04 March 2026

Get In Touch

Umsura Gaungkan Perdamaian Lewat Penancapan Bendera Global

Mahasiswa asing Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) menancapkan bendera sebagai seruan perdamaian dunia di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik Iran, Israel, dan Amerika Serikat (Ant)
Mahasiswa asing Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) menancapkan bendera sebagai seruan perdamaian dunia di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik Iran, Israel, dan Amerika Serikat (Ant)

SURABAYA (Lentera) -Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) menggelar kuliah tamu internasional dan aksi simbolik penancapan bendera berbagai negara sebagai seruan perdamaian dunia di tengah peningkatan ketegangan geopolitik Iran, Israel, dan Amerika Serikat.

Kuliah bertema “International Law, Islamic Civilization Cooperation, and Future Peace: A Comprehensive Dialogue Between Iran and Indonesia” tersebut, menghadirkan akademisi berasal dari Iran Dr Amir Rezaei Panah dari Shahid Beheshti University, Teheran.

“Tema hukum internasional dalam menciptakan perdamaian sangat relevan dengan situasi global saat ini. Sebagai masyarakat kampus yang menjunjung nilai kemanusiaan dan cinta damai, kami menyerukan pentingnya perdamaian global di tengah konflik yang terjadi,” ujar Rektor Umsura Mundakir di Surabaya, Selasa.

Kegiatan itu tidak hanya menjadi forum akademik, tetapi juga diwarnai aksi simbolik penancapan bendera berbagai negara pada peta dunia sebagai lambang persatuan dan harapan perdamaian global.

Prosesi penancapan bendera dilakukan oleh Rektor Umsura bersama Dr Amir Rezaei Panah serta mahasiswa internasional yang berasal dari Uzbekistan, Pakistan, Yaman, Mali, Sudan, dan Afghanistan.

Ratusan mahasiswa Fakultas Hukum Umsura turut mengangkat bendera negara-negara di dunia sambil bergandengan tangan sebagai simbol solidaritas global.

Amir Rezaei Panah menekankan pentingnya kebangkitan kembali cara hidup islami yang progresif dan berpusat pada iman.

"Strategi utama untuk menghidupkan kembali cara hidup islami adalah melalui pendekatan peradaban dan penguatan identitas. Masa depan harus dilihat melalui lensa budaya dan peradaban, dengan realisme dan pragmatisme, bukan terjebak pada perpecahan masa lalu," katanya.

Ia menilai dunia Islam memerlukan peta jalan yang jelas dalam membangun masa depan, dengan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran melalui pemahaman genealogi masa lalu serta proyeksi skenario masa depan.

Dekan Fakultas Hukum Umsura Satria Unggul Wicaksana mengatakan eskalasi konflik global telah melampaui manuver politik dan mengarah pada realitas perang terbuka, termasuk berdampak pada korban sipil.

"Ketika diplomasi diabaikan dan digantikan oleh kekuatan militer, dunia tidak hanya kehilangan kedamaian, tetapi juga kehilangan akal sehat," katanya, melansir Antara.

Ia menambahkan Indonesia memiliki peran strategis melalui politik luar negeri bebas aktif, sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 untuk turut serta dalam menciptakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Melalui kuliah tamu dan aksi simbolik tersebut, Umsura berharap pesan perdamaian tidak berhenti pada wacana, tetapi menjadi gerakan moral yang mendorong generasi muda berperan aktif menjaga stabilitas dan kemanusiaan dunia (*)

Editor: Arifin BH

Share:
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.