11 February 2026

Get In Touch

HPN-PWI Numpang Rumah Tetangga

Subakti Sidik, Wartawan Senior PWI di Gedung Monumen Pers Nasional Solo
Subakti Sidik, Wartawan Senior PWI di Gedung Monumen Pers Nasional Solo

OPINI (Lentera) -SIAPA yang tak tahu Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Surakarta? 

Wartawan anggota PWI seluruh Indonesia pastilah tahu. Kalo tidak tahu ? Ya.....kebangeten lah. 

Status PWI Surakarta ini cabang. Jadi lengkapnya PWI Cabang Surakarta. Status cabang itu biasanya posisi di ibukota provinsi. 

Tapi Solo  memang unik. Di provinsi ini ada dua cabang. Ada Cabang Jateng. Ada pula cabang Surakarta. Lho, kok dua?  Ya, memang ada dua. Kenapa? Karena Solo memang istimewa. 

Karena keistimewaan PWI Surakarta, maka cabang-cabang PWI seluruh Indonesia seringkali studi banding ke Solo. Sekaligus ingin bernostalgia. 

Melihat kemegahan Gedung Monumen Pers. Gedung yang dulunya bernama : "Societeit Sasana Soeka" hingga kini masih tampak gagah. 

Gedung yang dibangun Mangkunagoro VII tahun 1918 ini adalah saksi sejarah, di mana PWI didirikan pada 9 Februari 1946.Di sinilah, PWI Cabang Surakarta berkantor. Jangan bayangkan, satu gedung, lho. Hanya satu kamar. Berukuran 3 m X 3 m. Kasihan deh loe.......!!!. 

Tinta emas mencatat. Jurnalis  seluruh Indonesia menghadiri acara peresmian PWI ini. Tanggal peresmian, terbentuknya PWI itu selanjutnya pada Zaman Presiden Soeharto diputuskan sebagai Hari Pers Nasional. 

Maka, tidak heran. Hari Pers hubungannya tak dapat dipisahkan dengan PWI. Ingat HPN, pasti ingat PWI.

Tak sedikit wartawan yang hadir dari luar pulau. Nun jauh di sana. Menempuh jarak ribuan kilometer. Apakah naik pesawat ?. Atau bis cepat lewat jalan tol?

Saat itu, Indonesia baru beberapa bulan merdeka, Bro. Mana mungkin perjalanan udara. Jalan tol? Aaah kau.....!!!. Paling banter, jalan makadam lah. Hasil kerja paksa Zaman Daendels.  

Secara de facto, memang Indonesia sudah merdeka. Tapi secara de jure, kompeni masih pegang kuasa di sana-sini.

Sudahlah, yang penting bagaimana caranya, sampe Solo dengan selamat. 

Ya, mereka numpang perahu kayu.Berminggu-minggu mereka karungi samudera luas, bergelombang tinggi. Bayangkan........!!!. 

Untuk keperluan hadir pada acara peresmian berdirinya PWI saja, mereka harus bertaruh nyawa melawan gelombang samudera. Salut Bung.....!!!

Di gedung inilah diumumkan terbentuknya wadah jurnalis Indonesia. Sebuah wadah para insan pers dalam berjuang menghadapi kolonialisme. 

Bukan dengan senjata api atau bambu runcing. Namun dengan sebuah pena.

Terbukti. Pena tak kalah tajam dengan pisau komando atau sangkur. Ini sebuah perjuangan besar. Ini juga bukti, bahwa, insan yang namanya wartawan itu bukan manusia lemah. Bukan pribadi kaleng-kaleng. 
    
Rumah Tetangga

Kini 80 tahun berlalu. Peristiwa bersejarah itu diperingati PWI Cabang Surakarta. Undangan telah disebar. Bertajuk:  "Malam Tirakatan dan Resepsi HPN 2025".  

Acara ini sekaligus mengenang kembali kejadian masa itu. Dengan melihat gedung dan aneka penerbitan zaman doeloe. 

Fikiran kita lalu berlanglang jagad kewartawanan di masa lalu. Ada mesin ketik jadul buatan Amerika dan Belanda. Ada pula gramophone antik, koleksi orang- orang berada masa itu. Asyiiik....!!!.

Tapi maaf kawan. Kali ini tidak bisa begitu. Kita tak bisa masuk ke Monumen Pers. Di situ ada hajadan lain. Lho...?. Gimana sih.....!!!. Bukankah undangan telah tersebar. Dan lokasi di \: Monumen Pers Nasional (MPN).

"Ya, tapi tiba-tiba dibatalkan pihak Monumen," ujar Sekretaris PWI Cabang Surakarta Asep Abdullah. 

Ketua Dewan Kehormatan PWI Surakarta Drs Anjar Hari Wartono mengatakan, telah menghubungi Direktur MPN, Widodo Hastjaryo.

Apa jawabnya ? "Pihaknya mengizinkan untuk acara tirakatan PWI. Tapi wakilnya, sudah telanjur memberi izin pada pihak lain, untuk acara lain", kata Anjar. 

Modar.......!!!. 

Alasan itu kiranya tak masuk akal. Sebab, jauh-jauh hari PWI Surakarta sudah menghubungi MPN. 

Yang terjadi selanjutnya?. Acara digeser ke Rumah Dinas Wawali Surakarta, yang berada di seberang jalan

Ampun Gusti.......!!!. Ini ibarat rumah sendiri disewakan. Hajatan numpang rumah tetangga. Celaka deh......!!!. 

Ketua PWI Surakarta Anas Sahirul memerah wajahnya, ketika sekretaris Asep melaporkan kejadian ini. 

Ia mengatakan, tirakatan ini acara sakral. Baru kali ini tidak diselenggarakan di MPN. 

Ya, iyalah. Bagi pers, ini acara sakral. Anas mendengar, telah lama terjadi ketidaksinkronan antara Direktur MPN dan jajaran di bawahnya. Oh.....begitu to?

Ia juga banyak mendengar keluhan masyarakat terhadap layanan MPN. Ia berjanji, akan menyampaikan hal tersebut pada Dirjen KPM Komdigi yang membawahi MPN (*)

Penulis: Subakti Sidik, Wartawan Senior PWI|Editor: Arifin BH

Share:

Punya insight tentang peristiwa terkini?

Jadikan tulisan Anda inspirasi untuk yang lain!
Klik disini untuk memulai!

Mulai Menulis
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.