17 October 2026

Get In Touch

Antrean SPBU Mengular di Kota Malang, Pertamina Duga Konsumen Beralih dari BBM Non Subsidi ke Pertalite

Antrean pembeli BBM jenis Pertalite mengular di SPBU Mergan, Kota Malang, Jumat (16/10/2026). (Santi/Lentera)
Antrean pembeli BBM jenis Pertalite mengular di SPBU Mergan, Kota Malang, Jumat (16/10/2026). (Santi/Lentera)

MALANG (Lentera) - Antrean kendaraan di sejumlah SPBU di Kota Malang mengular, hingga membuat masyarakat harus menghabiskan waktu lebih untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite.

Di tengah kondisi tersebut, Pertamina menyebut pasokan Pertalite di Kota Malang terus dipenuhi. Volume pasokan harian bahkan ditingkatkan dari rata-rata 300-340 kiloliter (kL) menjadi 407 kL per hari.

Sales Area Manager Retail Malang, Angga Yodi Winata Putra mengatakan peningkatan pasokan dilakukan untuk mengantisipasi kenaikan permintaan Pertalite yang mencapai sekitar 7-8 persen.

"Kalau di Malang Kota, stoknya terus kami penuhi. Kami juga terus memantau stok harian di sini. Untuk Kota Malang, kami sudah tingkatkan stoknya menjadi 120 persen. Dari rata-rata 300–340 kL per hari, kami naikkan menjadi 407 kL per hari," ujar Angga, ditemui di SPBU Mergan, Kota Malang, Jumat (16/10/2026).

Menurutnya, peningkatan pasokan tersebut merupakan bagian dari langkah antisipasi terhadap kenaikan kebutuhan BBM di masyarakat. Angga juga memastikan stok Pertalite di Kota Malang dalam kondisi aman.

Terkait kemungkinan kendala distribusi yang menyebabkan antrean panjang, Angga menilai kondisi stok yang aman semestinya tidak menunjukkan adanya hambatan dalam penyaluran BBM. "Kalau ada kendala, pasti tidak akan aman stoknya. Tetapi karena ini stoknya aman, harusnya (distribusi) tidak ada kendala," jelasnya.

Angga menduga, panjangnya antrean di sejumlah SPBU Malang Raya berkaitan dengan pergeseran konsumsi masyarakat dari BBM nonsubsidi ke Pertalite.

Berdasarkan pengamatannya, pompa pengidian SPBU yang melayani BBM nonsubsidi cenderung lebih sepi. Sebaliknya, permintaan Pertalite mengalami peningkatan. Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan perbedaan harga kedua jenis BBM.

"Ada shifting dari konsumen Pertamax yang harganya sekarang hampir Rp 16 ribu ke Pertalite yang harganya Rp 10.000," ungkapnya.

Untuk mengantisipasi kepadatan antrean, Pertamina menyebut telah menyiapkan pengaturan antrean atau marshaling serta meningkatkan pengawasan di SPBU. Langkah tersebut dilakukan untuk membantu menjaga ketertiban pelayanan di tengah meningkatnya permintaan Pertalite.

Angga juga membantah adanya skema yang sengaja dilakukan untuk mengarahkan masyarakat agar beralih membeli Pertamax. Menurutnya, pemilihan jenis BBM sepenuhnya menjadi keputusan konsumen. "Kami tidak pernah memaksa orang untuk beli Pertamax atau memilih produk lain. Itu semua tergantung dari pilihan masyarakat," tegasnya.

Warga Antre di Dua SPBU hingga Lebih dari 2 Jam

Di sisi lain, antrean panjang membuat masyarakat harus menyediakan waktu lebih banyak untuk mengisi BBM. Mitha (38), warga Kecamatan Sukun, Kota Malang, mengaku harus mengantre di dua SPBU berbeda untuk mendapatkan Pertalite.

Ia mengungkapkan, antrean pertama dijalaninya di SPBU kawasan Sukun pada pukul 22.00 hingga 23.30. Setelah itu, dia kembali mengantre di SPBU kawasan Mergan pada pagi harinya, sekitar pukul 08.15 hingga 09.00.

"Kedua saya antre di Pom Bensin Mergan, hampir satu jam juga antreannya, dari 08.15–09.00. Saya berpikir bagaimana dengan orang yang mau beraktivitas kerja, pastinya terganggu sekali," kata Mitha.

Mitha mengaku masih memiliki waktu karena aktivitas kerjanya baru dimulai pada siang hari. Namun, ia membayangkan kondisi tersebut akan lebih menyulitkan masyarakat yang harus bekerja pada pagi hari.

Menurutnya, waktu yang dihabiskan untuk mengantre BBM dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, terutama bagi masyarakat yang mengandalkan kendaraan untuk bekerja.

"Kami berharap sangat kepada pemerintah, baik pusat atau daerah, ada penyelesaian tuntas secepatnya agar aktivitas kami tidak terganggu. Pembelian bensin bisa kembali normal secepatnya, sehingga bagi pekerja online yang sangat membutuhkan tidak terganggu," harapnya.


Reporter: Santi Wahyu/Editor: Ais

Share:
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.