30 August 2026

Get In Touch

Tak Cukup Bermodal IPK, Lulusan Unusa Diminta Kuasai Skill dan Literasi Keuangan

Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Prof. Tri Yogi Yuwono.
Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Prof. Tri Yogi Yuwono.

SURABAYA (Lentera) – Dunia kerja yang semakin dinamis menuntut lulusan perguruan tinggi memiliki bekal lebih dari sekadar nilai akademik. Kemampuan berkomunikasi, berpikir kritis, beradaptasi, bekerja dalam tim, hingga mengelola keuangan menjadi keterampilan yang dinilai penting agar lulusan mampu bertahan dan berkembang di dunia profesional.

Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Prof. Tri Yogi Yuwono, mengatakan indeks prestasi kumulatif (IPK) tinggi memang menjadi salah satu modal bagi lulusan ketika memasuki dunia kerja. Namun, capaian akademik perlu dilengkapi dengan job readiness skill atau keterampilan kesiapan kerja.

Pesan tersebut disampaikan Tri Yogi saat memberikan pembekalan kepada calon wisudawan periode September 2026 di Kampus B Unusa, Kamis (27/8/2026). Pembekalan bertema “Financial Literacy & Job Readiness Skill” tersebut merupakan kolaborasi Unusa dengan KADIN Jawa Timur, KADIN Institute, dan Plan International Indonesia.

Menurutnya, perkembangan teknologi, kecerdasan buatan (AI), dan otomatisasi membuat perubahan di dunia kerja berlangsung semakin cepat. Kondisi itu membuat lulusan harus memiliki kemampuan untuk terus belajar dan menyesuaikan diri.

“IPK yang tinggi hanya akan mengantarkan kalian sampai ke meja wawancara kerja. Namun, job readiness skill atau kesiapan kerja yang menentukan apakah kalian akan diterima, bertahan, dan sukses mendaki puncak karier,” ujarnya.

Ia menjelaskan, dunia usaha dan industri membutuhkan lulusan yang tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu berkomunikasi secara profesional, berpikir kritis, beradaptasi dengan perubahan, dan bekerja dalam tim multidisiplin.

Karena itu, pembekalan menjelang wisuda menjadi salah satu upaya untuk menjembatani kompetensi akademik yang diperoleh mahasiswa selama perkuliahan dengan kebutuhan nyata di dunia kerja.

“Manfaatkan pembekalan ini untuk menjembatani teori yang kalian dapat di kelas dengan realitas dunia kerja yang dinamis,” pesannya.

Selain kesiapan kerja, Tri Yogi menilai literasi keuangan menjadi kemampuan penting yang perlu dikuasai lulusan ketika mulai memasuki kehidupan profesional.

Menurutnya, memperoleh pekerjaan dan penghasilan tidak secara otomatis membuat seseorang memiliki kondisi finansial yang sehat. Tantangan justru dapat muncul ketika generasi muda mulai memiliki penghasilan sendiri, sementara berbagai kemudahan transaksi digital dan gaya hidup konsumtif semakin mudah diakses.

Kemudahan penggunaan paylater, pinjaman daring, serta gaya hidup yang terbentuk melalui media sosial, kata Tri Yogi, perlu disikapi secara bijak agar tidak menimbulkan persoalan keuangan di kemudian hari.

“Literasi keuangan bukan tentang seberapa besar uang yang berhasil kalian hasilkan, melainkan seberapa bijak dan bertanggung jawab kalian mengalokasikannya,” katanya.

Karena itu, ia mengingatkan calon wisudawan untuk mulai membangun kebiasaan finansial yang sehat sejak menerima penghasilan pertama. Di antaranya dengan mendahulukan kebutuhan daripada keinginan, menyisihkan pendapatan untuk tabungan, menyiapkan dana darurat, serta mengalokasikan sebagian penghasilan untuk hal-hal produktif.

Menurutnya, kemampuan mengelola pendapatan merupakan bagian dari proses membangun kemandirian ekonomi. Lulusan juga perlu memahami bahwa peningkatan penghasilan harus diikuti dengan kemampuan mengatur keuangan secara bertanggung jawab.

Di tengah tuntutan kompetensi dan literasi keuangan, Tri Yogi mengingatkan calon wisudawan agar tidak meninggalkan karakter dan nilai kemanusiaan. Ia meminta lulusan Unusa tetap membawa nilai yang diperoleh selama menjalani pendidikan di kampus, seperti integritas, adab, sopan santun, empati, solidaritas, dan sikap menghormati sesama.

“Industri akan menghormati kalian bukan hanya karena kalian cakap bekerja, tetapi karena kalian adalah manusia yang berintegritas dan beradab mulia,” tegasnya.

Tri Yogi mengatakan keberhasilan lulusan tidak semestinya hanya diukur dari jabatan atau besarnya pendapatan. Lulusan Unusa diharapkan mampu memberikan manfaat bagi lingkungan kerja, keluarga, maupun masyarakat.

Nilai tersebut juga dinilai semakin penting di tengah tingginya interaksi masyarakat di ruang digital. Kemampuan profesional harus berjalan beriringan dengan empati dan tanggung jawab, termasuk ketika menggunakan media sosial.

Ia pun berpesan agar para calon wisudawan menjaga nama baik almamater melalui prestasi dan perilaku ketika memasuki dunia profesional.

Tri Yogi mengapresiasi keterlibatan KADIN Jawa Timur, KADIN Institute, dan Plan International Indonesia dalam pembekalan tersebut. 

Menurutnya, kolaborasi dengan dunia usaha dan organisasi yang memiliki pengalaman dalam pengembangan generasi muda diperlukan agar perguruan tinggi dapat terus menyesuaikan pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja.

Pembekalan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan menjelang wisuda, tetapi menjadi bagian dari upaya mempersiapkan lulusan agar memiliki kompetensi, kesiapan kerja, kecakapan finansial, dan karakter yang kuat. “Universitas tidak ingin melepas kalian ke masyarakat tanpa bekal yang matang,” tutupnya. (*)

 

Reporter: Amanah
Editor: Lutfiyu Handi

 

Share:
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.