21 July 2026

Get In Touch

China Dekati Ambisi Menyalakan Matahari Buatan

China Dekati Ambisi Menyalakan Matahari Buatan

SURABAYA ( LENTERA ) - Ambisi umat manusia untuk menjinakkan energi bintang kini bukan lagi sekadar narasi fiksi ilmiah yang jauh dari kenyataan. China terus melesat memimpin perlombaan global dalam mewujudkan reaktor fusi nuklir komersial yang mereka gadang-gadang sebagai 'matahari buatan'. Target besar pun kini terpampang nyata di depan mata: memproduksi aliran listrik pertama dari reaktor fusi pada tahun 2030. 

Melalui proyek ambisius Experimental Advanced Superconducting Tokamak (EAST), lembaga riset negara tersebut baru saja menuntaskan tonggak sejarah krusial setelah dua magnet superkonduktor buatan dalam negeri berhasil lulus uji teknis dan uji beban penuh. Keberhasilan ini tidak sekadar membuktikan lompatan rekayasa teknik lokal, melainkan juga memicu pergeseran geopolitik teknologi energi bersih global secara masif.

Keberhasilan uji beban penuh pada komponen inti tersebut sekaligus menandai lokalisasi total dari seluruh teknologi utama penyusun proyek matahari buatan. Enam tahun lalu, Institute of Plasma Physics di bawah naungan Chinese Academy of Sciences (ASIPP) menerima mandat berat dengan dua target utama yang sangat menantang: melompatkan performa reaktor dan memangkas biaya produksi serendah mungkin.  

Para ilmuwan setempat tidak hanya berhasil membangun rantai pasokan domestik yang mandiri, tetapi juga meruntuhkan harga material superkonduktor secara drastis dari 400 yuan menjadi hanya 100 yuan per meter. Langkah efisiensi biaya ini meretas jalan bagi komersialisasi energi fusi yang selama ini dinilai terlampau mahal dan membakar anggaran negara secara masif.

Secara teknis, lompatan kapasitas reaktor baru ini terletak pada skala dan volume penyimpanan energi yang masif. Para insinyur China berhasil menaikkan bobot satu kumparan magnet superkonduktor secara radikal dari 350 ton menjadi 580 ton. 

Peningkatan bobot dan dimensi ini otomatis memberikan ruang bagi reaktor untuk beroperasi pada tingkat energi dan tekanan plasma yang jauh lebih tinggi. 

Kendati demikian, otoritas peneliti mengingatkan publik bahwa pencapaian ini baru mencakup 80 persen dari keseluruhan peta jalan proyek. Tantangan raksasa berikutnya kini menanti di depan mata, yakni menguji stabilitas jangka panjang dan masa pakai kumparan superkonduktor tersebut di bawah siklus operasi ekstrem bertekanan tinggi.

Akselerasi China dalam merajai teknologi fusi nuklir komersial memang terus mencetak rekor yang mencengangkan dunia internasional. Pada Januari 2025, reaktor EAST berhasil mempertahankan kestabilan suhu plasma sebesar 100 juta derajat Celcius selama 1.066 detik. Durasi tersebut menjadi pembuktian bahwa manusia mulai mampu mengendalikan plasma panas dalam waktu yang cukup lama.

Di tengah skeptisisme global mengenai tingkat kerumitan teknologi fusi, para ilmuwan meyakini bahwa secercah cahaya di ujung terowongan kini mulai benderang.

Pemanfaatan fusi nuklir tidak hanya menawarkan pasokan energi bersih tanpa emisi karbon, melainkan juga menyediakan sumber daya listrik yang stabil demi menopang pertumbuhan peradaban manusia pada masa mendatang.(far,ist/dya)

Poin-poin Pencapaian Teknologi EAST untuk Grafis

Target Pasokan Listrik Komersial Pertama pada 2030

China mematok target ambisius untuk mendemonstrasikan aliran listrik pertama hasil fusi nuklir komersial pada tahun 2030.

Kelulusan Uji Teknis Dua Magnet Superkonduktor Utama

Komponen inti reaktor fusi EAST buatan domestik berhasil menuntaskan uji penerimaan teknis serta uji beban penuh secara sempurna.

Kemandirian Rantai Pasok dan Pemangkasan Biaya hingga 75%

China sukses melokalisasi seluruh peralatan produksi dan memangkas harga material superkonduktor dari 400 yuan menjadi 100 yuan per meter.

Lompatan Skala Kumparan Raksasa Menjadi 580 Ton

Insinyur menaikkan bobot kumparan secara masif dari 350 ton menjadi 580 ton guna menopang operasi reaktor pada tingkat energi yang jauh lebih tinggi.

Rekor Dunia Mempertahankan Suhu Plasma Eksotis

Reaktor matahari buatan berhasil mempertahankan suhu plasma ekstrem sebesar 100 juta derajat Celcius selama 1.066 detik berturut-turut.(*)
 

Share:
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.