Bupati Nganjuk Dorong Mahasiswa Hukum UNESA Berani Bermimpi dan Siap Hadapi Kompetisi Global
SURABAYA (Lentera)– Menjadi mahasiswa hukum di tengah perkembangan teknologi dan kompetisi global tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan akademik. Mahasiswa juga dituntut memiliki keberanian untuk mencoba, kemampuan menghadapi kegagalan, integritas, serta kecakapan beradaptasi dengan perubahan.
Pesan tersebut disampaikan Bupati Nganjuk sekaligus Ketua Harian Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Dr. Drs. H. Marhaen Djumadi, A.Md., S.E., S.H., M.M., M.B.A., saat menjadi narasumber dalam hari kedua Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Fakultas Hukum UNESA.
Mengusung tema “Growth Mindset & Keberanian Bermimpi: Membangun Mentalitas Juang Mahasiswa Hukum di Era Kompetisi Global”, pembekalan tersebut diikuti ratusan mahasiswa baru Fakultas Hukum UNESA yang tergabung dalam Baskara Muda 2026.
Menurut Marhaen, kehidupan kampus harus dimanfaatkan mahasiswa sebagai ruang untuk mengembangkan potensi, membangun karakter, sekaligus menemukan identitas dan arah masa depan.
“Semua hal bisa dibeli dengan uang, kecuali satu hal: semangat. Perkuliahan di UNESA ini hadir untuk membongkar DNA unggul serta melepaskan potensi terbaik yang ada di dalam diri kalian,” tuturnya, dikutip Minggu (23/8/2026).
Empat Keberanian yang Perlu Dimiliki Mahasiswa
Marhaen menekankan bahwa mahasiswa hukum membutuhkan mentalitas petarung. Sebab, dunia profesi hukum tidak hanya membutuhkan orang yang cerdas secara akademik, tetapi juga pribadi yang memiliki integritas, daya tahan mental, kemampuan berkomunikasi, dan kecerdasan emosional.
Ia kemudian memperkenalkan empat prinsip keberanian yang dapat menjadi bekal mahasiswa dalam menjalani proses pendidikan maupun menghadapi dunia profesional.
Pertama, berani bermimpi, yakni menjadikan cita-cita sebagai gambaran atau cetak biru masa depan. Kedua, berani mencoba, dengan mengambil langkah nyata untuk mewujudkan tujuan.
Ketiga, berani gagal. Bagi Marhaen, kegagalan bukan alasan untuk berhenti, melainkan bagian dari proses belajar dan evaluasi. Keempat, berani sukses, yang diwujudkan melalui konsistensi, kedisiplinan, dan komitmen untuk terus bergerak hingga mencapai tujuan.
Pesan tersebut juga disampaikan berdasarkan pengalaman hidupnya. Marhaen menceritakan perjalanan kariernya yang berawal dari cita-cita menjadi guru sekolah dasar, melewati berbagai dinamika kehidupan dan kegagalan dalam kontestasi politik, hingga akhirnya dipercaya memimpin Kabupaten Nganjuk.
Ia juga membagikan pengalaman perjuangannya memperoleh beasiswa pendidikan. Pengalaman tersebut kemudian menjadi salah satu alasan dirinya mendorong hadirnya program beasiswa bagi masyarakat di Kabupaten Nganjuk.
“Jangan takut memiliki mimpi besar. Yang terpenting adalah berani memulai, mau belajar dari kegagalan, dan konsisten memperjuangkannya,” pesannya kepada mahasiswa.
Mahasiswa Hukum Harus Melek Teknologi dan Lintas Disiplin
Dalam menghadapi perubahan dunia kerja, Marhaen mengingatkan mahasiswa hukum agar tidak membatasi diri hanya pada teori dan praktik hukum konvensional.
Perkembangan teknologi digital membuat persoalan hukum semakin kompleks dan bersinggungan dengan berbagai bidang, mulai dari ekonomi, bisnis, psikologi hingga kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Ia mencontohkan sejumlah persoalan yang kini membutuhkan pemahaman hukum sekaligus literasi teknologi, seperti kejahatan siber, judi online, keamanan data, hingga pembuktian berbasis bukti digital.
Karena itu, mahasiswa hukum perlu membangun added value melalui kemampuan komunikasi, kerja sama tim, kemampuan berpikir kritis, adaptasi teknologi, serta kejujuran dan integritas.
“Mahasiswa hukum harus memiliki kemampuan lebih. Jangan hanya memahami hukum, tetapi juga pahami perkembangan masyarakat dan teknologi yang melahirkan persoalan-persoalan hukum baru,” ujarnya.
Keberanian Dibangun dari Kebiasaan Membaca dan Bertanya
Sesi pembekalan berlangsung interaktif. Sejumlah mahasiswa menyampaikan pertanyaan terkait kecemasan berbicara di depan publik, keterbatasan ekonomi, hingga kesetaraan kesempatan bagi penyandang disabilitas.
Menanggapi persoalan tersebut, Marhaen mengatakan keberanian tidak muncul secara instan. Keberanian perlu dibangun melalui proses, termasuk dengan memperbanyak membaca, berdiskusi, bertanya, dan berani menyampaikan pendapat.
Menurutnya, mahasiswa tidak perlu menunggu menjadi sempurna untuk mulai berkarya. Justru proses mencoba dan berinteraksi dengan lingkungan menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan diri.
Marhaen juga menegaskan pentingnya prinsip inklusivitas dalam kehidupan sosial maupun sektor publik. Setiap warga negara, termasuk penyandang disabilitas, memiliki kesempatan yang sama untuk berkarya dan memberikan kontribusi.
“Setiap individu memiliki hak yang sama untuk berkarya dan mengabdi di pemerintahan, termasuk rekan-rekan penyandang disabilitas. Tidak boleh ada keterbatasan yang memadamkan mimpi,” tegasnya.
Pembekalan kemudian ditutup dengan penyerahan sertifikat penghargaan dan cinderamata oleh Dekan Fakultas Hukum UNESA kepada Marhaen Djumadi. Kegiatan dilanjutkan dengan foto bersama jajaran pimpinan Fakultas Hukum UNESA dan mahasiswa baru Baskara Muda 2026.
Bagi mahasiswa baru, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa perjalanan pendidikan hukum bukan semata tentang meraih gelar akademik. Lebih dari itu, kampus menjadi tempat membangun karakter, keberanian, kompetensi, dan kesiapan untuk menghadapi persoalan hukum yang terus berkembang di era global. (ADV)
Repoprter: Amanah|Editor: Arifin BH





.jpg)
