29 October 2026

Get In Touch

Menguak Rahasia Umur Panjang Kura-Kura Tertua di Dunia

Menguak Rahasia Umur Panjang Kura-Kura Tertua di Dunia

SURABAYA ( LENTERA ) - Kura-kura raksasa bernama Jonathan telah hidup selama hampir dua abad. Usianya yang luar biasa panjang menarik perhatian ilmuwan untuk mengungkap mekanisme biologis yang membuat proses penuaannya berlangsung lebih lambat.

Jonathan tiba di Pulau Saint Helena pada 1882. Saat itu, kura-kura Aldabra tersebut diperkirakan telah berusia sekitar 50 tahun. Berdasarkan perkiraan itu, usianya kini mendekati 194 tahun, meski tanggal kelahirannya tidak diketahui secara pasti.
Dokter yang merawatnya, Joe Hollins, meyakini Jonathan mungkin lebih tua daripada perkiraan resmi. Di tengah ketidakpastian tersebut, Jonathan memiliki catatan kehidupan yang membuatnya menjadi subjek penting untuk penelitian umur panjang.

Penelitian yang dipimpin Benjamin Vaisvil bersama koleganya dari Yayasan Kallel diterbitkan dalam jurnal Science Advances pada awal Oktober 2026. Studi berjudul Epigenetic insights into extreme longevity in the world's oldest terrestrial animal, Jonathan itu menelusuri hubungan antara genetika dan proses penuaan.

Membaca Rahasia DNA 

Peneliti tidak dapat mengambil sampel darah Jonathan karena otoritas Saint Helena melarang prosedur tersebut demi menjaga kesehatannya. Sebagai gantinya, tim mengumpulkan sel dan air liur dengan mengusap bagian dalam pipinya.

Proses pengambilan sampel tidak mudah. Dokter Joe Hollins harus menggunakan sarung tangan las tebal, menahan kepala Jonathan, dan mengambil sampel dalam waktu sekitar lima detik sebelum kura-kura itu menggerakkan kakinya. Sampel kemudian dikirim melalui jalur laut karena terbatasnya jadwal penerbangan dari pulau tersebut.

Tim menganalisis genom dan epigenom Jonathan. Genom dapat diibaratkan sebagai buku resep yang memuat instruksi genetis, sedangkan epigenom merupakan catatan yang mengatur kapan dan bagaimana instruksi itu digunakan.

Dari analisis genom, ditemukan 287 variasi genetis unik yang tidak ditemukan pada kura-kura raksasa lain yang menjadi pembanding. Sebanyak 22 variasi mengalami seleksi positif, yang berarti variasi tersebut diduga memberikan keuntungan bagi kelangsungan hidup selama proses evolusi.
Variasi itu berkaitan dengan perbaikan DNA, pengaturan insulin, fungsi mitokondria, serta pemeliharaan telomer. Telomer merupakan bagian pelindung di ujung kromosom yang berperan dalam proses penuaan sel.

Peneliti juga menemukan sejumlah gen yang dimiliki Jonathan dan naked mole rat, hewan pengerat yang dikenal memiliki ketahanan terhadap kanker. Salah satunya adalah HAS2, gen yang berperan dalam produksi asam hialuronat.

Bagian Sel yang Tetap Muda

Temuan penting lainnya berasal dari analisis epigenom. Seiring bertambahnya usia, pola metilasi DNA umumnya menjadi semakin tidak teratur. Fenomena ini dikenal sebagai entropi metilasi dan dapat mencerminkan perubahan dalam pengaturan aktivitas gen.

Namun, penelitian menemukan pola berbeda pada bagian genom Jonathan yang mengatur fungsi mitokondria dan metabolisme RNA. Di wilayah tersebut, tingkat entropi metilasinya relatif rendah, setara dengan kura-kura berusia lima tahun bernama Hatchling yang digunakan sebagai pembanding.

Mitokondria berfungsi menghasilkan energi bagi sel. Ketika organel ini mengalami gangguan, kemampuan sel untuk bekerja dan memperbaiki kerusakan ikut terpengaruh. Disfungsi mitokondria juga dikenal sebagai salah satu ciri utama penuaan.

Justin Gerlach, ahli biologi dari Universitas Cambridge yang terlibat dalam penelitian, menilai Jonathan masih memiliki kendali genetis seperti hewan yang jauh lebih muda.
“Jonathan masih memiliki kendali genetis layaknya hewan yang jauh lebih muda,” ujarnya dalam wawancara dengan NPR.

Menurut Gerlach, Jonathan bukan sekadar lebih tahan terhadap gejala penuaan, tetapi juga mengalami proses penuaan yang lebih lambat.

Bisakah Diterapkan pada Manusia?

Jonathan bukan satu-satunya kura-kura yang membantu ilmuwan mempelajari umur panjang. Penelitian terhadap Lonesome George, kura-kura Galapagos yang mati pada 2012, juga menemukan gen terkait umur panjang, respons imun, dan ketahanan terhadap kanker.

Sebuah ulasan ilmiah yang diterbitkan dalam jurnal BioScience pada 2025 turut menelaah 290 hasil nekropsi dari 64 spesies kura-kura di berbagai kebun binatang. Ulasan tersebut menemukan satu kasus tumor jinak dan tidak menemukan kasus kanker ganas dalam data yang dianalisis.

Penelitian Jonathan juga membuka peluang untuk memahami hubungan antara efisiensi mitokondria dan umur panjang manusia. Stephen Clark, pemimpin penelitian sekaligus pendiri Yayasan Kallel, menyatakan timnya ingin menerjemahkan temuan evolusioner menjadi pengobatan yang terjangkau, termasuk melalui pengembangan obat untuk meningkatkan kesehatan mitokondria.

Meski demikian, hasil penelitian pada satu individu tidak dapat langsung diterapkan kepada manusia. Björn Schumacher, peneliti penuaan dari Universitas Köln, mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam menarik kesimpulan tentang umur panjang.

Penelitian Jonathan pun memiliki keterbatasan teknis. Karena sampel darah tidak tersedia, sekitar lima persen data genetis yang dianalisis berasal dari genom referensi kura-kura berusia 36 tahun bernama Tank yang diproses menggunakan kecerdasan buatan.(far,ist/dya)

Share:
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.