21 August 2026

Get In Touch

Lestarikan Kesenian Topeng Malang, Pemprov Jatim Apresiasi 13 Pelaku Seni

Pemilik sanggar Setyo Utomo, Budi Utomo, memainkan satu set gamelan pemberian Pemprov Jatim, Gedung Kesenian Krida Budaya Jatim, Kota Malang, Kamis (20/8/2026). (Santi/Lentera)
Pemilik sanggar Setyo Utomo, Budi Utomo, memainkan satu set gamelan pemberian Pemprov Jatim, Gedung Kesenian Krida Budaya Jatim, Kota Malang, Kamis (20/8/2026). (Santi/Lentera)

MALANG (Lentera) - Pemerintah Provinsi Jawa Timur memberikan apresiasi kepada 13 pelaku pelestari kesenian asli Jawa Timur, khususnya pelaku seni Topeng Malang.

Apresiasi tersebut menjadi bentuk perhatian Pemprov Jatim, terhadap keberlangsungan kesenian tradisional yang dinilai membutuhkan ruang untuk terus berkembang dan diwariskan kepada generasi muda.

"Ini adalah bentuk kepedulian Ibu Gubernur terhadap para pelaku pelestari kesenian, khususnya pelestari Topeng Malang," ujar Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jawa Timur, Evy Afianasari, ditemui di Taman Krida Budaya Jatim, Soekarno-Hatta, Kota Malang, Kamis (20/8/2026).

Menurutnya, sebelum pemberian apresiasi dilakukan, Disbudpar Jatim terlebih dahulu melakukan kurasi terhadap sanggar maupun pelaku seni yang dinilai aktif dalam menjaga keberlangsungan kesenian Topeng Malang.

Evy menjelaskan, Topeng Malang menjadi salah satu kesenian yang mendapat perhatian karena berdasarkan catatan Disbudpar Jatim pada 2024, kesenian tersebut masuk dalam kategori yang hampir punah. "Pelakunya masih banyak, tapi tidak ada panggung. Tidak ada wadah untuk mereka beraktivitas," jelasnya.

Kondisi tersebut kemudian mendorong Pemprov Jatim untuk melakukan upaya aktivasi kembali kesenian Topeng Malang sejak 2024. Upaya tersebut, menurut Evy, mulai menunjukkan hasil dengan meningkatnya aktivitas dan minat masyarakat terhadap pertunjukan Topeng Malang di wilayah Malang Raya.

Selain menghidupkan kembali ruang pertunjukan, perhatian juga diberikan terhadap kebutuhan sarana dan prasarana sanggar. Salah satunya melalui pemberian satu set gamelan kepada Sanggar Setyo Utomo di Desa Pulungdowo, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang.

Evy menyebut, pemberian gamelan tersebut berawal dari adanya proposal permohonan bantuan yang diajukan kepada Pemprov Jatim. Setelah melalui proses kurasi, sanggar tersebut dinilai masih memiliki keterbatasan sarana dan prasarana, namun mempunyai komitmen kuat dalam melestarikan kesenian tradisional.

Ditambahkannya, apresiasi dari Gubernur Jatim sebelumnya telah diberikan kepada sekitar 1.000 seniman. Namun, kegiatan kali ini secara khusus ditujukan bagi pelaku pelestari seni Topeng Malang. "Karena yang aktif ikut melestarikan adalah 13 sanggar, jadi hanya untuk 13 sanggar ini yang diputuskan untuk menerima apresiasi," jelasnya.

Sementara itu, pemilik Sanggar Setyo Utomo, Budi Utomo mengatakan bantuan satu set gamelan tersebut menjadi tambahan semangat bagi sanggarnya dalam melestarikan Wayang Topeng Malang, terutama dalam mendorong keterlibatan generasi muda.

Menurutnya, keberadaan gamelan dapat menjadi sarana bagi anak-anak muda untuk berkumpul sekaligus belajar kesenian tradisional secara lebih serius.

Selama ini, keterbatasan sarana tidak menyurutkan langkah Sanggar Setyo Utomo untuk tetap berkesenian. Budi mengatakan sejumlah perangkat gamelan seperti saron, laras, demung hingga kempul dibuat secara mandiri.

"Selama ini gamelan itu buat sendiri. Saron, laras, demung, kempul, itu buat sendiri. Pejuang dari nol, modal dengkul," ungkapnya.

Tak hanya perangkat gamelan, kebutuhan lain untuk pertunjukan juga diupayakan secara mandiri. Budi mengatakan topeng dan kostum yang digunakan dalam pertunjukan turut dibuat sendiri oleh sanggar.

"Topengnya buat sendiri, kostumnya juga buat sendiri. Semua buat sendiri," ujarnya.

Sanggar Setyo Utomo telah berdiri sejak tahun 2000, saat ini sekitar 50 orang bergabung dan terlibat dalam aktivitas sanggar.

Budi mengatakan, perkembangan jumlah anggota membuat proses belajar dan pelestarian kesenian menjadi semakin terbuka. Para anggota dapat saling mengisi dan berbagi pengetahuan dalam mempelajari Wayang Topeng Malang.

Komitmen Budi terhadap kesenian Topeng Malang juga telah berlangsung jauh sebelum Sanggar Setyo Utomo berdiri. Ia mengaku mulai mempelajari tari topeng sejak 1970.

Kini, dengan adanya dukungan sarana dan perhatian pemerintah, ia berharap Wayang Topeng Malang tidak hanya bertahan sebagai kesenian tradisional, tetapi juga semakin dikenal dan dibanggakan oleh generasi muda.


Reporter: Santi Wahyu/Editor: Ais

Share:
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.