2024 di Dusun Krajan, Sukorejo, Pasuruan. Inovasi tersebut ditujukan untuk membantu pelaku UMKM menghadapi risiko kebakaran, terutama karena aktivitas produksi menggunakan kompor dan minyak panas secara terus-menerus.
Bahan dasarnya adalah limbah kulit singkong. Kulit dikupas, kemudian dikeringkan di bawah sinar matahari dengan alas terpal. Setelah benar-benar kering, kulit digiling hingga menjadi bubuk halus. Bubuk tersebut selanjutnya dimasukkan ke tabung APAR dan diberi gas hidrogen dengan tekanan 10-15 bar.
Dalam demonstrasi, SIPAR digunakan untuk menyemprot sumber api di area produksi. Hasil evaluasi menyebut alat tersebut mampu memadamkan api berskala kecil dalam hitungan detik. Peneliti juga menilai inovasi itu ramah lingkungan dan berpotensi menekan biaya pengadaan APAR bagi UMKM.
Meski demikian, efektivitas SIPAR untuk kebakaran dengan skala lebih besar masih membutuhkan pengujian lanjutan. Artinya, keberhasilan pada titik api kecil belum dapat langsung disamakan dengan kemampuan menghadapi karhutla.
Penelitian lain justru memberikan gambaran lebih terukur mengenai keterbatasan bubuk kulit singkong. Studi berjudul "Pemanfaatan Limbah Kulit Singkong Sebagai Komplementer Dry Chemical Powder APAR" dilakukan Rais Abdillah Elvandi dari Sekolah Vokasi IPB University pada Juli-Agustus 2024 di Kampus Gunung Gede, Bogor.
Dalam eksperimen tersebut, kulit singkong dicuci, dikeringkan menggunakan oven bersuhu 150 derajat Celsius, lalu digiling menjadi bubuk. Bahan kemudian dimasukkan ke tabung berkapasitas 3 kilogram dan diberi tekanan nitrogen sebelum disemprotkan pada api yang membakar kertas di dalam tong.
Hasilnya cukup kontras. Serbuk singkong murni sebanyak 3 kilogram tidak berhasil memadamkan api meski disemprotkan selama 95 detik. Sebagai pembanding, 3 kilogram serbuk kimia murni mampu memadamkan api hanya dalam 18 detik.
Campuran dengan komposisi sama, yakni 1,5 kilogram bubuk singkong dan 1,5 kilogram bahan kimia, juga belum efektif. Api masih bertahan setelah penyemprotan selama 54 detik.
Formulasi berbeda memberikan hasil lebih baik. Campuran dua bagian bubuk singkong dan satu bagian bahan kimia kering—masing-masing 2 kilogram dan 1 kilogram—menjadi formulasi paling efektif. Api dapat dipadamkan dalam 15 detik pada area 0,1272 meter kubik.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa bubuk singkong lebih menjanjikan ketika digunakan sebagai material komplementer, bukan semata-mata pengganti bahan pemadam kimia.
Potensi kulit singkong ternyata tidak hanya untuk memadamkan api, tetapi juga mencegah material terbakar lebih cepat. Hal itu diuji dalam penelitian "Pengujian Tripotassium Sitrat dan Asam Sitrat Sebagai Fire Retardant Pada Kain Gorden" oleh Dewi Kurniasih dan tim dari Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya.
Dalam penelitian itu, potongan kain gorden direndam dalam larutan tripotassium sitrat yang berasal dari kulit ubi kayu serta asam sitrat dengan sejumlah konsentrasi. Setelah dikeringkan, kain dibakar menggunakan api lilin selama sekitar 15 detik.
Tripotassium sitrat membentuk lapisan relatif tebal dan membantu memperlambat proses penyalaan. Area kain yang terbakar berada pada kisaran 17,54-23,85 persen.
Sementara itu, asam sitrat menghasilkan lapisan lebih tipis yang berperan memperlambat fase awal pertumbuhan api.
Dampaknya, area yang terbakar jauh lebih kecil, yakni sekitar 1,75-7,08 persen.
Peneliti menemukan kombinasi kedua bahan tersebut memberikan perlindungan lebih baik. Formulasi dengan kandungan tripotassium sitrat sedikit lebih dominan dinilai menghasilkan ketahanan terhadap api yang paling kuat.
Ketiga penelitian itu memperlihatkan bahwa limbah kulit singkong memiliki kandungan yang berpotensi dimanfaatkan dalam teknologi pengendalian api. Material tersebut dapat diolah menjadi bubuk pengisi APAR, bahan campuran dry chemical powder, maupun larutan pelapis untuk memperlambat penyalaan material.
Namun, ada satu catatan penting. Penelitian-penelitian tersebut dilakukan pada kondisi dan skala terbatas. Karena itu, hasilnya belum dapat menjadi bukti bahwa tepung ubi mampu menggantikan teknologi pemadaman untuk kebakaran besar, terlebih karhutla yang melibatkan area luas, angin, vegetasi kering, dan kondisi lahan yang kompleks.
Dalam konteks karhutla, teknologi pemadaman juga tidak hanya ditentukan kemampuan satu bahan memutus nyala api. Kecepatan respons, kondisi cuaca, akses menuju lokasi, karakter vegetasi, kadar air lahan, hingga kemampuan mencegah api kembali menyala menjadi faktor yang sama pentingnya.
Dengan demikian, tepung atau bubuk kulit singkong lebih tepat dilihat sebagai bahan alternatif yang potensial dan masih perlu pengembangan, bukan sebagai solusi tunggal untuk memadamkan karhutla.
Temuan akademik tersebut setidaknya menunjukkan bahwa limbah pertanian yang selama ini dianggap tidak bernilai dapat dikembangkan menjadi bagian dari inovasi pengendalian kebakaran. Tantangannya kini adalah membuktikan apakah teknologi tersebut dapat bekerja secara konsisten, aman, dan efektif ketika diterapkan di lapangan dengan skala yang jauh lebih besar.(far,ist/dya)





.jpg)
