10 March 2026

Get In Touch

Workshop LPM Nawasena USG Hidupkan Diskursus Pemikiran Tan Malaka di Kampus 

Workshop Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Nawasena Universitas Sunan Gresik (USG) dilakukan secara daring.
Workshop Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Nawasena Universitas Sunan Gresik (USG) dilakukan secara daring.

GRESIK (Lentera)-Diskursus tentang pentingnya cara berpikir ilmiah kembali mengemuka di kalangan mahasiswa. Lembaga Pers Mahasiswa (LPM)  Nawasena Universitas Sunan Gresik (USG) menggelar workshop yang mengangkat relevansi pemikiran Tan Malaka melalui konsep MADILOG sebagai metode berpikir kritis di era digital yang dipenuhi arus informasi.

Kegiatan yang berlangsung secara daring pada Minggu (8/3/2026) itu menghadirkan akademisi sekaligus praktisi hukum Dr (c) Mawardi, S. Sos., SH., MH sebagai narasumber. Kegiatan tersebut diikuti mahasiswa dan berlangsung secara dialogis. Membahas bagaimana metode berpikir rasional menjadi penting di tengah derasnya perkembangan informasi dan dinamika sosial saat ini.

Dalam pemaparannya, Mawardi menjelaskan bahwa konsep MADILOG--singkatan dari materialisme, dialektika, dan logika-+merupakan metode berpikir yang diperkenalkan Tan Malaka untuk membangun tradisi intelektual yang rasional dan berbasis fakta. Menurutnya, pendekatan tersebut tetap relevan untuk mahasiswa di era digital yang kerap dihadapkan pada banjir informasi dan berbagai narasi yang belum tentu teruji secara ilmiah.

“MADILOG mengajarkan kita untuk berpikir berdasarkan fakta, menganalisis persoalan secara dialektis, dan menarik kesimpulan secara logis. Cara berpikir ini penting agar mahasiswa tidak mudah terjebak pada pola pikir dogmatis maupun informasi yang tidak terverifikasi,” kata Mawardi dalam diskusi tersebut.

Ia menilai, mahasiswa memiliki peran strategis sebagai kelompok intelektual yang tidak hanya mempelajari teori di ruang kelas, tetapi juga harus mampu membaca realitas sosial secara objektif dan sistematis. 

Dalam konteks itu, metode berpikir yang ditawarkan Tan Malaka dinilai dapat membantu mahasiswa membangun kemampuan analisis yang lebih tajam terhadap berbagai persoalan sosial, hukum, dan politik.

Selain membahas relevansi MADILOG, Mawardi juga mendorong mahasiswa untuk memperkuat budaya akademik melalui diskusi, penelitian, serta penulisan ilmiah. Menurutnya, kampus seharusnya menjadi ruang yang subur bagi lahirnya gagasan kritis yang mampu memberi kontribusi nyata bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan pembangunan bangsa.

Ketua LPM NAWASENA, Muhammad Zainal Musthofa, mengatakan dialog tersebut merupakan bagian dari upaya pers mahasiswa untuk menghadirkan ruang diskusi intelektual di lingkungan kampus.

Menurutnya, pembahasan mengenai pemikiran Tan Malaka membuka perspektif baru bagi mahasiswa dalam memahami pentingnya metode berpikir ilmiah di tengah derasnya arus informasi digital.

“Diskusi ini diharapkan dapat membangun kembali tradisi berpikir kritis di kalangan mahasiswa, sekaligus memperkenalkan kembali pemikiran Tan Malaka yang relevan untuk membaca realitas sosial saat ini,” ujar Zain, begitu sapaannya.

Melalui dialog tersebut, Lpm NAWASENA berharap mahasiswa tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga mampu mengolah, menganalisis, dan menguji informasi secara rasional dengan pendekatan ilmiah sebagaimana ditawarkan dalam konsep MADILOG.

Editor:Widyawati
 

Share:
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.