04 November 2026

Get In Touch

PMI Manufaktur Menguat, Wakil Ketua DPRD Surabaya: Buka Peluang Investasi Baru

Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya Arif Fathoni. (Amanah/Lentera)
Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya Arif Fathoni. (Amanah/Lentera)

SURABAYA (Lentera) - Penguatan aktivitas manufaktur nasional diharapkan menjadi peluang bagi Surabaya untuk menarik investasi baru, khususnya di sektor industri pengolahan.

Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya diminta mampu menangkap tren positif tersebut melalui penguatan iklim investasi, sehingga berdampak pada pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.

Harapan itu disampaikan Wakil Ketua DPRD Surabaya Arif Fathoni menyusul kenaikan Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia pada Oktober 2026 menjadi 54,0, dari sebelumnya 52,4 pada September.

"Sebagai pimpinan DPRD, saya mengapresiasi perkembangan positif tersebut. Mudah-mudahan momentum ini bisa dimanfaatkan Surabaya untuk membuka peluang investasi baru dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah," kata Fathoni, Rabu (4/11/2026).

Menurutnya, penguatan aktivitas manufaktur nasional perlu direspons daerah dengan memperkuat sektor-sektor produktif dan menciptakan iklim usaha yang kondusif. Surabaya dinilai memiliki peluang untuk mengambil bagian dalam perkembangan industri tersebut.

Peluang itu cukup relevan mengingat industri pengolahan masih menjadi salah satu penopang perekonomian Surabaya. Berdasarkan publikasi Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Surabaya bertajuk Produk Domestik Regional Bruto Kota Surabaya Menurut Lapangan Usaha 2021–2025, sektor industri pengolahan menyumbang 19,59 persen terhadap PDRB Surabaya pada 2025.

Kontribusi tersebut menempatkan industri pengolahan sebagai sektor terbesar kedua setelah perdagangan besar dan eceran yang mencapai 26,97 persen. Dari sisi pertumbuhan, industri pengolahan mencatat kenaikan sebesar 7,85 persen sepanjang 2025, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi Surabaya secara keseluruhan yang mencapai 5,87 persen.

Sementara itu, data Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Surabaya yang dipublikasikan melalui laman resmi Pemkot Surabaya menunjukkan realisasi investasi hingga semester I 2026 mencapai Rp23,608 triliun. Angka tersebut setara sekitar 53 persen dari target tahunan sebesar Rp44,26 triliun.

Realisasi investasi itu berasal dari 68.840 proyek di berbagai sektor usaha. Menurut Fathoni, capaian tersebut menjadi modal bagi Surabaya untuk terus meningkatkan daya tariknya di mata investor.

Namun, politisi dari Golkar ini mengingatkan, besarnya nilai investasi yang masuk perlu diimbangi dengan kualitas penanaman modal. Investasi semestinya tidak hanya meningkatkan aktivitas usaha, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi perekonomian dan membuka kesempatan kerja bagi masyarakat.

Data Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) Surabaya mencatat sebanyak 5.120 tenaga kerja baru telah ditempatkan hingga Juli 2026. Sementara target penyerapan tenaga kerja sepanjang 2026 mencapai 8.838 orang.

Karena itu, penguatan investasi perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).

"Kebutuhan tenaga kerja industri harus dihubungkan dengan pendidikan vokasi, pelatihan keterampilan, serta peningkatan kompetensi agar masyarakat lokal memiliki kemampuan sesuai kebutuhan dunia usaha," ucapnya.

Selain penyerapan tenaga kerja, Fathoni juga menilai, penguatan industri perlu memberikan ruang lebih besar bagi pelaku usaha lokal. Keterlibatan UMKM dalam rantai pasok perusahaan, penyediaan barang dan jasa pendukung, hingga sektor distribusi dan logistik dapat memperluas manfaat ekonomi dari masuknya investasi.

Di sisi lain, Pemkot Surabaya perlu memastikan, sejumlah faktor pendukung iklim investasi terus diperkuat. Kepastian perizinan, kemudahan berusaha, serta ketersediaan infrastruktur menjadi aspek penting untuk meningkatkan daya saing daerah dalam menarik investor.

Sebagai informasi, berdasarkan laporan S&P Global yang dirilis Senin (2/11/2026), PMI manufaktur Indonesia pada Oktober 2026 mencapai 54,0, meningkat dari 52,4 pada September. Angka tersebut berada di atas ambang batas 50 poin yang menandakan ekspansi aktivitas manufaktur.

Penguatan PMI tersebut, didorong meningkatnya aktivitas produksi dan permintaan baru. Kondisi ini mencerminkan berlanjutnya pertumbuhan sektor manufaktur nasional.

Fathoni menilai, pemerintah pusat melalui Kementerian Perindustrian juga memiliki peran strategis dalam menjaga momentum tersebut, terutama melalui penguatan struktur industri, perluasan investasi, dan peningkatan daya saing manufaktur nasional.

"Ini sekaligus mencerminkan perkembangan positif sektor manufaktur nasional. Di tengah momentum tersebut, Kementerian Perindustrian terus memegang peran strategis dalam mendorong penguatan struktur industri, memperluas investasi, serta meningkatkan daya saing manufaktur Indonesia," ujarnya.

Ia berharap, tren positif manufaktur nasional dapat dimanfaatkan Surabaya untuk memperkuat perekonomian daerah. Upaya menarik investasi baru, menurutnya, harus dibarengi kebijakan yang memastikan manfaatnya dapat dirasakan masyarakat.

"Surabaya harus mampu menangkap momentum positif perkembangan industri nasional dengan memperkuat iklim investasi dan meningkatkan daya saing ekonomi daerah, sehingga semakin banyak investasi yang masuk dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat," tutupnya.

 

Reporter: Amanah/Editor: Ais

Share:
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.