SURABAYA (Lentera) -Peristiwa Isra Mi’raj adalah perjalanan mukjizat lintas ruang dan waktu yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW. Di sisi lain, Isra Mi'raj menjadi simbol puncak kedekatan seorang hamba (abd) dengan Sang Khalik.
Secara historis, Isra Mi’raj terjadi pada periode yang disebut Amu al-Huzni (Tahun Kesedihan). Rasulullah baru saja kehilangan dua pendukung utamanya, yakni Siti Khadijah dan Abu Thalib. Dalam situasi psikologis yang penuh tekanan dakwah, Allah SWT "mengundang" hamba-Nya untuk menempuh perjalanan vertikal.
Di tengah hantaman ujian hidup yang bertubi-tubi, Isra Mi’raj menunjukkan bahwa kedekatan hamba dengan Allah adalah muara dari segala keteguhan jiwa. Dalam perspektif M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah, kata "Asra" (memperjalankan di malam hari) dalam QS. Al-Isra [17]: 1 menggunakan bentuk kata kerja yang subjeknya adalah Allah sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa inisiatif kedekatan datang dari Allah untuk menghibur dan menguatkan hamba-Nya yang sedang dirundung duka.
Berikut ini adalah ulasan mengenai kisah isra miraj dan makna kedekatan hamba dengan Allah mengutip studi ilmiah yang merujuk literatur klasik dan modern.
Makna kedekatan hamba dengan Allah dalam peristiwa Isra Mi’raj adalah manifestasi dari derajat penghambaan tertinggi yang membuahkan kemuliaan spiritual. Berdasarkan sumber dokumen penelitian dan referensi otoritatif yang telah diulas, berikut adalah penjelasan lengkap dan komprehensif mengenai makna tersebut:
1. Puncak kemuliaan
Dalam pembukaan kisah Isra Mi’raj pada QS. Al-Isra [17]: 1, Allah menggunakan kata 'Abdihi (hamba-Nya) untuk menyebut Nabi Muhammad SAW: “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya...”.
Penggunaan istilah "hamba" menunjukkan bahwa kedekatan sejati dengan Allah diraih melalui ketundukan dan kepasrahan total. Semakin seseorang merasa rendah dan butuh di hadapan Allah, semakin Allah mengangkat derajatnya ke tempat yang paling dekat.
M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah (Vol. 7) menjelaskan bahwa penyebutan "hamba" dalam ayat ini adalah bentuk penghormatan tertinggi (tasyrif). Kedekatan hamba dengan Pencipta bukan karena jarak fisik, melainkan karena kesucian jiwa dan integritas penghambaan.
Rasulullah SAW diberikan pilihan oleh Allah untuk menjadi "Nabi yang Raja" atau "Nabi yang Hamba". Beliau memilih menjadi Nabi yang Hamba. Meskipun beliau telah mencapai langit ketujuh, beliau tetap bersujud dan merasa kecil di hadapan keagungan Allah.
2. Kedekatan sebagai penawar ujian
Isra Mi’raj terjadi pada 'Amu al-Huzni (Tahun Kesedihan). Kedekatan yang diberikan Allah melalui perjalanan ini bermakna sebagai hiburan spiritual (tasliyah).
Ketika pintu bumi seolah tertutup (penolakan dakwah di Makkah dan Thaif serta wafatnya pelindung Nabi), Allah membuka pintu langit. Ini mengajarkan bahwa hamba yang dekat dengan Allah tidak akan pernah merasa sendirian di tengah ujian berat.
Dalam tinjauan Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi dalam Aisar at-Tafaasir, perjalanan ini membuktikan bahwa Allah selalu menyertai hamba-Nya yang bersabar. Kedekatan ini menjadi energi baru bagi Nabi untuk melanjutkan misi dakwah dengan mental yang lebih kuat.
Tragedi di Tha’if, di mana Nabi Muhammad SAW dilempari batu hingga berdarah dan dihina. Dalam kondisi fisik dan batin yang hancur, Allah "mengundang" beliau melakukan Isra Mi’raj. Ini adalah contoh bahwa ketika dunia menolak kita, Allah membuka pintu langit sebagai bentuk penghiburan khusus.
3. Sidratul Muntaha: Simbol kedekatan A;;ah dengan hambanya
Puncak Mi’raj adalah pencapaian Nabi di Sidratul Muntaha, tempat yang melambangkan batas akhir pengetahuan makhluk dan puncak kedekatan dengan Sang Khalik.
Dalil: QS. An-Najm [53]: 13-18 menggambarkan bagaimana penglihatan Nabi tidak menyimpang dan tetap tenang saat menyaksikan tanda-tanda kebesaran Allah yang paling besar.
