18 April 2026

Get In Touch

Helikopter Kecelakaan di Sekadau Ternyata Tak Miliki Black Box, Investigasi Andalkan Data Mesin

Proses evakuasi kru dan penumpang helikopter PK-CFX yang jatuh di Sekadau, Kalbar pada Kamis (16/4/2026) (Dok Polres Sekadau)
Proses evakuasi kru dan penumpang helikopter PK-CFX yang jatuh di Sekadau, Kalbar pada Kamis (16/4/2026) (Dok Polres Sekadau)

PONTIANAK (Lentera) -Investigasi kecelakaan helikopter Airbus 130 dengan registrasi PK-CXP di Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat (Kalbar) menghadapi tantangan tersendiri.

Sebab, helikopter itu tidak dilengkapi perangkat black box seperti pesawat komersial pada umumnya.

Investigator Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Dian Saputra, mengungkapkan bahwa helikopter jenis ini tidak memiliki flight data recorder (FDR) maupun cockpit voice recorder (CVR).

“Helikopter ini tidak memiliki perekam percakapan maupun data penerbangan seperti pesawat besar,” kata Dian kepada wartawan, Jumat (17/4/2026).

Sebagai gantinya, KNKT akan mengandalkan engine data recorder yang merekam performa mesin, termasuk putaran mesin dan kondisi oli, untuk menelusuri penyebab kecelakaan.

Dian menyebutkan data dari perekam mesin akan dikirim ke manufaktur di Perancis untuk dianalisis lebih lanjut.

“Kami bekerja sama dengan DGAC Perancis untuk pembacaan data recorder yang ada,” jelas Dian.

Langkah ini dilakukan guna memastikan akurasi analisis teknis terhadap performa mesin sebelum kecelakaan terjadi.

Sementara itu, operasi pencarian dan pertolongan (SAR) kecelakaan helikopter PK-CFX di wilayah Desa Tapang Tingang, Kecamatan Nanga Taman, Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat, resmi ditutup pada Jumat (17/4/2026) pukul 14.35 WIB.

Seluruh korban dalam insiden tersebut telah berhasil ditemukan dan dievakuasi ke Pontianak untuk proses identifikasi lebih lanjut.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Pontianak, I Made Junetra, mengatakan seluruh korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.

“Kami turut berduka cita yang mendalam kepada seluruh keluarga korban. Semoga diberikan kekuatan dan ketabahan,” ujar Junetra dalam keterangan resmi, dikutip Kompas.

Proses evakuasi terakhir dimulai sejak pagi hari. Tim SAR gabungan menetapkan dua jalur evakuasi, yakni melalui darat menggunakan ambulans dan jalur udara menggunakan helikopter Super Puma dari Lanud Supadio Pontianak.

Helikopter Super Puma lepas landas menuju titik penjemputan di Kompi 642 Sanggau pada pukul 08.18 WIB, kemudian tiba pukul 09.12 WIB.

Seluruh jenazah korban langsung dimuat dan tiga menit kemudian helikopter kembali terbang menuju Pontianak.

Pesawat tersebut mendarat di Lanud Supadio pada pukul 09.57 WIB.

Selanjutnya, delapan jenazah dibawa menggunakan ambulans menuju RS Bhayangkara Polda Kalimantan Barat dan tiba sekitar pukul 10.31 WIB.

Setibanya di rumah sakit, seluruh korban diserahkan kepada Tim Disaster Victim Identification (DVI) untuk proses identifikasi.

Sebelum operasi ditutup, Tim SAR gabungan menggelar debriefing dan evaluasi pada pukul 14.00 WIB.

Berdasarkan hasil evaluasi, operasi dinyatakan selesai dan seluruh unsur yang terlibat dikembalikan ke satuan masing-masing.

Operasi SAR ini melibatkan berbagai unsur, mulai dari Basarnas Pontianak, TNI AU, TNI AD, Polri, AirNav, hingga pemerintah daerah dan masyarakat setempat. Baca juga: Pencarian Helikopter PK-CFX di Sekadau Kerahkan Starlink dan Direction Finder, Ini Fungsinya

Selain itu, proses evakuasi juga didukung berbagai peralatan, seperti helikopter Super Puma, kendaraan rescue, ambulans, serta perangkat komunikasi dan navigasi.

Penutupan operasi ini menandai berakhirnya seluruh rangkaian pencarian dan evakuasi korban kecelakaan helikopter PK-CFX yang sebelumnya dilaporkan hilang kontak di wilayah pedalaman Sekadau (*)

Editor: Arifin BH

Share:
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.