Cerita Penumpang KMP Batumandi Ungkap Bunyi Alarm Dikatakan Kepencet dan Dengar Ledakan Kecil
CILEGON (Lentera) – Gina (43) tak menyangka perjalanan penyeberangannya menggunakan Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Batumandi berubah menjadi mencekam.
Kapal yang ditumpanginya terbakar saat hendak sandar di Dermaga VI Pelabuhan Merak, Banten, Selasa (20/10/2026).
Gina menceritakan, kepanikan bermula ketika alarm terdengar dari dalam ruang penumpang menjelang kapal bersandar. Saat itu, ia sempat bertanya kepada petugas atau anak buah kapal (ABK) yang melintas mengenai kondisi kapal.
"Awalnya ada petugas yang lewat, katanya kepencet, tapi enggak lama kemudian keponakan saya lari dari luar dan bilang ada kebakaran," ungkap Gina mengutip Kompas.com, Rabu (21/10/2026).
Tak lama kemudian, kepulan asap hitam tebal terlihat membubung dari bagian belakang kapal.
Suasana di dalam kapal yang semula tenang berubah riuh. Penumpang berlarian mencari jalan keluar, dan berebut mengambil jaket pelampung. Asap yang semakin pekat membuat sejumlah penumpang ketakutan. Anak-anak kecil bahkan sempat menangis karena situasi di dalam kapal semakin mencekam.
Gina mengatakan, kepulan asap sempat mereda setelah sekitar 10 menit. Namun, kondisi kembali menegangkan ketika terdengar ledakan kecil dan asap kembali membubung.
"Awalnya sekitar 10 menit, hampir reda tuh si asapnya. Enggak lama dari itu ada ledakan lagi, udah ngebul lagi. Ledakan ketutup akses halan, (asal ledakan) enggak tahu mungkin dari kendaraan kali," ujarnya.
Di tengah situasi tersebut, penumpang yang berada di dalam kapal diarahkan menuju anjungan atau area tempat kapten berada. Mereka diminta menjauhi sumber asap yang berasal dari bagian belakang kapal.
Sejumlah kendaraan, termasuk mobil pribadi milik penumpang, terpaksa ditinggalkan di dek kendaraan karena api dan asap menghalangi akses untuk menjangkaunya.
Setelah berhasil mencapai anjungan dan dek atas, para penumpang kemudian dievakuasi keluar kapal melalui seluncuran.
Gina mengatakan, proses evakuasi berlangsung dramatis. Para penumpang dipindahkan menggunakan perahu-perahu kecil dan kapal nelayan yang berdatangan ke sekitar lokasi kejadian.
Proses tersebut berlangsung sekitar 15 hingga 30 menit, di tengah cuaca panas dan kepulan asap yang menyengat. Setibanya di daratan, Gina mengaku, bersyukur dirinya dan penumpang lainnya bisa selamat.
Meski kendaraan dan barang bawaan masih tertinggal di dalam kapal, ia memilih mengutamakan keselamatan.
"Alhamdulillah, saat ini yang penting badan selamat, nanti pelan-pelan diurus yang lainnya (kendaraan). Mudah-mudahan ada titik lanjutnya dari semua," tandasnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak berwenang bersama pengelola pelabuhan masih menangani insiden kebakaran dan melakukan pendataan lebih lanjut.
Penumpang loncat ke laut tanpa pelampung
Sementara itu, penumpang KMP Batumandi lainnya, Lita (43) menceritakan pengalaman mencekam, saat dirinya nekat melompat ke laut demi menyelamatkan diri dari kobaran api.
Penumpang yang sedang dalam perjalanan dari Bandar Lampung menuju Serpong, Tangerang Selatan tersebut melompat tanpa sempat mengenakan jaket pelampung saat api kian membesar.
Lita menuturkan, peristiwa itu bermula ketika kapal hendak bersandar di pelabuhan. Sekitar pukul 14.00 WIB, ia berpisah dari suami dan anaknya di ruang penumpang untuk menuju ke area parkir kendaraan di dek bawah.
Namun, setibanya di area parkir kendaraan di dek 2 bagian belakang kapal, ia dikejutkan oleh kepulan asap tebal yang memenuhi ruangan.
Niat Lita untuk kembali ke ruang penumpang guna menyusul keluarga dan bersiap evakuasi pun kandas. Jalur tangga sudah dipadati penumpang lain, yang berdesakan menyelamatkan diri dengan mengenakan jaket keselamatan.
"Saya putuskan lompat karena api sudah membesar sama asap mulai tebal," ujar Lita saat ditemui di Dermaga VI Pelabuhan Merak, Cilegon, Selasa (20/10/2026) mengutip Kompas.com, Rabu (21/10/2026).
Sebelum menceburkan diri, Lita sempat menghubungi suaminya, untuk memberi kabar bahwa ia akan melompat ke laut lebih dahulu.
Situasi di atas kapal saat itu sangat panik karena api sudah menyebar ke kendaraan. Selain melompat ke laut, sebagian penumpang mengevakuasi diri menggunakan jalur darurat seperti perosotan hingga tali tambang.
"Beruntung, di laut saya berhasil meraih pelampung sebelum akhirnya dievakuasi bersama penumpang lain oleh perahu nelayan menuju dermaga," tutur Lita.
Sementara itu, anggota keluarga lainnya berhasil menyelamatkan diri melalui jalur darurat tanpa melompat ke laut.
Kini, Lita dan keluarganya masih bertahan dan menunggu proses pendataan yang dilakukan PT ASDP Indonesia.
"Keluarga sudah dihubungi, tapi semoga tidak trauma karena menyeberang ini jadi rutinitas," imbuhnya.
Editor: Arief Sukaputra





.jpg)