Kedekatan ini bersifat personal dan transendental. Mengutip buku Terpesona di Sidratul Muntaha karya Agus Mustofa, momen ini menunjukkan bahwa kapasitas ruhani manusia mampu menjangkau kedekatan yang tidak bisa dicapai oleh logika atau fisik semata.
Bahkan, diriwayatkan Malaikat Jibril saja tak mampu mengikuti Nabi SAW yang mencapai Sidratul Muntaha. Di Sidratul Muntaha, Malaikat Jibril berhenti karena tidak sanggup melampaui batas tersebut.
Namun, Nabi Muhammad SAW diizinkan terus maju sendirian. Hal ini melambangkan bahwa kedekatan spiritual seorang hamba bisa melampaui derajat makhluk mana pun jika didasari kesucian hati.
4. Shalat: Jembatan kedekatan setiap hamba
'Oleh-oleh' utama dari Mi’raj adalah perintah shalat. Shalat disebut sebagai "Mi’rajul Mu’minin" (Mi’rajnya orang-orang beriman).
Jika Nabi Muhammad SAW melakukan Mi’raj secara fisik dan ruhani ke langit, maka umatnya melakukan "Mi’raj spiritual" melalui shalat. Shalat adalah sarana komunikasi langsung tanpa perantara di mana seorang hamba berada pada posisi paling dekat dengan Allah, terutama saat sujud.
Merujuk pandangan ulama, Murnia Suri dan Nurul Izzati (2022) dalam jurnalnya menjelaskan, bahwa shalat yang dilakukan dengan benar akan membangun pondasi tauhid yang kokoh. Kedekatan yang dirasakan dalam shalat akan terpancar dalam perilaku sehari-hari yang jauh dari kemungkaran.
Mengutip Liputan6, seorang Muslim yang merasa stres atau sesak karena masalah pekerjaan, lalu ia mengambil wudhu dan melakukan shalat dengan khusyuk. Saat bersujud, ia merasa tenang seolah-olah "curhat" langsung kepada Allah—inilah Mi’rajul Mu’minin (Mi'raj-nya orang beriman).
5. Kedekatan dengan Allah dalam perilaku
Berdasarkan aplikasi Teori Double Movement dari Fazlur Rahman, seperti dibahas dalam skripsi Mitha Diah Ayu Nur Pratiwi, makna kedekatan ini harus memiliki dampak sosial.
Hamba yang merasa dekat dengan Allah akan memiliki kontrol diri yang kuat. Ia tidak akan mudah goyah oleh pujian manusia atau patah arang karena hinaan, karena fokus utamanya adalah ridha Allah.
Kedekatan spiritual (hablum minallah) harus berbanding lurus dengan kebaikan kepada sesama manusia (hablum minannas). Kedekatan dengan Allah melahirkan sikap sabar, santun, dan teguh dalam menyampaikan kebenaran.
Dalam konteks modern, contoh kasus seorang pendakwah atau individu yang di- bully atau mendapat komentar negatif di media sosial karena menyampaikan kebenaran. Ia memilih untuk tidak membalas dengan kebencian, melainkan dengan kesabaran, meniru bagaimana Nabi Muhammad SAW tetap sabar menghadapi kaum Quraisy setelah pulang dari Mi'raj.
Apa makna spiritual dari Isra Miraj bagi umat Islam?
Peristiwa ini memberikan kesempatan bagi Nabi Muhammad SAW untuk menyaksikan sebagian dari tanda-tanda kebesaran Allah Swt., memperkukuh iman, dan menegaskan kenabian beliau. Dalam makna yang lebih luas, Isra Mi'raj mengajarkan umat Muslim tentang kehormatan Masjidil Aqsa dan keberkahan yang ada di sekitarnya.
Apa kesimpulan dari peristiwa Isra Miraj?
Kesimpulan Isra Mi'raj adalah penguatan keimanan akan kebesaran Allah SWT, keteladanan Nabi Muhammad SAW dalam ketabahan dan ketaatan, serta pemberian perintah salat lima waktu sebagai tiang agama dan sarana mikraj spiritual bagi umat Islam, yang menegaskan kemuliaan Nabi dan kasih sayang Allah. Peristiwa ini juga menunjukkan prinsip kemudahan dalam syariat (Islam itu mudah), serta mempertemukan Nabi dengan nabi-nabi terdahulu sebagai bukti kesinambungan risalah tauhid (*)
Arifin BH, Pemimpin Redaksi




.jpg)
