04 November 2026

Get In Touch

Pemkot Surabaya Gandeng Remaja Masjid dan Karang Taruna Perangi Narkoba

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi.

SURABAYA (Lentera)- Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memperkuat upaya pencegahan peredaran narkoba dan minuman keras (miras), dengan melibatkan generasi muda, tokoh agama, serta berbagai instansi. 

Selain penindakan hukum, pendekatan pemberdayaan ekonomi dan penguatan nilai keagamaan dinilai penting untuk memutus mata rantai penyalahgunaan narkoba.

Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi mengatakan pemberantasan narkoba tidak cukup hanya mengandalkan penangkapan dan penindakan hukum. Upaya tersebut harus menyentuh akar persoalan melalui pendekatan spiritual, edukasi, serta penguatan ekonomi masyarakat.

Hal itu disampaikan Eri, saat menjadi pembicara utama dalam Seminar dan Deklarasi Antinarkoba yang diselenggarakan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Surabaya di RS Kemenkes, Rabu (4/11/2026).

Menurut Eri, keberadaan masjid dan musala yang tersebar di berbagai wilayah Surabaya seharusnya menjadi kekuatan, dalam membangun lingkungan yang bebas dari narkoba dan miras.

"Masjid dan musala berdiri banyak di Surabaya, tetapi miras dan narkoba juga masih ada. Apalah arti berdirinya masjid kalau kita tidak mampu menghilangkan itu semua? Masjid itu bukan sekadar dibangun, tapi dimakmurkan. Mari bersama-sama kita lawan narkoba dan miras," kata Eri, Rabu (4/11/2026).

Eri menyoroti, peredaran miras yang dinilai dapat menjadi salah satu faktor risiko penyalahgunaan narkotika. Pemkot Surabaya juga telah mengambil tindakan tegas, dengan menutup sejumlah tempat penjualan miras yang tidak memiliki izin.

Ia pun mendorong keterlibatan aktif elemen masyarakat, khususnya Remaja Masjid dan Karang Taruna, untuk berkolaborasi dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Surabaya dalam upaya pencegahan.

Menurutnya, masyarakat tidak boleh bersikap pasif ketika mengetahui adanya aktivitas peredaran narkoba maupun miras di lingkungan sekitar.

"Jangan pernah bermimpi narkoba dan miras hilang kalau kita sendiri diam. Jika warga takut bertindak langsung, segera laporkan ke Pemkot, Polrestabes, atau BNN. Kita punya Satgas Antipremanisme untuk menindaklanjuti," ujarnya.

Dalam upaya memutus rantai peredaran narkoba, Pemkot menyiapkan, pendekatan melalui pemberdayaan ekonomi di kawasan yang dinilai rawan. Salah satunya di kawasan Jalan Kunti, melalui intervensi UMKM dan penguatan aktivitas ekonomi lokal.

Eri berharap, penguatan ekonomi masyarakat dapat mendorong perubahan kondisi lingkungan menjadi lebih positif sekaligus membuka alternatif kegiatan produktif bagi warga.

"Kami memberikan dukungan penuh pada kawasan rawan, seperti Jalan Kunti melalui program intervensi UMKM dan penguatan pergerakan ekonomi lokal agar iklim lingkungan berubah menjadi lebih positif," terangnya.

Di samping itu, Pemkot bersama MUI terus mendorong penanaman akhlakul karimah dan penguatan akidah melalui kegiatan dakwah serta edukasi mengenai dampak buruk narkoba dari perspektif agama.

Pendekatan preventif tersebut tetap diimbangi penindakan terhadap jaringan peredaran gelap narkoba bersama aparat kepolisian.

"Menghilangkan narkoba tidak cukup hanya dengan penangkapan. Harus ada perubahan mindset dan penguatan akhlakul karimah. Ketika masyarakat menyadari bahwa barang tersebut haram dan merusak, dengan sendirinya mereka akan menjauhi," tambah Eri.

Sementara itu, Ketua Umum MUI Kota Surabaya, KH Muhaimin Ali mengatakan pihaknya akan memperluas jangkauan edukasi antinarkoba hingga tingkat akar rumput. Sosialisasi nantinya dilakukan secara lebih merata, dengan membagi sasaran berdasarkan wilayah Surabaya.

"Terkait pencegahan narkoba ini, kami akan meneruskan sosialisasi secara lebih merata per wilayah seperti Surabaya Barat, Timur, Selatan, dan Utara. Setiap wilayah mencakup lima sampai tujuh kecamatan, sehingga daya serap peserta dan imbasnya bisa jauh lebih besar," ujar Muhaimin.

Menurutnya, pendekatan berbasis wilayah akan membuat edukasi lebih terstruktur dan menjangkau masyarakat secara luas. Sosialisasi akan diteruskan dari tingkat wilayah, kecamatan, hingga kelurahan.

Selain penyuluhan tatap muka, MUI Surabaya juga menyiapkan, program edukasi khusus menjelang bulan suci Ramadan. MUI berencana menggandeng Wali Kota Surabaya, BNN Kota Surabaya, dan Polrestabes Surabaya untuk melibatkan para mubalig dan khatib dalam menyampaikan pesan pencegahan narkoba.

Melalui program tersebut, para penceramah akan dibekali panduan materi khusus untuk disampaikan di masjid dan musala se-Surabaya. Materi ceramah maupun kultum tarawih nantinya tidak hanya membahas keutamaan Ramadan, tetapi juga bahaya narkoba dari sudut pandang agama.

"Ramadan adalah momen tertinggi untuk mencegah kemungkaran. Karena itu, para penceramah dan imam tarawih nanti tidak hanya menyampaikan fadhilah Ramadan, tetapi wajib menyisipkan materi pencegahan narkoba. Dengan begitu, ratusan ribu jemaah di seluruh masjid dan musala Surabaya bisa mendapatkan edukasi secara serentak dan sistematis," pungkasnya.

 

Reporter: Amanah/Editor: Ais

Share:
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.