SURABAYA (Lentera) -Pembukaan tahun 2026 langsung menyuguhkan atraksi alam memukau bagi para pencinta astronomi. Fenomena Wolf Moon atau Bulan Serigala resmi menyapa penduduk Bumi pada 3-4 Januari 2026.
Istimewanya, purnama perdana tahun ini hadir dengan status Supermoon, sebuah kondisi di mana satelit alami Bumi ini berada pada titik terdekatnya dengan planet kita.
Secara visual, Wolf Moon kali ini akan tampak jauh lebih megah. Ukurannya diperkirakan 6 persen lebih besar dan 13 persen lebih terang dibandingkan purnama pada umumnya.
Jaraknya yang hanya sekitar 362.312 kilometer dari Bumi menjadikannya objek paling dominan di langit malam awal tahun ini.
Mengapa disebut 'Bulan Serigala'?
Nama Wolf Moon bukanlah istilah tanpa sejarah. Penamaan ini berakar dari tradisi suku asli Benua Amerika yang menandai setiap purnama Januari dengan seringnya terdengar lolongan serigala di tengah musim dingin yang ekstrem.
Dulu, masyarakat meyakini serigala melolong karena lapar akibat cuaca buruk. Namun, sains modern meluruskan mitos tersebut. Lolongan serigala di bulan Januari sebenarnya adalah alat komunikasi canggih untuk mengumpulkan kawanan yang terpisah di tengah salju, menandai wilayah teritorial, hingga mengoordinasikan strategi berburu di tengah badai.
Selain Wolf Moon, fenomena ini memiliki banyak julukan lain sesuai budayanya. Suku Assiniboine menyebutnya Center Moon sebagai penanda tengah musim dingin, sementara Suku Cree mengenalnya sebagai Frost Exploding Moon karena suhu dingin yang mampu memecahkan embun beku.
Keunikan Supermoon Januari 2026
Meski secara fase bulan tidak berbeda dengan purnama lainnya, Wolf Moon 2026 menjadi sangat spesial karena faktor orbitnya. Bulan akan tampak 30 persen lebih terang dibandingkan saat berada di titik terjauh (apogee).
Menariknya lagi, fenomena ini merupakan Supermoon terakhir yang bisa kita nikmati sebelum memasuki periode panjang tanpa Supermoon.
Berdasarkan data astronomi, Supermoon berikutnya baru akan muncul kembali pada 24 November 2026, dan puncaknya akan terjadi di bulan Desember 2026 sebagai purnama paling terang sepanjang tahun tersebut.
Momen langka awal tahun
Menutip Inilah, bagi masyarakat Indonesia, fenomena ini bisa dinikmati dengan mata telanjang selama cuaca cerah tanpa gangguan awan mendung. Wolf Moon bukan sekadar peristiwa langit, melainkan perpaduan apik antara nilai budaya, sejarah, dan keajaiban mekanika alam semesta.
Jadikan momen ini sebagai kesempatan untuk mengapresiasi keindahan kosmos sekaligus memahami bagaimana leluhur kita dahulu kala membaca tanda-tanda langit untuk bertahan hidup dan membangun budaya.
Editor: Arifin BH





.jpg)
