SURABAYA (Lentera) – Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak menyampaikan evaluasi pelaksanaan Lebaran di Jawa Timur, dengan menyoroti masih terjadinya bencana banjir di sejumlah daerah di tengah tingginya mobilitas masyarakat selama musim mudik.
Menurut Emil, hal ini menjadi perhatian serius lintas tingkatan pemerintahan, mulai dari pusat hingga daerah.
“Kalau kami memantau sejauh ini tentu satu kita prihatin bahwa di beberapa tempat masih terjadi kejadian bencana seperti banjir. Ini sesuatu yang kita segenap insan dari seluruh tingkatan nasional atau pusat, provinsi, kabupaten, kota hingga ke desa coba untuk mitigasi,” ungkap Emil, Rabu (25/03/2026).
Politisi Demokrat tersebut menegaskan, upaya mitigasi tidak dilakukan secara parsial, melainkan terkoordinasi secara menyeluruh antar level pemerintahan. Salah satu langkah konkret yang dijalankan adalah pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) atas arahan Gubernur Jawa Timur
“Termasuk dengan melaksanakan arahan Ibu Gubernur operasi modifikasi cuaca,” lanjutnya.
Emil menjelaskan, OMC telah dilaksanakan sejak 16 Maret dan masih terus berjalan hingga saat ini seiring dengan periode arus mudik dan balik Lebaran. Langkah ini diambil sebagai bagian dari strategi untuk menekan potensi curah hujan ekstrem yang dapat memicu banjir di wilayah rawan.
“OMC yang dilaksanakan sejak tanggal 16 Maret sampai sekarang pun masih musim mudik masih dijalankan. Nah, ini upaya untuk mengurangi. Dan memang betul tidak menihilkan tetapi kita tentu telah berjuang maksimal bagaimana kita bisa mengurangi kemungkinan tersebut,” jelasnya.
Selain intervensi melalui modifikasi cuaca, Pemprov Jatim juga melakukan penguatan infrastruktur penanganan banjir di sejumlah titik. Salah satu contoh yang disampaikan Emil adalah pemasangan pompa air di wilayah Karanggeneng yang dilakukan secara berkelanjutan.
“Seperti pemasangan pompa di Karang Geneng misalnya yang berkelanjutan sehingga di momen yang yang sangat-sangat tinggi intensitas pergerakan masyarakat ini kita bisa mengurangi kesulitan yang mereka hadapi,” terangnya.
Ia menilai, langkah-langkah tersebut menjadi penting terutama pada periode Lebaran, di mana mobilitas masyarakat meningkat tajam. Kondisi ini membuat potensi gangguan akibat bencana, seperti banjir, dapat berdampak lebih luas terhadap aktivitas warga, termasuk perjalanan mudik.
Meski berbagai upaya telah dilakukan secara maksimal, Emil mengakui bahwa bencana belum sepenuhnya dapat dihindari. Oleh karena itu, pemerintah tetap mengedepankan pendekatan mitigasi untuk meminimalkan risiko dan dampak yang ditimbulkan.
“Jadi, tapi kita tetap prihatin bahwa di sebagian titik masih terjadi,” pungkasnya.
Reporter: Pradhita/Editor:Santi





.jpg)
