SURABAYA ( LENTERA ) - Perut buncit kerap muncul akibat kebiasaan makan yang kurang sehat. Dengan rutin mengonsumsi probiotik, kondisi ini dapat dikurangi karena terbukti membantu menjaga pencernaan dan membuat perut tampak lebih rata.
Kondisi buncit tak semata-mata disebabkan oleh pola makan atau olahraga yang kurang. Namun juga bisa dari kondisi saluran pencernaan yang kurang sehat.
Kotoran yang menumpuk hingga lingkungan yang kurang baik untuk mikroorganisme di dalam usus jadi penyebabnya. Salah satu yang bisa mengatasinya ialah dengan mengonsumsi makanan tinggi probiotik.
Asupan probiotik penting untuk menjaga imunitas hingga mencegah lemak menumpuk dengan mudah di area perut. Dilansir dari Cleveland Clinic, ada beberapa sumber probiotik yang disarankan untuk dikonsumsi sehari-hari.
Yogurt
Yogurt merupakan salah satu sumber probiotik paling populer dan mudah ditemukan. Produk ini dihasilkan dari fermentasi susu oleh bakteri baik seperti Lactobacillus dan Bifidobacterium.
Kedua bakteri ini membantu menjaga keseimbangan flora usus serta memperbaiki proses pencernaan. Untuk manfaat maksimal, pilih yogurt plain tanpa tambahan gula berlebih dan pastikan labelnya mencantumkan "live and active cultures".
Manfaatnya pun sangat beragam. Untuk pencernaan bisa melancarkan BAB, mencegah sembelit dan diare, serta membantu penyerapan nutrisi.
Selain itu mampu memperkuat daya tahan tubuh karena bakteri baik membantu melawan patogen. Bagi Tulang menjadi sumber kalsium dan protein baik untuk kesehatan tulang. Selanjutnya, membantu menjaga berat badan sehat dan mengurangi risiko penyakit jantung.
Kefir
Kefir adalah minuman susu fermentasi yang memiliki tekstur lebih cair dibanding yogurt. Keunggulannya terletak pada kandungan probiotiknya yang lebih beragam, bahkan bisa mencapai puluhan jenis bakteri dan ragi baik dalam satu sajian.
Karena keragaman bakteri tersebut, kefir cocok untuk menjaga kesehatan usus dan metabolisme. Pencernaan yang lancar dan minim peradangan berkontribusi pada perut yang terasa lebih ramping dan tidak mudah begah.
Kimchi
Kimchi adalah makanan fermentasi khas Korea yang terbuat dari sayuran seperti kubis, lobak, dan bumbu pedas. Proses fermentasinya menghasilkan bakteri asam laktat yang bermanfaat untuk kesehatan pencernaan.
Selain probiotik, kimchi juga kaya serat yang membantu kerja usus. Kombinasi bakteri baik dan serat ini membantu mempercepat proses pencernaan, mengurangi gas berlebih, dan membuat perut terasa lebih ringan.
Sauerkraut
Sauerkraut merupakan kubis fermentasi yang populer di Eropa. Meski terlihat sederhana, makanan ini memiliki probiotik yang tinggi.
Karena terbuat dari kol segar, tentunya kandungan nutrisi dalam sauerkraut tidak main-main. Apalagi, sauerkraut merupakan makanan fermentasi yang tinggi nutrisi. Dalam 100 gram sauerkraut mengandung 39 kalori dan beragam nutrisi penting lainnya.
Konsumsi sauerkraut secara rutin, walaupun dengan porsi kecil baik untuk menjaga mikrobiota usus. Sehingga tubuh akan mencerna makanan lebih efisien tanpa membuat perut begah.
Sauerkraut juga merupakan salah satu sumber vitamin C, folat, dan zat besi. Ketiga nutrisi ini merupakan nutrisi yang berperan penting dalam produksi sel darah merah. Dengan begitu, sauerkraut termasuk salah satu makanan yang baik untuk mencegah anemia. Vitamin C sendiri turut berperan dalam mengoptimalkan penyerapan zat besi di dalam usus.
Tempe
Sebagai makanan fermentasi khas Indonesia, tempe tidak hanya kaya protein nabati, tetapi juga mengandung probiotik alami. Fermentasi kedelai pada tempe membantu menjaga kesehatan usus.
Tempe juga mengandung serat yang membantu rasa kenyang lebih lama. Efek ini bermanfaat untuk mengontrol porsi makan, menjaga metabolisme tetap stabil, dan secara tidak langsung membuat perut lebih ramping.
Miso
Miso adalah pasta fermentasi asal Jepang yang digunakan dalam sup atau bumbu masakan. Proses fermentasinya menghasilkan bakteri baik yang baik untuk pencernaan.Dalam 1 sendok makan atau setara dengan 17 gram miso terdapat 7,3 gram air dan 34 kalori.
Mengonsumsi miso secara rutin dapat membantu memperbaiki sistem pencernaan. Perut akan terasa lebih nyaman, tidak mudah begah, dan pencernaan bekerja lebih optimal.
Bahkan, sebuah penelitian mengungkapkan bahwa makanan yang mengandung probiotik dapat meningkatkan frekuensi buang air besar dan mengurangi gejala sindrom iritasi usus besar. Dengan begitu, masalah gangguan pencernaan dapat dicegah.
Kombucha
Kombucha merupakan minuman teh fermentasi yang kini semakin populer. Minuman ini mengandung probiotik serta senyawa antioksidan hasil proses fermentasi.
Dihasilkan dari proses fermentasi teh (hitam/hijau), gula, dan ragi/bakteri menggunakan kultur simbiosis yang dikenal sebagai SCOBY (Symbiotic Culture Of Bacteria and Yeast), menghasilkan rasa asam, sedikit manis, dan bersoda alami yang bermanfaat bagi kesehatan pencernaan dan tubuh secara keseluruhan.
Studi dalam Food Microbiology meneliti komponen mikroba dalam minuman ini dan mengidentifikasi “populasi laktobasilus yang menonjol”.
Lactobacillus adalah jenis probiotik yang dapat menstabilkan saluran pencernaan dan membantu mencegah infeksi dan peradangan.
Dengan demikian, minuman kaya probiotik seperti kombucha dapat memperbaiki sindrom iritasi usus besar, penyakit radang usus, kembung, dan sembelit.
Jika dikonsumsi dalam jumlah wajar, kombucha dapat membantu meningkatkan kesehatan usus dan mengurangi gangguan pencernaan. Namun, penting untuk memperhatikan kandungan gulanya agar manfaat yang didapat tetap maksimal.(gus,ist/dya)





.jpg)
