MALANG (Lentera) -Di balik gang sempit yang padat di Kelurahan Sukoharjo, Kecamatan Klojen, Kota Malang, sebuah usaha rumahan opak gambir terus bertahan sejak 2005. Menjelang Lebaran tahun ini, pesanan kian meningkat.
Dari rumah sederhana itulah, Hartiningsih mengelola produksi jajanan tradisional yang telah mempunyai pelanggan tetap, bahkan dipesan hingga puluhan kilogram.
"Usaha ini saya mulai tahun 2005. Sebelumnya saya kerja di restoran, tapi setelah punya anak kecil jadi saya enggak kerja," ujar pemilik produk Opak Gambir MHRS tersebut, ditemui di kediamannya pada Senin (2/3/2026).
Berbekal keinginan untuk tetap produktif dari rumah, ia belajar membuat opak gambir kepada salah satu saudaranya. Dari situ, Hartini mengaku meminjam cetakan untuk berlatih sendiri. Prosesnya tidak instan. Diakuinya hasil pertama produknya tersebut jauh dari sempurna.
"Awal-awal bikin memang tidak langsung bagus. Dari tahap demi tahap saya perbaiki, rasa dan kegurihannya saya perbaiki, sampai akhirnya menjadi pakem sampai sekarang," tuturnya.
Ketekunan tersebut membuahkan hasil. Dari tahun ke tahun, penjualan opak gambir produksinya terbilang stabil dan cenderung meningkat, terutama di momentuk Ramadan menjelang Idul Fitri. Tahun ini saja, ia telah menerima sekitar 15 pemesan selama bulan Ramadan.
Bahkan, Hartini telah memiliki pelanggan tetap yang rutin memesan varian premium dalam jumlah besar. "Ada salah satu pelanggan tetap, setiap pesan itu minta yang premium. Kadang sampai 20 kilogram," katanya.
Menjelang Lebaran 2026 ini, lonjakan pesanan menjadi momentum tersendiri. Hartiningsih membuka layanan pre-order (PO) hingga H-7 Idul Fitri. Sistem tersebut dipilih agar produksi tetap terkontrol, mengingat seluruh proses dikerjakan sendiri dengan bantuan sang suami.
Opak gambir produksinya memiliki beberapa varian rasa. Selain original, tersedia pula tambahan topping seperti wijen, jahe, keningar, hingga cokelat.
Untuk harga, varian original dibanderol Rp110 ribu per kilogram, sedangkan varian premium Rp135 ribu per kilogram. Perbedaan harga tersebut, menurutnya, dipengaruhi penggunaan topping yang lebih banyak, terutama wijen.
Dari sisi ketahanan, opak gambir buatannya dapat bertahan hingga tiga bulan, asalkan disimpan dalam wadah kedap udara dan tertutup rapat. Daya simpan yang cukup lama ini menjadi salah satu alasan produk tersebut diminati sebagai sajian khas Lebaran.
Di tengah maraknya kue-kue modern, Hartini tetap konsisten memproduksi opak gambir. Baginya, jajanan tradisional memiliki keunikan tersendiri, baik dari proses pembuatan maupun cita rasanya.
Reporter: Santi Wahyu|Editor: Arifin BH





.jpg)
