JOMBANG (Lentera) – Pengurus Wilayah Gerakan Pemuda (PW GP) Ansor Jawa Timur mengusulkan agar Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) mendatang digelar di kawasan hutan wisata atau kawasan kehutanan. Gagasan ini dinilai dapat menciptakan suasana permusyawaratan yang lebih teduh, terbuka, sekaligus mempersempit ruang terjadinya transaksi politik dan pengondisian peserta.
Usulan tersebut disampaikan Ketua Departemen Pemanfaatan Hutan Bidang Kehutanan PW GP Ansor Jawa Timur, H. Misbakhul Munir, S.Hut., dalam diskusi tentang kehutanan sosial yang digagas PW GP Ansor Jawa Timur di Jombang, Jumat (28/8/2026) malam.
“Kenapa Muktamar NU berikutnya tidak kita coba selenggarakan di hutan wisata? Misalnya di kawasan Perhutani seperti Coban Rondo di Malang atau Tanjung Papuma di Jember,” ujar Munir dalam keterangan resminya Sabtu (29/8/2026).
Menurutnya, pemilihan lokasi memiliki pengaruh terhadap atmosfer sebuah forum. Lingkungan yang terbuka dan alami diyakini dapat menghadirkan suasana berbeda dalam proses musyawarah sekaligus memberi ruang interaksi yang lebih luas bagi para muktamirin.
“Kita membutuhkan Muktamar yang udaranya segar sekaligus suasana permusyawaratannya tidak pengap,” katanya.
Munir mengatakan, desain penyelenggaraan Muktamar perlu terus dievaluasi agar para muktamirin memiliki ruang yang cukup untuk berinteraksi, berdialog, serta menentukan pilihan secara bebas.
Ia menilai, konsentrasi peserta di lokasi-lokasi tertentu berpotensi menciptakan ruang eksklusif yang dapat memengaruhi dinamika sebelum persidangan berlangsung.
“Muktamar harus menjadi ruang bagi lahirnya keputusan melalui musyawarah. Para muktamirin perlu memiliki kebebasan untuk berdialog dan menentukan sikap tanpa tekanan maupun pengondisian,” ujarnya.
Karena itu, penyelenggaraan di kawasan terbuka dapat menjadi salah satu alternatif untuk memperkecil peluang terjadinya transaksi politik, mobilisasi kepentingan, maupun pola pengumpulan peserta di lokasi tertentu.
“Kita perlu menciptakan desain Muktamar yang memperbesar ruang dialog dan mempersempit ruang transaksi,” tegasnya.
Munir membayangkan Muktamar NU dengan model berbeda, yakni ribuan kiai, ulama, santri dan muktamirin berkumpul di tengah kawasan hijau untuk bermusyawarah dalam suasana yang lebih tenang.
Selain mengikuti agenda organisasi, peserta juga dapat menikmati lingkungan alam dan berinteraksi dengan masyarakat sekitar.
“Bayangkan para muktamirin bermusyawarah di tengah hutan. Pagi menikmati udara segar, siang berdiskusi tentang masa depan NU, dan pada waktu senggang mereka bisa berjalan di alam. Ada suasana batin yang berbeda,” tuturnya.
Menurut Munir, suasana tersebut juga dapat menjadi bagian dari tadabbur alam. Muktamar tidak hanya menjadi momentum konsolidasi organisasi, tetapi sekaligus ruang refleksi mengenai perjalanan dan masa depan NU.
“Mungkin kita perlu membawa tradisi Muktamar lebih dekat kepada alam. Hutan mengajarkan keteduhan, keseimbangan, keberagaman dan kehidupan yang saling menopang. Nilai-nilai itu sangat dekat dengan spirit NU,” katanya.Gagasan penyelenggaraan Muktamar di kawasan hutan, lanjut Munir, juga dapat dikembangkan sejalan dengan agenda kehutanan sosial dan ekowisata.
Kehadiran ribuan peserta dari berbagai daerah dinilai berpotensi memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar melalui UMKM, kuliner, transportasi, homestay, produk pertanian, kerajinan hingga jasa wisata.
“Muktamar dapat menjadi ruang yang mempertemukan kepentingan organisasi dengan pemberdayaan masyarakat. Kehadiran ribuan muktamirin harus meninggalkan manfaat bagi masyarakat sekitar,” ujarnya.
Ia menyebut Coban Rondo di Malang dan Tanjung Papuma di Jember sebagai contoh kawasan yang dapat dikaji. Namun, penentuan lokasi tetap harus mempertimbangkan daya dukung lingkungan, aksesibilitas, keamanan, serta kesiapan infrastruktur.
“Yang terpenting bukan sekadar memindahkan lokasi Muktamar ke hutan, tetapi bagaimana menciptakan tradisi permusyawaratan yang lebih teduh, terbuka, dan memberikan ruang lebih besar bagi muktamirin untuk bermusyawarah secara merdeka,” pungkasnya. (*)
Reporter: Amanah
Editor: Lutfiyu Handi





.jpg)
