SURABAYA ( LENTERA ) - Sitem Kecerdasan buatan (Artificial Inteligence/AI) yang mampu memprediksi tekanan panas yang mengancam terumbu karang berhasil dikembangkan oleh sejumlah ilmuwan. Teknologi ini dinilai menjadi terobosan penting dalam upaya perlindungan dan konservasi ekosistem laut yang semakin tertekan oleh pemanasan global.
Tekanan panas merupakan salah satu penyebab utama fenomena coral bleaching atau pemutihan terumbu karang, kondisi ketika zooxanthellae alga bersimbiosis yang memberi warna dan nutrisi kepada karang, keluar dari jaringan karang akibat suhu laut yang meningkat. Jika berlangsung dalam waktu lama, stres panas ini bisa menyebabkan kematian massal terumbu karang yang menjadi rumah bagi ribuan spesies laut
Model AI yang dikembangkan oleh tim ilmuwan menggunakan pendekatan machine learning dengan algoritma bernama XGBoost untuk memproyeksi datangnya stress panas tingkat sedang di tiga lokasi terumbu karang di Florida, Amerika Serikat. Sistem ini tidak hanya memprediksi apakah tekanan panas akan terjadi, tetapi juga memperkirakan minggu kapan tekanan panas paling mungkin dimulai di lokasi-lokasi terumbu tertentu.
Model AI tersebut dirancang untuk memberikan peringatan dini hingga enam minggu sebelum gelombang panas laut menyerang wilayah terumbu, memberikan waktu yang lebih panjang bagi para pengelola dan konservasionis untuk mengambil langkah perlindungan atau mitigasi sebelum kerusakan berlangsung. Hal ini sangat penting, karena metode pemantauan tradisional sering kali baru mendeteksi ancaman ketika suhu air sudah mencapai titik kritis.
Pendekatan ini memadukan keilmuan meteorologi, ekologi laut, serta data science untuk menghasilkan prediksi yang lebih akurat dan berskala lokal. AI
memproses berbagai variabel lingkungan seperti suhu permukaan laut, suhu udara, pola angin, radiasi matahari, dan indikator fenomena iklim besar seperti El Niño, sehingga bisa memetakan faktor-faktor yang memicu tekanan panas di setiap titik terumbu karang.
Keunggulan lain sistem AI ini adalah mampu menambahkan lapisan detail musiman dan lokal yang tidak dimiliki oleh model prediksi suhu laut global. Hal ini berguna saat terus naiknya suhu lautan akibat perubahan iklim. Alat bantu baru ini diprediksi menjadi instrumen esensial untuk memberikan peluang bertahan hidup bagi terumbu karang. (Nabillatul– Mahasiswa UINSA, Berkontribusi dalam tulisan ini)
Rincian kondisi populasi terumbu karang saat ini:
Status Global (2024–2025)
Pemutihan Massal: Dunia saat ini tengah mengalami peristiwa pemutihan karang global ke-4, yang dikonfirmasi oleh NOAA sebagai yang paling intens dan luas dalam sejarah.
Penyusutan Populasi: Diperkirakan 30% hingga 50% terumbu karang dunia telah hilang dalam beberapa dekade terakhir. Tanpa tindakan drastis, hingga 90% populasi terumbu karang tropis diprediksi bisa menghilang pada tahun 2050.
Kasus Great Barrier Reef: Pada periode 2024/2025, wilayah ini mengalami penurunan tutupan karang keras tahunan terbesar yang pernah tercatat, dengan penurunan regional antara 14% hingga 30% dibanding tahun sebelumnya.
--
Kondisi di Indonesia
Sebagai pemegang 18% dari total luas terumbu karang dunia, kondisi di Indonesia sangat memengaruhi populasi global.
Tingkat Kerusakan: Berdasarkan data terbaru, sekitar 33,82% terumbu karang di Indonesia berada dalam kondisi rusak atau kurang baik.
Kualitas Tutupan: Hanya sekitar 2,59% terumbu karang nasional yang masih dalam kondisi sangat baik, sementara 27,14% lainnya dalam kondisi baik.
Ancaman Utama: Selain kenaikan suhu laut, populasi di Indonesia terancam oleh pengambilan karang hias ilegal, penangkapan ikan yang merusak, dan pencemaran pesisir.(*)





.jpg)
