TRENGGALEK (Lentera) – Di tengah ramainya peserta lain yang sibuk menampilkan kreativitas dalam Pawai Seni Budaya HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Kecamatan Pule, Kabupaten Trenggalek, siswa SD Negeri 2 Puyung justru membawa misi berbeda. Puluhan siswa yang tergabung dalam Pasukan Semut SDAYU menyusuri rute pawai sambil memungut dan memilah sampah, menjadikan perayaan kemerdekaan sekaligus sebagai pembelajaran peduli lingkungan.
Dengan membawa poster kampanye kebersihan, para siswa bergerak di bagian belakang rombongan utama. Setiap menemukan sampah yang tercecer di sepanjang jalan, mereka langsung memungutnya dan memisahkan berdasarkan jenisnya.
Kegiatan tersebut menjadi bentuk pembelajaran di luar kelas yang diberikan SD Negeri 2 Puyung. Para siswa diajak melihat secara langsung persoalan sampah sekaligus memahami bahwa menjaga kebersihan merupakan tanggung jawab yang dapat dimulai dari tindakan sederhana.
Kepala SD Negeri 2 Puyung, Arif Wibowo, mengatakan konsep Pasukan Semut sengaja dihadirkan agar kegiatan pawai tidak hanya berorientasi pada pertunjukan.
"Anak-anak ingin kami libatkan dalam kegiatan yang tidak hanya menampilkan seni, tetapi juga memberikan pengalaman nyata tentang bagaimana mereka menjaga lingkungan di tengah masyarakat," ujar Arif.
Menurutnya, pengalaman langsung akan membuat pesan tentang kepedulian lingkungan lebih mudah dipahami siswa. Mereka dapat melihat sendiri kondisi lingkungan, kemudian mengambil tindakan terhadap sampah yang ditemukan.
"Ketika mereka berhadapan langsung dengan sampah, kemudian mengambil dan memilahnya, proses tersebut menjadi pengalaman yang lebih nyata daripada hanya mendapatkan penjelasan di dalam kelas," katanya.
Dalam pawai tersebut, kontingen SDAYU terbagi dalam dua kelompok. Rombongan utama menampilkan Kraton Sdayu Bhuwana dengan sejumlah karakter, mulai dari maskot, pengawal, dayang hingga Ratu Sdayu Bhuwana.
Sementara Pasukan Semut ditempatkan di bagian belakang untuk menjalankan misi kebersihan sepanjang perjalanan.
"Posisi Pasukan Semut memang kami tempatkan di belakang rombongan utama supaya mereka bisa sekaligus membersihkan sampah yang tertinggal di sepanjang jalur pawai," jelas Arif.
Tidak hanya mengumpulkan sampah, para siswa juga diajarkan memilah sampah organik dan anorganik. Sampah yang masih memiliki nilai guna maupun nilai ekonomi tidak langsung dibuang, melainkan dikumpulkan untuk dikelola lebih lanjut oleh pihak sekolah.
"Kami ingin anak-anak memahami bahwa sampah yang sudah dipilah masih bisa memiliki manfaat. Karena itu, sampah yang memiliki nilai ekonomi akan kami kumpulkan untuk dikelola kembali," ungkap Arif.
Ia berharap pengalaman tersebut tidak berhenti sebagai aktivitas selama pawai. Kebiasaan sederhana seperti membuang, memungut, dan memilah sampah diharapkan dapat menjadi bagian dari keseharian siswa.
"Yang paling penting adalah kebiasaan itu bisa mereka bawa setelah pawai selesai, baik ketika berada di sekolah, di rumah, maupun saat berada di lingkungan masyarakat," tuturnya.
Aksi tersebut mendapat apresiasi dari Camat Pule, Budi Supriyanto. Menurutnya, apa yang dilakukan siswa SDN 2 Puyung menunjukkan bahwa pendidikan lingkungan dapat ditanamkan melalui berbagai kegiatan, termasuk momentum perayaan kemerdekaan.
"Kegiatan Pasukan Semut ini merupakan contoh bagaimana anak-anak bisa belajar peduli terhadap lingkungan melalui praktik secara langsung. Kami tentu memberikan apresiasi atas inisiatif tersebut," kata Budi.
Ia menilai kebiasaan memilah sampah sejak usia sekolah penting untuk membangun kesadaran lingkungan dalam jangka panjang. Terlebih, gerakan tersebut sejalan dengan upaya pemerintah daerah dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah.
"Apa yang dilakukan SDAYU mendukung gerakan pemerintah daerah dalam membangun budaya pengelolaan sampah sejak dari sumbernya, termasuk semangat program Sangu Sampah yang digagas Bupati Trenggalek," ujarnya.
Bagi SDN 2 Puyung, Pasukan Semut menjadi bagian dari upaya sekolah menggabungkan kegiatan pendidikan karakter dengan aktivitas di tengah masyarakat. Siswa tidak hanya diajak tampil dalam sebuah pawai, tetapi juga diberi tanggung jawab untuk meninggalkan lingkungan dalam kondisi lebih bersih.
Arif mengatakan, perubahan perilaku tidak harus dimulai dari tindakan besar. Menurutnya, kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten justru dapat menjadi dasar terbentuknya kepedulian terhadap lingkungan.
"Kami ingin menanamkan kepada anak-anak bahwa menjaga lingkungan bisa dimulai dari hal yang sangat sederhana, bahkan hanya dengan mengambil satu sampah yang mereka lihat di jalan," pungkasnya.
Aksi Pasukan Semut akhirnya menjadi pesan tersendiri dalam kemeriahan Pawai Seni Budaya Kecamatan Pule. Jika peserta lain menjadikan jalanan sebagai panggung untuk menampilkan seni dan budaya, siswa SDN 2 Puyung menjadikannya sebagai ruang belajar untuk mempraktikkan kepedulian terhadap lingkungan.
Reporter: Herlambang|Editor: Arifin BH





.jpg)
