JAKARTA (Lentera) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, berpotensi mengguyur sejumlah wilayah Indonesia, pada Senin (19/10/2026).
Potensi hujan ini muncul, di tengah musim kemarau yang masih berlangsung di sejumlah daerah. Kondisi tersebut terjadi, saat Indonesia juga menghadapi kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai wilayah.
Pemantauan iklim BMKG pada awal Oktober 2026 menunjukkan, bahwa El Nino masih berlangsung dengan intensitas sangat kuat. Hal ini ditandai, dengan anomali suhu muka laut di wilayah Nino3.4 yang mencapai +3,33 derajat Celsius.
Sementara itu, indeks ENSO tiga bulanan untuk periode Agustus–September–Oktober (ASO) tercatat sebesar +3,08. Pada saat yang sama, indeks Indian Ocean Dipole (IOD) dasarian mencapai +0,703, mendekati indeks bulanan September yang sebesar +0,72.
Kombinasi El Nino sangat kuat dan IOD positif tersebut, cenderung mengurangi potensi pembentukan awan hujan di Indonesia. Akibatnya, sejumlah wilayah berisiko mengalami kondisi yang lebih kering, terutama daerah yang mengalami periode tanpa hujan berkepanjangan.
Kondisi ini juga meningkatkan kerentanan terhadap karhutla. Meski demikian, kondisi iklim tersebut tidak serta-merta membuat seluruh wilayah Indonesia bebas dari hujan.
Dinamika atmosfer masih dapat memicu pertumbuhan awan hujan, yang berpotensi menghasilkan hujan sedang hingga lebat di sejumlah daerah.
"Di sisi lain, pengaruh dinamika atmosfer masih memungkinkan terbentuknya awan hujan yang berpotensi menghasilkan hujan sedang hingga lebat di sebagian wilayah," tulis BMKG dalam keterangannya mengutip Kompas.com, Minggu (18/10/2026).
BMKG menjelaskan, aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby Ekuatorial, Gelombang Kelvin, dan Gelombang Mixed Rossby-Gravity (MRG) turut mendukung peningkatan aktivitas konvektif, terutama di Sumatera bagian utara dan barat serta sebagian Kalimantan.
Potensi pertumbuhan awan hujan juga didukung oleh perlambatan aliran angin di sejumlah wilayah dan suhu permukaan laut, yang relatif hangat di perairan Indonesia bagian barat.
Kondisi tersebut, membantu menyediakan uap air yang dibutuhkan untuk pembentukan awan hujan. Pengaruh dinamika atmosfer ini terlihat dari catatan hujan pada 13–15 Oktober 2026.
Dalam periode tersebut, BMKG mencatat curah hujan harian kategori lebat hingga ekstrem di sejumlah wilayah, antara lain Aceh sebesar 187 milimeter per hari dan Sumatera Utara 95 milimeter per hari.
Data tersebut menunjukkan bahwa hujan dengan intensitas signifikan masih berpotensi terjadi di sebagian wilayah Indonesia, meskipun daerah lain cenderung kering dengan tutupan awan yang minim. Lantas, wilayah mana saja yang berpotensi diguyur hujan sedang hingga lebat pada Senin (19/10/2026)?
Wilayah berpotensi hujan sedang hingga lebat pada 19 Oktober 2026 Berdasarkan prakiraan BMKG, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat berpotensi terjadi di wilayah berikut: Kepulauan Riau, Bengkulu, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Papua Tengah, dan Papua
Sementara itu, hujan lebat hingga sangat lebat berpotensi terjadi di: Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Riau
Demikian daftar wilayah yang berpotensi dilanda hujan sedang hingga lebat, pada Senin (19/10/2026).
BMKG mengimbau, masyarakat untuk mewaspadai potensi hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai dampak hidrometeorologi, seperti genangan, banjir, dan tanah longsor, terutama di wilayah rawan.
Masyarakat juga perlu berhati-hati saat beraktivitas di luar ruangan, khususnya ketika hujan turun dengan intensitas tinggi.
Selain itu, warga diimbau untuk terus memantau informasi dan peringatan dini cuaca dari BMKG, agar dapat mengantisipasi perubahan kondisi cuaca serta menyesuaikan aktivitas sesuai situasi di wilayah masing-masing.
Editor: Arief Sukaputra





.jpg)
