22 July 2026

Get In Touch

Implan Otak Komersial Pertama di Dunia Dilakukan China

Implan Otak Komersial Pertama di Dunia Dilakukan China

SURABAYA ( LENTERA ) - Peta persaingan teknologi dunia kini memasuki babak baru yang semakin intensif, bergeser dari sekadar penguasaan kecerdasan buatan konvensional menuju integrasi langsung antara mesin dan otak manusia. Langkah agresif China dalam melegalkan penggunaan komersial perangkat brain-computer interface (BCI) tidak hanya memicu lompatan besar dalam dunia medis, tetapi juga secara resmi menyalut sumbu kompetisi neuroteknologi tingkat tinggi melawan dominasi korporasi barat.

Keberhasilan Borui Kang Medical Technology (Neuracle) menanamkan perangkat Neural Electronic Opportunity (NEO) pada pasien lumpuh menandai era baru pemanfaatan teknologi invasif di luar uji klinis laboratorium. Melalui izin resmi dari regulator nasional China (NMPA), perangkat berukuran koin dengan delapan elektroda ini membuktikan keandalannya dalam menerjemahkan sinyal listrik dari korteks otak menjadi perintah motorik pada sarung tangan robotik. 

Pencapaian ini menempatkan Tiongkok satu langkah di depan Neuralink milik Elon Musk, yang meskipun telah sukses melakukan uji klinis pada manusia sejak 2024, masih harus tertahan di koridor regulasi FDA sebelum bisa menjangkau pasar komersial secara legal.

Bagi Beijing, akselerasi neuroteknologi ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari cetak biru strategis yang tertuang dalam rencana pembangunan lima tahunan negara tersebut. Menempatkan teknologi antarmuka otak sejajar dengan komutasi kuantum dan robotika berbasis AI menegaskan ambisi Tiongkok untuk memimpin ekosistem industri masa depan. 

Respons global pun mulai terlihat dengan lahirnya World Artificial Intelligence Cooperation Organization yang didirikan atas inisiatif China, di mana kekuatan ekonomi berkembang seperti Indonesia turut bergabung sebagai anggota pendiri untuk mengamankan posisi dalam peta adopsi AI dunia.

Di sisi lain, lanskap kompetisi global ini juga memicu pendekatan alternatif yang lebih aman dan minim risiko. Raksasa teknologi Amerika Serikat seperti Meta memilih jalur non-invasif lewat pengembangan sistem Brain2Qwerty yang memanfaatkan large language model (LLM) untuk mengubah aktivitas otak menjadi teks tanpa perlu meja operasi. 

Sementara itu, variasi inovasi juga lahir dari pemanfaatan teknologi electromyography (EMG) seperti yang diaplikasikan pada tangan prostetik bionik besutan BrainCo. Keragaman pendekatan ini menegaskan bahwa perebutan takhta teknologi masa depan tidak lagi hanya terjadi di ruang siber, melainkan langsung pada jaringan saraf manusia.(far,ist/dya)

--
 Perkembangan Teknologi Implan Otak (invasif/ bedah maupun non-invasif/tanpa bedah)

Neuralink (Amerika Serikat) – Uji Klinis Invasif Pertama
Karakteristik: Menanamkan cip otak (Telepathy) langsung ke dalam jaringan korteks menggunakan bantuan robot bedah khusus.
Fungsi: Mengirimkan sinyal otak secara nirkabel untuk mengendalikan perangkat digital seperti kursor komputer atau ponsel pintar hanya dengan pikiran.
Status: Sukses melakukan uji klinis pada manusia sejak 2024 dan telah melibatkan puluhan sukarelawan, namun masih menunggu izin edar komersial penuh dari FDA (Food and Drug Administration) AS.

Synchron (Amerika Serikat) – Implan Endovaskular (Minimal Invasif)
Karakteristik: Memasang perangkat BCI bernama Stentrode tanpa membedah tengkorak kepala, melainkan dimasukkan melalui pembuluh darah di leher menuju pembuluh darah utama di otak.
Fungsi: Menangkap sinyal motorik dari dalam pembuluh darah untuk membantu pasien kelumpuhan mengetik, mengirim email, atau berbelanja online.
Kelebihan: Jauh lebih aman dibanding bedah saraf terbuka karena minim risiko infeksi atau kerusakan jaringan otak.

Brain2Qwerty oleh Meta – Pendekatan Non-Invasif Berbasis LLM
Karakteristik: Menggunakan perangkat pemindai luar (seperti penutup kepala khusus) tanpa melalui proses operasi sama sekali.
Fungsi: Menggabungkan pemindaian aktivitas otak dengan kecerdasan buatan berbasis Large Language Model (LLM) untuk langsung menerjemahkan gelombang otak menjadi teks tertulis secara instan.
Target: Ditujukan untuk membantu komunikasi penderita penyakit neurodegeneratif seperti ALS (Amyotrophic Lateral Sclerosis) yang kehilangan kemampuan berbicara.

BrainCo – Prostetik Bionik Berbasis Sinyal Otot (EMG)
Karakteristik: Menggunakan teknologi Electromyography (EMG) yang dikombinasikan dengan kecerdasan buatan (AI) pada anggota gerak buatan.
Fungsi: Alih-alih menanam cip di otak, teknologi ini membaca sinyal listrik yang dikirimkan oleh otak ke sisa otot di bagian tubuh yang terputus (misalnya lengan), lalu mengubahnya menjadi gerakan jari-jari robotik yang presisi.

Blackrock Neurotech (AS) – Pelopor Utah Array
Karakteristik: Menggunakan susunan mikro-elektroda kaku (Utah Array) yang telah diuji pada manusia selama lebih dari satu dekade dalam lingkungan laboratorium.
Fungsi: Mampu membaca sinyal otak dengan tingkat detail yang sangat tinggi, memungkinkan pasien mengendalikan lengan robotik untuk makan secara mandiri atau merasakan sensasi sentuhan buatan.

Share:
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.