SURABAYA (Lentera)– Satu konten digital dapat memunculkan beragam persepsi meski dilihat oleh jutaan orang. Perbedaan pengalaman dan cara seseorang memaknai informasi di ruang digital inilah yang menjadi perhatian Prof. Drs. Gatut Priyowidodo, M.Si., Ph.D., melalui metode riset yang diperkenalkannya, Phenomenography Digital.
Metode tersebut diperkenalkan Prof. Gatut dalam orasi ilmiahnya setelah resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar pertama bidang Ilmu Komunikasi Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya.
Secara sederhana, Phenomenography Digital digunakan untuk memahami keberagaman pengalaman dan cara pandang manusia ketika berhadapan dengan fenomena di ruang digital.
Satu konten viral, misalnya, dapat dipahami secara berbeda oleh setiap orang karena dipengaruhi pengalaman, pengetahuan, nilai, hingga keyakinan masing-masing.
Menurut Prof. Gatut, pendekatan tersebut menjadi semakin relevan ketika masyarakat memasuki era post-truth digital. Pada kondisi ini, batas antara fakta dan opini dapat semakin kabur. Informasi yang belum tentu benar bahkan berpotensi dipercaya sebagai kebenaran ketika terus-menerus disebarkan dan diperkuat oleh subjektivitas maupun keyakinan pribadi.
“Kita tengah berada di era Post-Truth digital, sebuah masa di mana batasan antara fakta dan opini menjadi kabur. Sesuatu yang tidak benar bisa dianggap sebagai kebenaran mutlak, hanya karena disebarkan secara terus-menerus dan didorong oleh subjektivitas atau keyakinan pribadi,” jelas Prof. Gatut, Jumat (28/8/2026).
Fenomena tersebut juga dekat dengan kehidupan generasi Z yang menjadikan ruang digital sebagai salah satu tempat utama untuk memperoleh informasi dan berdiskusi. Beragam isu hadir dalam ruang yang sama, mulai dari politik, program Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga budaya populer seperti drama Korea, drama China, musik, dan olahraga padel.
Melalui Phenomenography Digital, pengalaman pengguna dalam merespons berbagai fenomena tersebut dapat dipetakan. Tujuannya bukan sekadar mengetahui apa yang sedang viral, tetapi memahami mengapa orang memiliki pengalaman dan pemaknaan yang berbeda terhadap fenomena yang sama.
Pendekatan ini juga dapat diterapkan untuk mengkaji persoalan yang lebih luas, termasuk layanan publik berbasis digital. Salah satunya adalah mengevaluasi citizen experience atau pengalaman masyarakat ketika menggunakan sistem Coretax milik Kementerian Keuangan RI.
"Dengan demikian, riset komunikasi digital tidak berhenti pada pengamatan terhadap perilaku pengguna media sosial, tetapi dapat memberikan masukan untuk memperbaiki layanan, memahami kebutuhan masyarakat, sekaligus membangun komunikasi publik yang lebih efektif," tuturnya.
Prof. Gatut yang telah menulis lebih dari 10 buku di bidang komunikasi mengatakan, ketertarikannya terhadap dunia akademik dan riset tidak terlepas dari lingkungan keluarga yang dekat dengan dunia pendidikan serta kebiasaan membaca yang telah tumbuh sejak kecil.
Selain aktif mengajar dan menulis, ia juga dipercaya sebagai Asesor Beban Kinerja Dosen dari LLDIKTI sejak 2016 hingga sekarang. Prof. Gatut telah menjadi dosen di UK Petra sejak 2006.
Di tengah tantangan disinformasi, Prof. Gatut menilai upaya membangun ekosistem informasi yang sehat membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Menurutnya, terdapat setidaknya tiga langkah penting yang perlu dilakukan.
Pertama, memperkuat literasi digital secara masif dan berkelanjutan agar masyarakat memiliki kesadaran serta kemampuan untuk memilah informasi yang benar. Kedua, media massa perlu kembali menjalankan fungsi utamanya dengan memproduksi berita yang objektif dan dapat dipertanggungjawabkan.
"Ketiga, diperlukan kolaborasi dengan Kementerian Komunikasi dan Digital untuk membangun ekosistem informasi yang lebih sehat," ungkapnya.
Ia menekankan, keberadaan metode penelitian baru tidak berarti setiap fenomena digital otomatis harus diteliti dengan pendekatan tersebut. Peneliti tetap harus mempertimbangkan karakteristik persoalan dan tujuan penelitian secara kritis.
“Jangan mentang-mentang objeknya digital langsung dianggap cocok pakai Phenomenography Digital. Kita harus tetap kritis menyaring informasi viral, fokus memahami keberagaman cara pandang orang, dan terus menggalinya hingga tuntas ke akar masalah agar tidak mudah tertipu oleh riuhnya persepsi semu di dunia maya,” kata Prof. Gatut.
Pesan tersebut sekaligus menjadi refleksi atas tantangan komunikasi di tengah derasnya arus informasi. "Di era ketika setiap orang dapat menjadi konsumen sekaligus produsen informasi, kemampuan untuk berhenti sejenak, memeriksa fakta, dan memahami perspektif orang lain menjadi semakin penting," tuturnya.
Sementara itu, Rektor UK Petra Prof. Dr.(H.C.) Ir. Rolly Intan, M.A.Sc., Dr.Eng, mengatakan, menjadi guru besar semata sebagai pencapaian akademik, melainkan sebagai tanggung jawab untuk terus belajar, mengembangkan ilmu, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Menjadi profesor bukan sekadar tentang gelar, tapi tentang tanggung jawab untuk terus belajar, membagikan ilmu, dan membentuk manusia. Terlebih dalam Ilmu Komunikasi, ketika orang semakin mudah berbicara namun sulit mendengarkan, ilmu komunikasi harus hadir untuk membangun pemahaman, menjembatani perbedaan, dan menghadirkan perubahan,” ujarnya.
Dengan dikukuhkannya Prof. Gatut, jumlah Guru Besar yang aktif mengajar di UK Petra kini mencapai 17 orang. Kehadiran guru besar diharapkan tidak hanya memperkuat tradisi akademik dan riset, tetapi juga mendorong lahirnya ilmu pengetahuan yang mampu menjawab persoalan nyata di tengah perubahan masyarakat.
Reporter: Amanah|Editor: Arifin BH





.jpg)
