07 October 2026

Get In Touch

Dari Camilan hingga Pewarna, Tren Makanan Serangga Mendunia

Dari Camilan hingga Pewarna, Tren Makanan Serangga Mendunia

SURABAYA ( LENTERA ) - Serangga perlahan mendapat tempat baru dalam dunia kuliner. Jika selama ini konsumsi serangga identik dengan makanan tradisional di sejumlah wilayah Asia, Afrika, dan Amerika Latin, kini bahan yang berasal dari serangga mulai masuk ke industri pangan modern dalam berbagai bentuk.

Salah satunya terlihat pada hot dog ikonik Maine, Amerika Serikat. Produsen W.A. Bean memilih menggunakan karmin atau carmine untuk mempertahankan warna merah pada produk yang dikenal sebagai Maine Red Snapper. Pewarna tersebut berasal dari serangga cochineal yang dikeringkan dan dihaluskan.

Penggunaan karmin sebenarnya bukan fenomena baru. Ekstrak cochineal telah lama digunakan sebagai pewarna alami pada berbagai produk pangan, antara lain yogurt, permen, dan selai. Yang berubah adalah perhatian konsumen terhadap asal bahan pangan serta meningkatnya pencarian industri terhadap bahan alternatif.

Dalam kasus W.A. Bean, karmin digunakan sebagai pengganti Red Dye 3 setelah Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) meminta penghentian penggunaan pewarna tersebut pada makanan dan minuman paling lambat 15 Januari 2027.

Namun, tren serangga sebagai pangan sebenarnya jauh lebih luas daripada sekadar pewarna makanan.

Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) mencatat konsumsi serangga oleh manusia atau entomofagi telah berlangsung selama berabad-abad. Praktik tersebut terutama ditemukan di berbagai wilayah Asia, Afrika, dan Amerika Latin.
FAO memperkirakan serangga menjadi bagian dari pola makan sekitar 2 miliar orang. Dengan kata lain, mengonsumsi serangga bukan semata-mata tren kuliner modern, melainkan praktik pangan yang sudah mengakar dalam berbagai budaya.

Jenisnya pun sangat beragam. FAO mencatat terdapat lebih dari 1.900 spesies serangga yang dapat dimakan. Kelompok yang dikonsumsi antara lain kumbang, ulat dan kepompong ngengat, lebah dan semut, belalang serta jangkrik.

Di sejumlah negara, serangga bahkan diperlakukan sebagai makanan bernilai kuliner, bukan sekadar pangan alternatif. Bentuk penyajiannya dapat berupa serangga utuh yang digoreng atau dipanggang, makanan ringan, hingga bahan yang diolah menjadi tepung dan protein.

Perubahan penting terjadi ketika serangga mulai dipandang bukan hanya sebagai bagian dari tradisi, tetapi juga sebagai salah satu sumber protein alternatif.

Jadi Tepung Protein

Salah satu tantangan terbesar dalam memperkenalkan makanan serangga di negara yang tidak memiliki tradisi entomofagi adalah faktor psikologis.

Melihat bentuk jangkrik, belalang atau ulat secara utuh tentu berbeda dengan mengonsumsi makanan yang bahan serangganya sudah diolah menjadi tepung atau ekstrak.

Karena itu, industri pangan mengembangkan pendekatan yang memungkinkan serangga masuk ke dalam makanan tanpa harus selalu tampil dalam bentuk aslinya. Protein serangga dapat digunakan sebagai bahan dalam produk olahan, sementara ekstraknya dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan industri pangan.

Pendekatan ini membuka kemungkinan munculnya produk seperti makanan ringan berprotein, tepung berbasis serangga, pasta, biskuit hingga berbagai produk pangan olahan.
FAO menyebut serangga memiliki tingkat konversi pakan yang tinggi. Dalam contoh yang diberikan lembaga tersebut, jangkrik membutuhkan pakan jauh lebih sedikit dibandingkan sapi untuk menghasilkan jumlah protein yang sama.

Karakter tersebut membuat budidaya serangga menarik dalam pembicaraan mengenai efisiensi sumber daya dan sistem pangan masa depan.

Asia hingga Eropa

Peta konsumsi serangga juga menunjukkan bahwa makanan berbahan serangga tidak hanya berkembang di satu kawasan.
Di sejumlah negara Asia, serangga sudah menjadi bagian dari kuliner sehari-hari maupun makanan tradisional. Jangkrik, ulat sutra, belalang dan berbagai jenis serangga lainnya dikonsumsi dengan cara yang berbeda-beda.
Di sisi lain, kawasan Barat mulai membangun kerangka regulasi untuk mengakomodasi produk pangan berbasis serangga.

Uni Eropa, misalnya, mengategorikan serangga tertentu sebagai novel food sehingga produk yang menggunakan bahan tersebut harus melalui proses otorisasi sebelum dipasarkan.
Singapura juga membangun sistem regulasi khusus. Sejak 2025, otoritas pangan negara tersebut memiliki daftar spesies serangga yang dapat digunakan sebagai pangan dan menetapkan persyaratan terkait jenis serangga, cara budidaya, bahan pakan serta pengolahannya.

