25 October 2026

Get In Touch

Kisah Pemilik Toko di Paris Korban Penjarahan: 10 Tahun Bangun Usaha, Hancur Semalam

Pejalan kaki melintas di jalan yang dipenuhi puing-puing sisa kerusuhan demo Perancis untuk memprotes kenaikan biaya hidup, di Marseille pada Minggu (18/10/2026) -AFP
Pejalan kaki melintas di jalan yang dipenuhi puing-puing sisa kerusuhan demo Perancis untuk memprotes kenaikan biaya hidup, di Marseille pada Minggu (18/10/2026) -AFP

SURABAYA (Lentera) -Gelombang demonstrasi dan kerusuhan yang melanda kawasan Place de la Republique, Paris, Perancis menyisakan duka mendalam bagi Hassan. 

Usaha toko teknologi dan kurir yang dibangunnya selama bertahun-tahun hancur dalam semalam setelah dirusak dan dijarah oleh sekelompok massa.

Pria asal Bangladesh yang bermigrasi ke Perancis pada 2010 ini menyaksikan langsung sisa-sisa kehancuran usahanya. 

Setelah bertahun-tahun bekerja di bidang perhotelan, Hassan mengumpulkan modal hingga mampu membuka toko bersama mitranya pada 2016.

"10 tahun lalu, kami membangun tempat ini secara bertahap, sedikit demi sedikit," ujar Hassan dari balik meja kasirnya yang kini rusak.

"Dulu ini ruang kerja saya, tetapi sekarang tidak ada apa-apa lagi di sana. Saya belum tidur sejak kejadian itu," tuturnya, sebagaimana dilansir Euronews, Rabu (21/10/2026).

Diserang dan ditembus perusuh

Aksi penjarahan tersebut terjadi pada Sabtu (17/10/2026). Hassan mengaku telah mengunci tokonya sejak sore hari mengikuti imbauan otoritas setempat. Namun, beberapa jam kemudian, ia terkejut saat memantau kamera pengawas melalui ponselnya.

"Saya melihat sekitar 30 orang di dalam toko. Saya berpikir, bagaimana ini mungkin terjadi?" kata Hassan.

Ia bergegas menuju lokasi usahanya. Meski sempat ditahan aparat demi alasan keselamatan, polisi akhirnya mengizinkannya mendekat setelah Hassan menunjukkan rekaman CCTV yang memperlihatkan tokonya sedang dihancurkan.

Namun saat tiba, Hassan tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak ada petugas keamanan di titik tersebut.

"Mereka menyerang saya secara fisik dan mengancam memecahkan botol anggur di kepala saya. Saya terpaksa meninggalkan tempat usaha saya," ungkap ayah tiga anak tersebut.

Para perusuh menerobos masuk, termasuk melalui pintu akses di gedung apartemen sebelah. Hassan menyebut massa didominasi oleh anak-anak muda.

"Ada anak laki-laki dan perempuan muda. Beberapa tampak berusia 15 tahun. Arusnya tidak berhenti; begitu satu kelompok selesai mencuri, kelompok baru akan datang," kata Hassan.

Massa menggasak ponsel, perangkat elektronik, hingga paket pengiriman, termasuk merusak ruang penyimpanan di lantai bawah tanah.

Menunggu asuransi dan dukungan komunitas

Lantai toko Hassan kini tertutup pecahan kaca, ponsel rusak, dan bungkus paket yang kosong. Ia belum bisa membersihkan puing-puing tersebut karena harus menunggu proses penilaian dari pihak asuransi.

Di sisi lain, kewajiban membayar sewa, tagihan, dan gaji karyawan tetap berjalan.

Dampak kerusuhan ini juga dirasakan oleh usaha lain di sekitarnya, termasuk supermarket Intermarche yang terpaksa tutup akibat dijarah.

Seorang pekerja kurir lokal prihatin atas kehancuran yang terjadi di kawasan tersebut.

"Kami hanya ingin mencari nafkah dan melakukan pekerjaan kami dengan jujur. Orang lain ingin menghancurkan semuanya," ujarnya.

Ia juga menolak anggapan sejumlah aktivis yang memaklumi penjarahan terhadap perusahaan besar.

"Itu tidak bisa dibenarkan. Sama saja, semuanya hancur," tegasnya.

Di tengah situasi sulit ini, kepedulian warga sekitar mulai mengalir. Seorang warga lokal bernama Noam menggalang dana bantuan untuk membantu pemulihan toko Hassan.

"Kami mengenal Hassan karena dia rutin membantu kami dalam pengiriman dan tugas-tugas lainnya. Dia adalah seseorang yang biasa bekerja bersama kami," kata Noam.

"Kami berusaha membantu sebisa mungkin karena ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan, tetapi kami ingin melewati ini semua dengan semangat kebersamaan," lanjutnya.

Latar belakang kerusuhan dan respons pemerintah

Pemerintah Perancis telah meluncurkan bantuan keuangan darurat dan program bantuan struktural bagi pemilik usaha yang terdampak.

Perdana Menteri Perancis Sebastien Lecornu menyatakan bahwa pelaku usaha yang terdampak kerusuhan dapat mendaftarkan karyawannya ke dalam skema activite partielle, yaitu program dirumahkan yang ditanggung oleh negara.

Aksi kekerasan pada Sabtu lalu merupakan puncaknya demonstrasi siswa SMA yang berlangsung selama empat minggu guna memprotes memburuknya kondisi sekolah di Perancis.

Unjuk rasa yang turut melibatkan serikat buruh dan gerakan yellow vest tersebut awalnya berjalan damai, sebelum akhirnya dinodai aksi penjarahan dan bentrokan dengan aparat.

Sejumlah organisasi hak asasi manusia memprotes penggunaan kekuatan berlebihan oleh polisi, terutama penggunaan pelontar peluru karet (LBD) dan granat kejut yang memicu cedera pada pengunjuk rasa.

Menghadapi rencana demonstrasi susulan pada 24 Oktober, Pemerintah Perancis mulai memberlakukan jam malam di berbagai wilayah, memperketat keamanan, dan mengerahkan pasukan militer untuk mendampingi kepolisian dalam menjaga ketertiban umum (*)

Editor: Arifin BH/Kompas

Share:
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.