OPINI (Lentera) Membaca judulnya saja suda ngeri. Apalgi mengalaminya. Pasti lebih ngeri lagi. Nauzubillah.
Penyakit yang banyak membunuh umat manusia ini, memang betul-betul mengerikan. Bukan karena takut mati. Tapi menyiksakan bagi penderitanya.
Meski demikian. Saya berusaha bersahabat dengan penyakit yang sudah setahun bersarang di usus besar saya.
Kanker yang menurut hasil penelitian medis. Umumnya bisa diobati hanya untuk memperpanjang usia. Sampai 5 tahun.
Kanker di saya, terdeteksi karena ada kecurigaan. Lantas lakukan colonoscopy. Hasilnya, usus bawah sudah merah. Pertanda ada kankernya.
Dokter pun menyarankan. Agar segra kemo. Hitung hari, saya pun jalani. Selama 6 kali. Beruntung tidak antre.
Alhamdulillah mendapat kemudahan. Padahal, menggunakan BPJS, katanya, harus antre bermingu-minggu. Bahkan bisa berbulan-bulan.
Harapannya, dengan kemo itu, kanker hilang dari usus saya.
Semua prosedur dilalui dengan penuh suka dan duka. Karena harus diinfus dengan obat keras. Sampai-sampai kuku pun rontok, satu demi satu.
Tapi saya lawan dengan penuh semangat, serta kesabaran. Dan pasrah pada yang Mahakuasa.
Dari 6 kali kemo, yang setiap kali harus bermalam 3 hari di rumah sakit itu. Saya justru delapan kali masuk rumah sakit.
Dua kali merupakan bonus. Sebagai efek samping obat kemo.
Saat kemo memang tidak terasa apa-apa. Tapi setelah pulang, baru merasakan dahsyatnya obat kemo. Dengan berbagai akses yang dirasakan.
Misalnya. Tidak enak makan. Mual, murus, dan banyak lagi efeknya.
Alhamdulillah, meski demikian, saya jalani dengan baik.
Saya katakan demikian. Karena banyak pasien yang tidak mampu bertahan. Dan meminta kepada dokter. Untuk tidak dilanjutkan. Padahal, gratis.
Ada pula yang tidak kuat menahan, hingga mendahului kuta semua.
Berkat kemo tersebut, kanker kian membaik. Namun, berat badan yang semula 73 kg. Sisa 53 kg.
Itulah salah satu tanda orang kena kanker. Kurus. Padahal, makan banyak.
Tak hanya itu. Rambut rontok. Bulu pun hilang. Hingga kelihatan mulus. Akibat kerasnya obat tersebut.
Tapi jangan kecil hati. Sekarang sudah tumbuh kembali. Bahkan dulu putih. Sekarang tumbuh yang hitam.
Soal obat keras itu. Tidak ada pilihan lain. Bila ingin lepas dari serangan penyakit yang mematikan itu. Kecuali harus jalani kemo.
Mungkin tidak ada obat yang keras melebihi obat kanker. Yang efeknya begitu terasa.
Berkat kemo, dari sisi diet berhasil. Perutku yang buncit, jadi rata hingga sekarang. Tangan dan bahu yang kekar, tinggal tulang. Hingga harus rajin olahraga lagi, agar tubuh kembali segar.
Nasehat dokter: "Jangan manjakan diri di atas tempat tidur. Tapi, biasakan bekerja apa yang bisa dilakukan".
Banyak pasien kanker yang tewas, katanya, karena semangat hidupnya yang kurang. Memilih tidur dari pada beraktivitas.
Perbanyak silaturrahim untuk hiburan. Untuk bertemu teman dan saudara.
Selesai kemo, belum berarti lepas dari penderitaan. Masih ada satu tahap lagi yang harus dilalui. Yaitu radioterapi. Di kalangan awam menyebutnya disinar.
Untung mendapat kemudahan dari RSPAL. Tidak perlu tunggu lama. Yang berbulan-bulan.
Harapannya, dengan sinar, penyakit yang diantaranya karena gen itu, lenyap dari tubuhku, yang sudah loyo itu.
Bila pasien lainnya dapat jatah 25 kali sinar. Saya justeru 35 kali. Kenapa? Karena saya tidak menjalani operasi.
CA atau tumor sudah mengecil. Dari nilai rujuan 4,7 saya hanya 00,1.
Meski demikian, kemo harus dijalani. Untuk membakar kanker yang ada di sekitarnya, kata dokter.
Dalam benak. Dengan dibakar 35 kali ini, kanker bakal terbakar benaran.
Dugaan saya itu, tak hanya sekedar halusinasi. Karena di bokong, sebagai pusat penyinaran, kulit sudah terbakar, hingga hitam. Pun terkupas dan perih.
Kalau tidak hitam, kata dokter. Perlu dipertanyakan keberhasilannya.
Belakangan baru saya tahu. Ternyata bukan melenyapkan. Tapi dengan kemo dan sinar, sel kanker bisa tidur. Bahasa medisnya dorman.
Dengan demikian. Saya harus membuat sel kanker itu bisa tidur nyenyak. Dan bisa hidup bersahabat dengan saya.
Caranya, bukan rajin minum obat. Tapi menjaga pola hidup. Makan dan minum harus diatur. Yang tidak boleh dikonsumsi harus dihindari.
Gizi pun harus dipenuhi. Pun istirahat yang cukup. Serta olahraga yang teratur (*)
Penulis: Nazaruddin Ismail, Wartawan Senior|Editor: Arifin BH




.jpg)
