04 March 2026

Get In Touch

Tik Tak Tik... Harga BBM Naik

Subakti Sidik, Wartawan Senior
Subakti Sidik, Wartawan Senior

OPINI (Lentera) -Jarak Iran-Indonesia memang jauh. Tapi dampak perang di sana, bisa sampe ke sini. Ah ngeri......!!!

"Jangan nakut-nakuti Bro. Kita kan bersahabat baik dengan Trump dan Netanyahu?  Masak sahabat sendiri dirudal ? Yang bener aja."

Kalau rudal Insyaalloh tidak. Tapi akibat  perang ini aliran minyak ke Indonesia jadi terhalang.  Kok bisa ?

Selat Hormuz sudah ditutup Iran. Padahal minyak mentah (crude oil) yang kita import dari Arab Saudi, pintunya  harus lewat selat itu. 

Demikian pula minyak dari Kuwait dan UEA pun tak bisa keluar. Dan dalam hitungan jam. Harga minyak Brent naik jadi US $ 115 perbarel. Bisa jadi nanti sampe US $ 150. Gila - gilaan......!!!

Secara de facto, pintu Selat Hormuz sekarang closed.  Masak laut digembok? Nutup selat dengan apa? Masak selat diportal ?. Ah.....lihat sendiri aja kesana. 

Yang jelas, tak ada satu perusahaan asuransi pun yang berani menjamin kapal yang nekad lewat. 

Sebuah kapal tanker sudah jadi korban. Kapal bermuatan minyak itu ditembak Iran karena nekad melewati Selat Hormuz. Rupanya Iran menyampaikan pesan pada dunia: "Jangan main-main dengan saya".

Karena penutupan itu, banyak tanker parkir di tengah laut. Menunggu dibuka. Tapi kapan? 

Trump sudah sesumbar. Akan meluluhlantakkan Iran dalam waktu sebulan. Busyet ........kejam amat loe. Bisa jadi awak kapal berhari-hari, nanti kerjanya hanya mancing. 

 Apa semudah itu menaklukkan "Singa Padang Pasir" yang terkenal memiliki peralatan perang canggih ?. 

Simpanan rudal berkepala nuklir mungkin akan keluar kandang.  Bisa saja perang akan  berlangsung berbulan - bulan. Coba kita lihat nanti. 

Sebagian besar minyak mentah (oil crude) yang diimpor Indonesia dari Arab Saudi melewati Selat Hormuz. Bahan baku itu lalu dikilang di Balongan dan Cilacap. 

Kenapa tidak impor dari Iran? Siapa yang berani?. Iran sudah lama terkena sanksi ekonomi AS. 

Kalo nekad impor dari negri itu, pasti Indonesia juga  kena sanksi AS. Bisa jadi kita gak bisa makan tahu-tempe. Karena selama ini kita impor kedele dari AS.

Harga BBM Naik

Karena tak bisa lewat selat itu, kapal tanker harus memutar jauh menuju pantai Cilacap. Nah.....jarak semakin jauh. Ongkos transportasi jadi berlipat.  

Belum lagi kalo pasokan dari Arab Saudi berkurang. Sehingga tanker tak bisa diisi penuh. Perhitungan biaya produksi makin bejibun. 

Ujung-ujungnya, apalagi kalo harga BBM tak dinaikkan? Dengan harga sekarang saja, pemerintah sudah amat berat menanggung subsidi. 

Lho, katanya kita impor minyak dari Singapura?  Benar, yang diimpor Pertalite dan Pertamax dalam bentuk barang jadi. Impor barang jadi, sudah tentu harganya lebih mahal. Apalagi lewat calo. 

Kalau untuk mencukupi kebutuhan, semua beli BBM siap pake. Wah....bisa bobol anggaran negara. 

Singapura ini memang yahud. Negara tak punya sumur minyak. Tapi kilangnya berkapasitas jumbo. 

Kebalikannya, Indonesia, punya banyak sumber minyak. Tapi kapasitas kilangnya mini. Tak mampu mencukupi kebutuhan. 

Siapa yang salah? Merdeka sudah 80 tahun. Urusan kilang minyak aja, kalah dengan negri kecil yang usianya jauh lebih muda. Singapura baru merdeka tahun 1965. Ya, begitulah...

Presiden Prabowo pusing rupanya. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia kemarin dipanggil. Kata Bahlil, stock BBM masih cukup 20 hari. Waduh.........!!!. Menakutkan ini. Itu kan saatnya Lebaran Bro.

Bisa batal sungkem orangtua di  kampung. Padahal, sudah setahun ancang-ancang. Bahlil tak menyebut bagaimana setelah 20 hari nanti. 

Tenang. Jangan panik. Prabowo dan Paman Donald kan beberapa hari lalu menandatangani perjanjian perdagangan. Salah satu komoditas yang disetujui, Indonesia impor minyak dari AS.

Nilainya mencapai US$ 15 miliar.

Ini juga salah satu strategi. Alternatif tak hanya mengandalkan  pasokan Timur Tengah. Amankan........ ?. 

Aman dalam arti pasokannya. Nett harganya ?. Jarak AS (Houston/Teluk Meksiko) - Indonesia itu tiga - empat kali lebih jauh dari Arab Saudi  - Indonesia. 

Ongkos kapalnya termasuk ABKnya berlipat-lipat. Belum lagi, waktunya. Dari Arab Saudi, perjalanan hanya butuh dua minggu. Sedangkan dari AS bisa sebulan lebih. 

Kalau stock sudah menipis, sementara pasokan masih belum jelas kapan tiba? Kan masih ada Australia?

Akibat blokade Selat Hormuz, minyak Australia akan jadi rebutan. Hukum ekonomi: jika permintaan tinggi, harga barang pasti melejit. 

Kalau harga BBM benar- benar naik, pasti gerbong di belakangnya mengikuti. BBM itu ibarat lokomotif. Barang- barang kebutuhan pokok adalah gerbong. Pusing....pusing. Ekonomi sudah sulit

Semakin sulit (*)

Penulis: Subakti Sidik, Wartawan Senior|Editor: Arifin BH

Share:

Punya insight tentang peristiwa terkini?

Jadikan tulisan Anda inspirasi untuk yang lain!
Klik disini untuk memulai!

Mulai Menulis
 Kanker Sahabatku
Previous News
Kanker Sahabatku
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.