15 January 2026

Get In Touch

Kasus 'Child Grooming' Ramai Dibahas, Psikolog Ubaya Beberkan Tahapan Manipulasi Pelaku

SURABAYA (Lentera)- Kasus child grooming yang belakangan ramai diperbincangkan di media sosial kembali membuka mata publik tentang bahaya manipulasi seksual terhadap anak dan remaja. 

Terkait hal itu, Dosen Fakultas Psikologi Universitas Surabaya (Ubaya), Yuan Yovita Setiawan, M.Psi., Psikolog, mengungkap kejahatan ini dilakukan melalui tahapan sistematis yang dirancang untuk menguasai korban secara psikologis.

Ia menuturkan, child grooming merupakan pendekatan manipulatif yang dilakukan orang dewasa untuk melakukan kejahatan seksual terhadap anak atau remaja di bawah umur demi kepuasan pribadi. Tindakan ini dipandang tidak bermoral karena adanya ketimpangan relasi kuasa antara orang dewasa yang matang dengan anak atau remaja yang masih rentan secara biologis dan psikologis.

Pelaku child grooming umumnya menggunakan Sexual Grooming Model (SGM) yang dikembangkan oleh peneliti Georgia M. Winters dan Elizabeth L. Jeglic. Model ini menggambarkan tahapan manipulasi yang dilakukan pelaku secara bertahap hingga korban sepenuhnya berada dalam kendali.

Pada tahap awal, pelaku akan memilih korban dengan karakteristik tertentu, terutama anak atau remaja yang rentan secara psikologis.

“Biasanya korban merupakan individu yang penurut, kurang mendapatkan pengawasan dan perhatian orang tua, membutuhkan afeksi, memiliki masalah perilaku, atau merasa kesepian,” jelas Yuan, Rabu (14/1/2026).

Setelah menentukan target, pelaku mulai membangun akses dan mengisolasi korban melalui interaksi yang intens. Perlahan, korban dijauhkan dari lingkungan sosialnya. Pelaku kemudian membangun kepercayaan dengan menunjukkan sikap sangat perhatian dan baik, sehingga memperoleh keleluasaan dalam mengontrol korban.

Ketika pelaku merasa telah memegang kendali, korban mulai dibiasakan dengan konten seksual maupun kontak fisik. Dalam fase ini, pelaku memanipulasi cara berpikir korban agar kekerasan seksual dianggap sebagai sesuatu yang wajar dan normal.

"Tahap terakhir adalah pemeliharaan relasi setelah kekerasan terjadi, yang dilakukan melalui pembungkaman. Pelaku dapat memberikan kompensasi atau justru melontarkan ancaman agar korban tetap diam," ucapnya.

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Surabaya (Ubaya), Yuan Yovita Setiawan, M.Psi., Psikolog.
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Surabaya (Ubaya), Yuan Yovita Setiawan, M.Psi., Psikolog.

Dosen yang fokus meneliti tumbuh kembang anak dan adverse childhood experience ini menambahkan, relasi manipulatif semacam ini sangat sulit diputus, terutama ketika telah mencapai tahap akhir. Korban cenderung bergantung sepenuhnya pada pelaku, baik secara emosional maupun psikologis.

“Pelaku sering menggunakan komunikasi manipulatif dengan menanamkan rasa bersalah pada korban. Akibatnya, korban merasa tidak berhak mempertanyakan atau mengkritisi pengalaman buruk yang dialaminya,” ujar Yuan.

Selanjutnya, korban mengalami kebingungan, keraguan, bahkan merasa dirinya salah, namun tidak mampu melawan.

Meski tidak selalu tampak secara kasat mata, Yuan menekankan bahwa pencegahan dapat dilakukan melalui kolaborasi orang tua, sekolah, dan lingkungan sekitar. Orang tua, misalnya, perlu mengajarkan batasan tubuh yang tidak boleh disentuh orang lain serta membangun komunikasi yang terbuka dan empatik dengan anak.

“Yang terpenting, kita harus lebih peduli terhadap anak dan remaja di sekitar kita. Jangan ragu menelisik lebih jauh jika melihat interaksi mencurigakan antara anak atau remaja dengan orang dewasa,” pungkasnya.

Reporter: Amanah|Editor:Arifin BH

 

Share:
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.