25 October 2026

Get In Touch

Kekeringan Makin Parah, KAUJE Salurkan Air Bersih pada Warga Kedungsigit Trenggalek

Penyaluran bantuan air bersih oleh KAUJE Korda Trenggalek bersama Universitas Jember kepada warga terdampak kekeringan di Desa Kedungsigit, Kecamatan Karangan, Minggu (25/10/2026).
Penyaluran bantuan air bersih oleh KAUJE Korda Trenggalek bersama Universitas Jember kepada warga terdampak kekeringan di Desa Kedungsigit, Kecamatan Karangan, Minggu (25/10/2026).

TRENGGALEK (Lentera) – Kekeringan yang semakin parah di Desa Kedungsigit, Kecamatan Karangan, Kabupaten Trenggalek, membuat warga kesulitan memenuhi kebutuhan air sehari-hari. Sejumlah sumur mengering, sementara sumber air yang masih tersedia harus digunakan secara bergantian. Kondisi ini mendorong Keluarga Alumni Universitas Jember (KAUJE) Koordinator Daerah (Korda) Trenggalek berkolaborasi dengan Universitas Jember menyalurkan bantuan air bersih sebanyak 2 tangki berkapasitas total sekitar 10.000 liter, Minggu (25/10/2026).

Bantuan tersebut merupakan bagian dari kegiatan sosial dalam rangka Dies Natalis ke-62 Universitas Jember. Penyaluran di Trenggalek menjadi bagian dari program serupa yang menjangkau 7 daerah di Jawa Timur, termasuk Tulungagung, Bojonegoro, Magetan, Nganjuk, Kota Pasuruan, dan Kabupaten Pasuruan.

Ketua KAUJE Korda Trenggalek, Mugo Utomo, mengatakan bantuan tersebut diharapkan dapat meringankan beban masyarakat yang terdampak kekeringan. Menurutnya, kolaborasi dengan Universitas Jember juga memperluas jangkauan distribusi air bersih yang sebelumnya dilakukan secara mandiri.

“Melalui kolaborasi ini, kami berharap bantuan air bersih bisa memberikan manfaat bagi masyarakat yang terdampak kekeringan, khususnya di Trenggalek,” ujarnya.

Sebelum bekerja sama dengan Universitas Jember, KAUJE Korda Trenggalek telah menyalurkan 6 tangki air bersih ke sejumlah wilayah, di antaranya Desa Srabah, Kecamatan Bendungan, serta beberapa desa di Kecamatan Panggul.

Untuk program kolaborasi ini, KAUJE menargetkan distribusi sebanyak 8 tangki air bersih di Kabupaten Trenggalek. Setelah Kedungsigit, penyaluran berikutnya dijadwalkan pada Selasa (27/10/2026) di Desa Pringapus, Kecamatan Dongko. Wilayah tersebut menjadi salah satu sasaran karena berada di kawasan pegunungan dengan medan yang cukup sulit dijangkau.

Mugo mengakui permintaan bantuan dari masyarakat masih terus berdatangan. Namun, keterbatasan waktu dan kuota membuat penyaluran belum dapat menjangkau seluruh wilayah yang membutuhkan.

Sementara itu, Warga Desa Kedungsigit, Nurani Soyomukti, mengatakan kekeringan pada 2026 dirasakan lebih parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Dampaknya terutama dirasakan warga di Dukuh Tenggong dan wilayah Jeruk.

“Biasanya masih ada sumur warga yang bisa digunakan bersama. Sekarang sudah kering total, sementara sumur yang masih memiliki air tidak mencukupi sehingga warga harus mengantre sejak setelah subuh,” ungkap Nurani.

Menurutnya, warga telah mengalami kesulitan air selama sekitar 3 bulan. Hujan yang sesekali turun belum banyak membantu karena hanya berupa gerimis. Upaya membuat sumur bor juga belum memberikan hasil maksimal, sebab debit air yang keluar sangat kecil, bahkan ada sumur yang tidak menghasilkan air.

Dalam kondisi tersebut, bantuan dari para donatur menjadi tumpuan warga untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Air yang diterima digunakan untuk memasak, mencuci, dan mandi. Sebagian warga juga memanfaatkannya untuk minum setelah direbus terlebih dahulu.

Keterbatasan pasokan membuat warga harus menghemat penggunaan air, termasuk untuk mandi. Nurani berharap distribusi air bersih dapat berlanjut selama kekeringan masih terjadi, sembari menantikan hujan yang cukup untuk mengisi kembali sumber air warga.

“Kami berharap hujan segera turun dan masih ada bantuan dari teman-teman di luar Desa Kedungsigit, karena kebutuhan air bersih di sini masih sangat besar,” pungkasnya. (*)

 

 

Reporter: Herlambang
Editor: Lutfiyu Handi

Share:
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.