Singapore Food Agency saat ini mencatat 16 spesies serangga yang telah disetujui untuk konsumsi manusia dan pakan hewan. Serangga harus berasal dari lingkungan yang terkontrol dan tidak boleh dipanen sembarangan dari alam untuk kemudian dijual sebagai pangan.
Regulasi tersebut menunjukkan bahwa perkembangan makanan serangga tidak hanya berkaitan dengan inovasi kuliner. Aspek keamanan pangan menjadi bagian penting dari ekspansi industri ini.

Tantangan Keamanan

Serangga memang menawarkan potensi sebagai sumber protein alternatif, tetapi bukan berarti seluruh jenis serangga otomatis aman dikonsumsi.

FAO menempatkan keamanan pangan sebagai salah satu persoalan penting dalam perkembangan sektor tersebut. Risiko dapat berkaitan dengan spesies yang digunakan, lingkungan budidaya, bahan yang diberikan sebagai pakan, proses pengolahan hingga kemungkinan kontaminasi.

Karena itu, budidaya serangga untuk pangan berbeda dengan sekadar menangkap serangga liar kemudian mengolahnya menjadi makanan.
Di Singapura, misalnya, otoritas pangan mensyaratkan budidaya dalam lingkungan terkendali. Bahan yang diberikan kepada serangga juga harus memenuhi ketentuan agar tidak membawa kontaminan ke dalam produk akhir.

Label juga menjadi bagian penting. Produk pangan kemasan yang mengandung serangga atau bahan dari serangga harus mencantumkan sifat sebenarnya dari produk tersebut sehingga konsumen dapat membuat pilihan berdasarkan informasi.

Kasus karmin pada hot dog Maine memperlihatkan satu hal penting,,kehadiran serangga dalam industri pangan tidak selalu berarti konsumen sedang menggigit serangga.
Bahan dari serangga dapat hadir dalam bentuk pewarna, tepung, protein atau bahan hasil ekstraksi lainnya.

Karena itu, perkembangan makanan serangga dapat dilihat dalam dua jalur. Jalur pertama adalah kuliner berbasis entomofagi, ketika serangga memang menjadi bagian utama makanan. Jalur kedua adalah industri pangan yang menggunakan komponen atau ekstrak serangga sebagai bahan tertentu.
Keduanya memiliki sejarah dan tantangan yang berbeda.

Bagi masyarakat yang sudah terbiasa mengonsumsi serangga, makanan tersebut merupakan bagian dari budaya kuliner. Sementara di negara yang tidak memiliki tradisi serupa, pengembangan produk berbahan serangga lebih banyak dikaitkan dengan inovasi pangan, protein alternatif dan efisiensi produksi.

Pada akhirnya, perjalanan serangga menuju meja makan global bukan sekadar persoalan berani atau tidak berani mencicipi jangkrik dan belalang.

Bagi yang ingin mencoba makanan berbahan serangga, keamanan sebaiknya menjadi pertimbangan pertama. Tidak semua serangga aman dimakan, sehingga konsumen sebaiknya tidak sembarangan mengambil serangga dari lingkungan sekitar untuk kemudian diolah menjadi makanan.

Pilih produk dari produsen atau penjual yang jelas dan menggunakan serangga yang memang diperuntukkan sebagai pangan. Serangga yang dibudidayakan untuk konsumsi juga lebih mudah ditelusuri asal-usul serta proses pengolahannya dibandingkan serangga liar.

Pastikan serangga dimasak dengan baik. Pengolahan dengan pemanasan yang memadai dapat membantu mengurangi risiko mikroorganisme penyebab penyakit. Untuk produk olahan seperti tepung atau makanan ringan berbahan serangga, perhatikan pula tanggal kedaluwarsa, kondisi kemasan, dan petunjuk penyimpanannya.

Jangan mengabaikan alergi. Serangga, khususnya kelompok seperti jangkrik dan udang-udangan, dapat memiliki protein yang memicu reaksi alergi pada sebagian orang. Orang yang memiliki alergi terhadap udang, kepiting, lobster atau kelompok crustacea sebaiknya lebih berhati-hati ketika mencoba produk berbahan serangga.

Perhatikan label bahan. Pada produk kemasan, konsumen perlu memastikan jenis serangga atau bahan yang digunakan serta informasi mengenai potensi alergen. Produk dengan bahan serangga yang tidak memiliki informasi asal-usul dan pengolahan yang jelas sebaiknya dihindari.
Yang juga penting, jangan mengonsumsi serangga yang ditangkap sembarangan dari alam. Serangga dapat terpapar pestisida, logam berat, mikroorganisme atau kontaminan lain dari lingkungan tempat hidupnya.(far,ist/dya)
 

Share:
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.