21 May 2026

Get In Touch

Ekonom UB Malang Sebut Persepsi Pasar dan Kepercayaan Investor Pengaruhi Stabilitas Rupiah

Ekonom dari Universitas Brawijaya (UB), Dr. rer. pol. Wildan Syafitri. (foto: Humas UB)
Ekonom dari Universitas Brawijaya (UB), Dr. rer. pol. Wildan Syafitri. (foto: Humas UB)

MALANG (Lentera) - Persepsi pasar dan tingkat kepercayaan investor, disebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi stabilitas nilai tukar rupiah saat ini.

Ekonom dari Universitas Brawijaya (UB) Malang, Dr. rer. pol. Wildan Syafitri menilai negara harus segera menghadirkan kebijakan yang kredibel, untuk menjaga optimisme publik dan menahan tekanan terhadap mata uang nasional.

"Kita jangan terlalu terpengaruh berita negatif, karena itu bisa membentuk ekspektasi buruk terhadap ekonomi," ujar pria yang merupakan dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UB tersebut, Rabu (20/5/2026).

Menurut Wildan, ketika muncul anggapan kondisi ekonomi sedang tidak baik dan dolar AS lebih aman untuk menyimpan nilai aset, permintaan terhadap mata uang Negeri Paman Sam akan meningkat.

"Ekspektasi masyarakat itu sangat menentukan. Ketika orang merasa dolar lebih aman, maka permintaan dolar meningkat dan rupiah semakin tertekan," katanya.

Wildan menjelaskan, nilai tukar mata uang pada dasarnya ditentukan oleh mekanisme permintaan dan penawaran. Dalam situasi saat ini, tingginya permintaan terhadap dolar dipicu oleh arus modal keluar (capital outflow), ketidakpastian global, serta sentimen pasar terhadap kondisi ekonomi nasional.

Dikatakannya, capital outflow terjadi ketika investor asing menarik dana dari pasar domestik untuk dipindahkan ke negara lain yang dinilai lebih aman atau lebih menguntungkan. Kondisi ini umumnya dipicu oleh kebijakan suku bunga di Amerika Serikat.

Ketika suku bunga AS meningkat, investor global cenderung memindahkan dananya ke sana karena menawarkan imbal hasil lebih tinggi dengan risiko yang relatif lebih rendah. Dampaknya, aliran dana asing keluar dari Indonesia dan tekanan terhadap rupiah semakin besar.

Selain faktor ekonomi global, Wildan menyebut, konflik geopolitik internasional, ketegangan perdagangan dunia, serta pelemahan pasar saham domestik juga dapat mempercepat keluarnya modal asing dari Indonesia.

"Kalau kepercayaan terhadap pasar saham menurun, capital outflow bisa meningkat dan itu memberi tekanan terhadap rupiah," katanya.

Wildan menyebut, dampak pelemahan rupiah memang tidak selalu terasa seketika. Namun secara bertahap, harga kebutuhan pokok berpotensi naik dan dapat menggerus daya beli masyarakat, terutama jika pendapatan tidak meningkat sebanding.

"Kalau harga kebutuhan pokok naik akibat pelemahan rupiah, itu baru akan sangat dirasakan masyarakat," ujarnya.

Untuk menjaga stabilitas rupiah, Wildan menilai, pemerintah harus menghadirkan kebijakan yang kredibel dan konsisten. Menurutnya, investor membutuhkan kepastian hukum, kemudahan perizinan, stabilitas politik, serta komitmen kuat dalam memberantas korupsi.

"Pemerintah harus memiliki langkah yang dianggap kredibel oleh masyarakat dan investor. Kemudahan perizinan, kepastian hukum, dan menjaga capital outflow itu penting untuk memperkuat rupiah," tegasnya.

Meski rupiah melemah cukup dalam, Wildan menilai, kondisi ekonomi Indonesia saat ini masih jauh dari situasi krisis seperti tahun 1998. Ia menegaskan, fondasi ekonomi nasional dinilai lebih kuat, regulasi lebih baik, dan pemerintah masih mampu menjaga ketersediaan kebutuhan pokok serta mengendalikan inflasi.

"Kalau dibandingkan dengan tahun 1998 itu berbeda. Regulasi kita sekarang lebih kuat dan kebutuhan pokok masih bisa dijangkau masyarakat," katanya.

Menurut Wildan, potensi krisis tetap harus diwaspadai, tetapi indikator ekonomi saat ini masih menunjukkan kondisi yang relatif stabil. Ancaman krisis baru akan menguat apabila pertumbuhan ekonomi mengalami kontraksi selama dua kuartal berturut-turut, disertai inflasi tinggi dan penurunan daya beli secara drastis.

"Potensi krisis tentu ada setiap saat, tetapi kondisi sekarang masih relatif aman dan terkendali," pungkasnya.

 

Reporter: Santi Wahyu/Editor: Ais

Share:
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.