13 June 2026

Get In Touch

Feel the Emotion, Ruang Ekspresi Baru Gen Z Lewat Musik dan Visual

Pameran Feel the Emotion di Universitas Ciputra Surabaya.
Pameran Feel the Emotion di Universitas Ciputra Surabaya.

SURABAYA (Lentera) - Mahasiswa semester 2 Program Studi Visual Communication Design (VCD) Universitas Ciputra (UC) Surabaya menggelar pameran bertajuk Feel the Emotion: Of the Sound, Image, & Synesthesia.

Pameran yang digelar di Copreneur Universitas Ciputra tersebut menampilkan puluhan karya mahasiswa yang berangkat dari empat lagu orisinal hasil ciptaan mereka sendiri. Tidak hanya menciptakan musik dan menulis lirik, para mahasiswa juga mengembangkan identitas visual yang mengekspresikan pesan, suasana, dan emosi dari lagu-lagu tersebut melalui media seperti album cover, poster, fotografi, ilustrasi, hingga sistem identitas visual yang saling terintegrasi.

Dosen Visual Communication Design Universitas Ciputra, Pandu R. Utomo, menjelaskan proyek ini dirancang untuk memperluas pemahaman mahasiswa mengenai peran desain dalam membangun pengalaman manusia yang lebih utuh.

"Desain yang baik tidak hanya dinikmati oleh mata. Desain mampu menjangkau pancaindra lain, berinteraksi dengan bunyi, sentuhan, rasa manusia, menciptakan kesan, menggelitik pikiran, sekaligus mengolah emosi. Melalui proyek ini mahasiswa belajar bagaimana sebuah pengalaman dapat diterjemahkan menjadi komunikasi visual yang bermakna," ujarnya, Jumat (12/6/2026).

Menurut Pandu, pendekatan tersebut semakin relevan dengan perkembangan industri kreatif global yang kini bergerak menuju pengalaman yang lebih imersif dan multisensori. Desainer masa kini tidak hanya dituntut menghasilkan karya yang menarik secara visual, tetapi juga mampu membangun hubungan emosional dengan audiens melalui pengalaman yang lebih personal.

Hal itu tercermin dalam tema-tema yang diangkat mahasiswa. Beragam karya dalam pameran ini mengeksplorasi isu-isu yang dekat dengan kehidupan Generasi Z, seperti pencarian jati diri, relasi keluarga dan pertemanan, kehilangan, harapan, hingga refleksi atas pengalaman sehari-hari.

"Melalui karya-karya tersebut, mahasiswa mencoba mengolah pengalaman personal menjadi pesan visual yang dapat dipahami secara universal," tuturnya.

Sementara itu, Ketua pameran, Benaya Christofer F., mengatakan konsep pameran terinspirasi dari fenomena synesthesia, yaitu kondisi ketika rangsangan pada satu indra memunculkan pengalaman pada indra lainnya, seperti melihat warna tertentu saat mendengar suara.

"Biasanya musik hanya didengar. Dalam pameran ini kami mencoba menerjemahkan musik menjadi pengalaman visual yang bisa dilihat dan dirasakan. Setiap karya memiliki cerita, suasana, dan emosi yang berbeda sesuai pengalaman kreatornya," kata Benaya.

Ia menjelaskan seluruh karya yang dipamerkan melalui proses kreatif yang cukup panjang. Para mahasiswa terlebih dahulu menciptakan lagu sebagai fondasi utama, kemudian mengembangkan konsep visual yang mampu merepresentasikan makna serta nuansa emosional yang terkandung di dalam musik tersebut.

Melalui pameran ini, Universitas Ciputra juga ingin menunjukkan bagaimana desain komunikasi visual terus berkembang menjadi disiplin yang semakin berpusat pada manusia (human-centered design).

Desain tidak lagi hanya berfungsi sebagai sarana penyampaian informasi, tetapi juga menjadi medium untuk membangun pengalaman, memantik refleksi, serta menciptakan koneksi emosional yang lebih mendalam antara karya dan audiens.

"Karya desain tidak lagi berfungsi sekadar menyampaikan informasi, melainkan menjadi medium untuk membangun pengalaman, memantik refleksi, dan menghadirkan koneksi emosional yang lebih mendalam," pungkas Pandu.

Reporter: Amanah/Editor: Santi

Share:
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.