JAKARTA (Lentera) -Anggota Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR RI Nihayatul Wafiroh menilai jumlah tenaga kesehatan dalam pelaksanaan ibadah haji tahun 2026 masih minim.
"Saya selaku anggota Timwas dari Fraksi PKB dan Wakil Ketua Komisi IX DPR RI menyoroti persoalan kesehatan dalam pelaksanaan haji tahun ini. Salah satu catatan penting kami adalah masih kurangnya tenaga kesehatan yang mendampingi jemaah," kata Nihayatul dalam keterangannya, dikutip pada Selasa (26/6/2026).
Politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu menyebut jumlah tenaga kesehatan haji saat ini hanya sekitar 1.200 orang.
Dalam pelaksanaannya, Tenaga Kesehatan Haji Kloter (TKHK) kini hanya terdiri dari dua tenaga kesehatan untuk satu kloter yang berisi sekitar 400 jemaah.
"Dengan komposisi jemaah lansia, disabilitas, dan risiko tinggi yang umumnya mencapai lebih dari 30 persen di setiap kloter, tentu beban tenaga kesehatan menjadi sangat berat," ucapnya.
Menurut Nihayatul, kebutuhan tenaga kesehatan semakin meningkat setelah adanya kebijakan rumah sakit di Arab Saudi yang mewajibkan pasien didampingi penjaga, dan penjaga tersebut harus berasal dari petugas kesehatan.
"Dulu pasien yang dirujuk ke rumah sakit tidak harus ditunggu petugas kesehatan. Sekarang ada kebijakan baru, dua pasien harus ada satu penjaga. Akibatnya tenaga kesehatan kita menjadi sangat terbatas karena harus menjaga pasien di rumah sakit," kata dia, dikutip dari Kompas.
Nihayatul mengungkapkan jemaah haji Indonesia cukup banyak mengalami kasus penyakit dalam, bedah, hingga ortopedi. Namun, jumlah dokter spesialis yang tersedia di KKHI dinilai belum memadai.
"Dokter spesialis penyakit dalam di KKHI Madinah jumlahnya tidak sebanyak tahun sebelumnya. Akibatnya layanan konsultasi dan visitasi sering tertunda dan tidak bisa dilakukan setiap hari," ungkap dia.
Nihayatul juga menyoroti minimnya tenaga kesehatan jiwa di mana hanya terdapat satu dokter spesialis kesehatan jiwa di Madinah, baik untuk layanan KKHI maupun sektor.
"Kasus gangguan kesehatan jiwa jemaah juga cukup banyak, tetapi dokter spesialis kesehatan jiwa hanya satu orang. Selain itu juga belum ada tenaga fisioterapis, padahal kebutuhan layanan fisioterapi cukup tinggi," kata dia.
Nihayatul mendorong adanya penambahan jumlah tenaga kesehatan haji kloter. Menurut dia, setiap kloter idealnya didampingi minimal tiga tenaga kesehatan.
"Setidaknya tiga tenaga kesehatan untuk satu kloter. Meskipun istithaah kesehatan sudah diterapkan, supervisi dari Puskeshaji sudah diperketat, dan teknologi sudah dimanfaatkan, namun kondisi di lapangan menunjukkan beban kesehatan jemaah masih sangat tinggi dan kemungkinan tidak berubah signifikan dalam lima tahun ke depan," ujar Nihayatul (*)
Editor: Arifin BH




.jpg)
