MALANG (Lentera) -Prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Karangploso Malang memprediksi cuaca ekstrem masih berpotensi mengancam wilayah Malang Raya hingga awal April 2026.
"Kami mengimbau masyarakat dan instansi terkait agar senantiasa mewaspadai perubahan cuaca yang bisa terjadi secara mendadak, termasuk potensi hujan lebat yang disertai petir dan angin kencang," ujar Prakirawan Linda Fitrotul, Selasa (31/3/2026).
Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan berbagai dampak berbahaya, mulai dari pohon tumbang, banjir, hingga tanah longsor. Selain itu, cuaca ekstrem juga dapat menyebabkan jarak pandang menurun serta kondisi jalan menjadi licin yang berisiko bagi pengguna jalan.
Dalam beberapa hari terakhir, dampak cuaca ekstrem sudah mulai dirasakan masyarakat, seperti kejadian pohon tumbang dan banjir yang sempat terjadi di Kota Malang dan Kota Batu pada Senin (30/3/2026).
Lebih lanjut, Linda mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, khususnya saat beraktivitas di luar ruangan maupun saat berkendara. Warga juga diminta menghindari berteduh di bawah pohon saat hujan disertai angin kencang.
"Kami juga mengimbau masyarakat untuk secara rutin memantau perkembangan informasi cuaca melalui kanal resmi, seperti situs BMKG.go.id, aplikasi InfoBMKG, serta akun media sosial resmi @infobmkgjuanda," katanya.
Diketahui, imbauan dari Stasiun Klimatologi Karangploso ini merupakan tindak lanjut dari peringatan dini yang sebelumnya dikeluarkan BMKG Kelas I Juanda Sidoarjo terkait kewaspadaan cuaca ekstrem di wilayah Jawa Timur pada periode 26 Maret hingga 4 April 2026.
Dalam peringatan tersebut, wilayah Malang Raya yang meliputi Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu, masuk dalam kategori daerah yang berpotensi terdampak bencana hidrometeorologi akibat cuaca ekstrem.
BMKG Kelas I Juanda menjelaskan kondisi cuaca ekstrem ini dipicu oleh sejumlah faktor atmosfer. Di antaranya adalah aktivitas gelombang Rossby dan gelombang Kelvin yang melintasi wilayah Jawa Timur.
Selain itu, suhu muka laut di perairan sekitar, khususnya di Selat Madura, terpantau cukup hangat sehingga meningkatkan proses penguapan yang berkontribusi terhadap pembentukan awan hujan.
Fenomena ini juga dipengaruhi oleh dampak tidak langsung dari siklon tropis Narelle di Samudera Hindia bagian barat Australia, yang turut memperkuat dinamika atmosfer di wilayah Jawa Timur.
Reporter:Santi Wahyu|Editor: Arifin BH





.jpg)
