SURABAYA (Lentera) - Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Aries Agung Paewai menilai penerapan Work From Home (WFH) atau Work From Anywhere (WFA) di sektor pendidikan tidak dapat berjalan optimal, terutama karena keterbatasan pengawasan dan potensi penurunan kualitas pembelajaran.
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Aries Agung Paewai, menegaskan bahwa hingga saat ini pihaknya masih melakukan kajian komprehensif. Berbagai masukan telah dihimpun dari beragam pemangku kepentingan, mulai dari kepala bidang, Unit Pelaksana Teknis (UPT), hingga kepala sekolah negeri dan swasta di seluruh wilayah Jawa Timur.
Menurut Aries, mayoritas satuan pendidikan memiliki kekhawatiran yang sama: jangan sampai kebijakan efisiensi energi justru berdampak pada penurunan kualitas pembelajaran. Pengalaman selama pandemi COVID-19 menjadi pelajaran penting, di mana pembelajaran jarak jauh dinilai membawa konsekuensi serius terhadap capaian akademik maupun perilaku siswa.
“Ketika siswa berada di sekolah, pengawasan bisa dilakukan secara maksimal. Guru bisa memastikan mereka benar-benar belajar. Jika di rumah, apalagi orang tua bekerja, kontrolnya tentu jauh lebih terbatas,” ungkap Aries, Kamis (26/03/2026).
Meski demikian, sejumlah alternatif mulai mengemuka sebagai jalan tengah. Beberapa kepala sekolah mengusulkan agar pembelajaran daring tetap diberlakukan, namun dengan porsi terbatas, misalnya hanya satu hari dalam sepekan. Skema ini dinilai bisa menjadi solusi kompromi antara efisiensi energi dan menjaga kualitas pendidikan.
Usulan tersebut bahkan berkembang lebih fleksibel, dengan opsi pengacakan hari pelaksanaan agar tidak menimbulkan jeda belajar yang terlalu panjang, terutama jika ditempatkan menjelang akhir pekan.
“Kalaupun ada daring, sifatnya hanya pelengkap. Pembelajaran utama tetap dilakukan secara tatap muka,” pungkasnya.
Reporter: Pradhita/Editor: Ais




.jpg)
