SURABAYA (Lentera)— Bunga telang tak hanya dimanfaatkan sebagai tanaman hias. Bunga berwarna biru ini juga dapat diolah menjadi pewarna alami pangan, salah satunya untuk membuat puding bermotif mozaik. Potensi tersebut diperkenalkan dua dosen Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS) kepada para guru SLB Harapan Bunda Surabaya melalui pelatihan pengolahan pangan berbasis bahan alami.
Pelatihan yang digelar SLB Harapan Bunda Surabaya, Senin (19/10/2026) itu melibatkan Ir. Tri Rahayuningsih, MA, dan Marina Revitriani, STP., MP., dari Program Studi Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknik UWKS.
Dalam pelatihan tersebut, para guru mempraktikkan pembuatan puding menggunakan ekstrak bunga telang sebagai pewarna alami. Peserta mempelajari tahapan pengolahan mulai dari persiapan bahan, ekstraksi warna, pencampuran adonan, pemanasan, pencetakan, hingga pendinginan. Puding bermotif mozaik dipilih untuk memadukan keterampilan pengolahan pangan dengan kreativitas penyajian.
Bunga telang (Clitoria ternatea) mengandung antosianin, pigmen alami yang menghasilkan warna biru dan dapat berubah mengikuti kondisi keasaman atau pH. Karakteristik tersebut membuat bunga telang berpotensi dimanfaatkan untuk mengembangkan variasi warna pada produk pangan. Penggunaannya dalam puding sekaligus menjadi contoh pemanfaatan bahan yang mudah dijumpai di lingkungan sekitar menjadi produk dengan nilai tambah.
Dekan Fakultas Teknik UWKS,Dr. Ir. Anang Kukuh Adisusilo, S.T., M.T mengapresiasi pelatihan tersebut sebagai bentuk penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat. Menurut dia, perguruan tinggi perlu menghadirkan inovasi yang tidak berhenti di lingkungan akademik, tetapi juga dapat diterapkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
“Ilmu pengetahuan dan teknologi harus mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Pelatihan ini menunjukkan bahwa bahan-bahan sederhana yang tersedia di lingkungan sekitar dapat dikembangkan menjadi produk yang lebih inovatif dan memiliki nilai tambah melalui pengetahuan, keterampilan, dan kreativitas,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan untuk memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat, sekaligus membuka wawasan mengenai peluang kewirausahaan.
Selain memperkenalkan teknik pengolahan pangan, pelatihan ini diharapkan menjadi inspirasi bagi para guru untuk mengembangkan keterampilan produktif di lingkungan sekolah. Pengetahuan yang diperoleh juga dapat menjadi bekal untuk mengeksplorasi produk pangan berbahan alami lainnya, dengan tetap memperhatikan kebersihan proses, keamanan bahan, dan kualitas produk.
Editor: Widyawati/rls





.jpg)
