30 August 2026

Get In Touch

Masuk Dunia Kuliah Bisa Bikin Kaget, Psikolog Untag Surabaya Bagikan Cara Beradaptasi

Wakil Rektor I Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Dr. Rr. Amanda Pasca Rini, M.Si., Psikolog.
Wakil Rektor I Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Dr. Rr. Amanda Pasca Rini, M.Si., Psikolog.

SURABAYA (Lentera) — Memasuki perguruan tinggi menjadi fase transisi yang tidak selalu mudah bagi mahasiswa baru. Perubahan sistem pembelajaran, tuntutan kemandirian, lingkungan pertemanan, hingga kebiasaan sehari-hari dapat memunculkan culture shock, terutama bagi mahasiswa yang harus beradaptasi dengan lingkungan baru yang berbeda dari daerah asalnya.

Wakil Rektor I Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Dr. Rr. Amanda Pasca Rini, M.Si., Psikolog, menjelaskan masa peralihan dari sekolah menuju perguruan tinggi membutuhkan proses adaptasi. Mahasiswa tidak lagi berada dalam pola belajar yang sama seperti ketika menjadi siswa, sehingga dituntut lebih aktif dan mandiri dalam menjalani kehidupan akademik.

Menurutnya, culture shock dapat muncul ketika seseorang menghadapi lingkungan, kebiasaan, maupun pola interaksi yang berbeda dari apa yang selama ini dikenalnya. Pada mahasiswa baru, kondisi tersebut dapat semakin terasa ketika mereka harus tinggal jauh dari keluarga atau berasal dari daerah dengan karakter budaya yang berbeda.

“Ketika memasuki perguruan tinggi, mahasiswa akan menemukan banyak hal yang berbeda dibandingkan saat masih menjadi siswa. Mereka dituntut untuk lebih mandiri, mampu mengatur waktu, mengambil keputusan, serta bertanggung jawab terhadap proses belajarnya sendiri. Perubahan tersebut sangat mungkin membuat mahasiswa baru merasa kaget atau tidak nyaman pada awal masa perkuliahan,” jelasnya, Kamis (27/8/2026).

Amanda menyebut sejumlah respons yang dapat muncul selama proses adaptasi. Di antaranya merasa bingung, cemas, kurang percaya diri, kesulitan membangun pertemanan, hingga rindu terhadap rumah atau homesick. Perasaan tersebut, kata dia, pada dasarnya merupakan bagian dari proses penyesuaian selama tidak berlangsung secara berlebihan dan tidak sampai mengganggu aktivitas sehari-hari maupun perkuliahan.

Karena itu, mahasiswa baru tidak perlu terburu-buru menyimpulkan bahwa rasa tidak nyaman merupakan tanda salah memilih jurusan atau kampus. Mahasiswa perlu memberikan waktu kepada dirinya untuk mengenali lingkungan, membangun relasi, serta memahami pola belajar yang baru.

“Jangan langsung menganggap bahwa ketika merasa tidak nyaman berarti salah memilih jurusan atau kampus. Berikan kesempatan kepada diri sendiri untuk beradaptasi dan mengenal lingkungan baru secara bertahap,” ujarnya.

Menurut Amanda, proses adaptasi dapat dimulai dari langkah sederhana. Mahasiswa dapat mengenali lingkungan kampus, berkomunikasi dengan teman dan dosen, mengikuti kegiatan kemahasiswaan, serta membuat pengaturan waktu yang realistis antara kuliah, organisasi, istirahat, dan aktivitas pribadi.

Kehadiran lingkungan sosial juga menjadi salah satu faktor penting dalam membantu mahasiswa melewati masa transisi. Relasi dengan teman sebaya maupun kakak tingkat dapat menjadi ruang untuk bertukar pengalaman sehingga mahasiswa baru tidak merasa menghadapi perubahan tersebut sendirian.

Untuk mendukung proses adaptasi tersebut, Untag Surabaya menyiapkan rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) dengan pendekatan yang ramah dan interaktif. Sambutan kepada mahasiswa baru tidak hanya dilakukan oleh sivitas akademika, tetapi juga melibatkan berbagai unsur kampus, mulai dari petugas keamanan, juru parkir, dosen, hingga kakak tingkat.

Berbagai kegiatan dalam PKKMB dikemas melalui permainan, aktivitas kelompok, serta tugas yang mendorong kerja sama dan membangun kepercayaan diri. Pendekatan tersebut diharapkan membuat mahasiswa baru lebih cepat mengenal lingkungan kampus sekaligus membangun koneksi dengan teman-teman barunya.

Selain kegiatan orientasi, Untag Surabaya menyediakan berbagai fasilitas dan layanan untuk mendukung kebutuhan akademik maupun pengembangan diri mahasiswa. Mahasiswa dapat menyalurkan minat dan bakat melalui puluhan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), mendapatkan pendampingan dari dosen wali, serta memanfaatkan lingkungan kampus yang ramah bagi penyandang disabilitas.

Untag Surabaya juga menyediakan layanan Pusat Layanan Pencegahan dan Penanganan Kekerasan serta Pusat Layanan Psikologi. Kedua layanan tersebut dapat dimanfaatkan mahasiswa secara gratis sebagai bagian dari upaya menciptakan lingkungan kampus yang aman dan mendukung kesejahteraan mahasiswa.

Amanda menekankan, meminta bantuan ketika mengalami kesulitan beradaptasi bukan merupakan tanda kelemahan. Justru, kemampuan mengenali kondisi diri dan mencari dukungan menjadi bagian penting dari proses menjadi pribadi yang lebih mandiri.

"Dengan dukungan dari lingkungan kampus, teman sebaya, dosen, serta keluarga, mahasiswa baru diharapkan dapat menjalani masa transisi secara bertahap," tutupnya. (*)

 

Reporter: Amanah
Editor: Lutfiyu Handi

 

Share:
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.