MALANG (Lentera) - Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) mengungkap kronologi 4 orang personel meninggal dan dua personel luka atas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), tepatnya di Pusung Lingker, Kabupaten Probolinggo.
Kepala BB TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha, menyampaikan peristiwa tersebut terjadi ketika petugas bersama personel dari pihak lain berupaya menyekat api agar tidak semakin meluas di kawasan taman nasional.
"Sekitar pukul 13.00 WIB, tiba-tiba kondisi kebakaran disertai angin kencang menyebabkan enam personel terjebak di tengah api yang menyala," ujar Rudi dalam keterangan tertulis, Jumat (16/10/2026).
Dari enam personel yang terjebak, menurutnya, tiga orang ditemukan meninggal dunia di lokasi kejadian sekitar pukul 13.30 WIB. Sementara itu, satu personel lainnya mengalami luka parah dan sempat dievakuasi ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tongas untuk mendapatkan perawatan intensif.
Namun, setelah menjalani perawatan sekitar 3 jam, personel tersebut dinyatakan meninggal dunia. "Adapun dua personel lainnya mengalami luka bakar berat dan dirujuk ke RSUD Dr. Soetomo, Surabaya, untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut," katanya.
Empat korban meninggal dunia tersebut terdiri atas Sukaris, PNS Operator Layanan Operasional pada Seksi Pengelolaan Taman Nasional (PTN) Wilayah I BB TNBTS; Wisnu Yuda Pratama dan Sefriel Ardiansyah, staf PT Mitra Indo Permai (MIP); serta Hendra Rony Wagiyanata, Manggala Agni TNBTS di bawah Kementerian Kehutanan.
Sementara itu, dua personel yang mengalami luka bakar berat masing-masing bernama Munawi dari Masyarakat Peduli Api (MPA) dan Suraji, petugas keamanan PT MIP.
Rudi menjelaskan, rangkaian kejadian bermula pada Selasa (13/10/2026). Saat itu, petugas menerima informasi dari Kepala Desa Ngadas, Kabupaten Probolinggo, sekitar pukul 14.23 WIB mengenai kebakaran ladang milik warga di sekitar Blok Pusung Dawa.
Lokasi kebakaran tersebut berbatasan dengan kawasan TNBTS di Grid A83 dan berada di wilayah Desa Ngadirejo, Kabupaten Probolinggo.
Menindaklanjuti laporan tersebut, petugas TNBTS langsung menuju lokasi dan berkoordinasi dengan pemerintah desa untuk meminta bantuan personel. Sejumlah warga bersama perangkat desa, termasuk Kepala Desa Ngadirejo, turut membantu upaya pemadaman.
Proses pemadaman menghadapi kendala karena lokasi kebakaran jauh dari sumber air dan sulit dijangkau menggunakan mesin penyemprot air. Petugas dan warga pun melakukan pemadaman secara manual dengan menggunakan alat gebyok.
Dalam perkembangannya, api merambat masuk ke kawasan TNBTS hingga mencapai area dengan medan terjal dan sulit dijangkau. Meski demikian, upaya pemadaman berhasil dilakukan pada Rabu (14/10/2026) pukul 11.45 WIB.
Setelah api berhasil dipadamkan, petugas melanjutkan pemantauan hingga malam hari untuk memastikan tidak ada lagi api maupun asap di lokasi tersebut.
Pada Kamis (15/10/2026) sekitar pukul 09.20 WIB, petugas di Posko Karhutla Cemoro Lawang kembali melihat kepulan asap tebal dari lokasi kebakaran sehari sebelumnya.
Empat petugas jaga segera bergerak menuju lokasi untuk melakukan pemadaman. Karena api cukup besar, mereka meminta tambahan personel untuk membantu penanganan kebakaran.
Dukungan kemudian dikerahkan, termasuk petugas dari pemegang Perizinan Berusaha Sarana Wisata Alam (PSWA), PT Mitra Indo Permai, serta anggota Masyarakat Peduli Api.
Tim dibagi menjadi 2 regu yang ditempatkan di sisi kiri dan kanan api. Pembagian tersebut dilakukan untuk menyekat penjalaran api agar tidak semakin meluas ke kawasan Mentigen, Kabupaten Probolinggo.
Namun, sekitar pukul 13.00 WIB, kondisi berubah ketika angin kencang menyertai kebakaran. Enam personel terjebak di tengah kobaran api, sedangkan 5 personel lainnya berhasil menyelamatkan diri karena berada di sisi yang berlawanan dengan arah penjalaran api.
Setelah kondisi api mereda, petugas melakukan pencarian terhadap personel yang terjebak. Tiga orang ditemukan meninggal dunia di lokasi, sedangkan satu personel lainnya ditemukan dalam kondisi luka parah sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia setelah mendapat perawatan di rumah sakit.
Keempat korban meninggal dunia kemudian dievakuasi bersama pihak Polres Probolinggo dan dibawa ke Rumah Sakit Umum Tongas untuk proses visum.
Rudi menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga para korban. BB TNBTS, katanya, akan terus berkoordinasi dengan pihak terkait untuk menangani korban yang masih menjalani perawatan medis. (*)
Reporter: Santi Wahyu
Editor: Lutfiyu Handi





.jpg)
